Aksi Teror Terhadap Jemaah Sinagog Di AS

Oleh : very - Senin, 29/04/2019 10:50 WIB

John Earnest (JE, 19th), menembaki para jemaah dan akibatnya menewaskan satu jemaah perempuan dan melukai 3 orang lainnya. (Foto: Tribunnews.com)

Oleh: Muhammad AS Hikam*)

Pada hari Minggu, 28/04/2019) waktu Indonesia atau Sabtu, 27/04/2019 (waktu setempat) dikabarkan telah terjadi aksi teror terhadap jemaah yang sedang beribadah di di Sinagog Chabad di kota Poway, dekat kota San Diego, California, AS. Pelaku aksi teror tersebut, John Earnest (JE, 19th), menembaki para jemaah dan akibatnya menewaskan satu jemaah perempuan dan melukai 3 orang lainnya.

Ini adalah serangan teror kedua selama setahun terakhir terhadap SINAGOG, (tempat ibadah ummat Yahudi), di AS. Sebelumnya, pada 28 Oktober 2018, terjadi aksi teror dengan modus penembakan terhadap jemaah Sinagog L`Simcha di kota Squirrel Hill, dekat Pittsburgh, Pennsylvania, yang  mengakibatkan tewasnya 11 orang jemaah.

Dalam aksi di Poway ini, JE mengklaim mengikuti jejak Brenton Tarrant, teroris yang menulis manifesto dan merekam melalui facebook aksi penembakan yang dilakukan di dua Masjid  di kota Christchurch, Selandia Baru. Korban aksi teror tunggal itu adalah 50 jemaah Muslim tewas. JE juga mengaku meniru atau terinspirasi oleh aksi teror yang terjadi di Pittsburgh tersebut. Kedua pelaku aksi itu mengatasnamakan diri sebagai para pembela perjuangan kelompok Supremasi Kulit Putih (White Supremacist).

Dua kasus teror di Selandia Baru dan di AS ini menjadi bukti bahwa radikalisme dan terorisme tidak hanya monopoli kelompok-kelompok radikal berkedok ideologi agama, tetapi juga ideologi sekuler seperti rasisme, fasisme, nasionalisme ekstrim, dll. Pada dasarnya semua ideologi teror itu memiliki ciri-ciri yang mirip: pengunggulan identitas primordial, anti-asing (xenophobia), eksklusif, intoleran, merasa paling benar, dan anti demokrasi.

Maraknya aksi teros kelompok rasis Kulit Putih dan Nasionalis Ekstrim di Barat terjadi bersamaan dengan muncul dan berkembangnya kelompok ultra kanan yang memenangkan kontestasi politik. Kemenangan Trump di AS, Bolsonaro di Brazil, Guaido di Venezuela, dan juga kemenangan partai-partai ultra nasionalis di Eropa merupakan contoh-contohnya.

Akankah radikalisme dan teror kelompok berideologi sekuler tersebut bertabrakan atau malah berkoalisi dengan kelompok berideologi agama untuk menghancurkan demokrasi di seluruh dunia?

Secara teoretis koalisi itu tampak mustahil, sedangkan tabrakan antara keduanya lebih mungkin. Namun kalaupun kedua kekuatan destruktif berdiri sendiri-sendiri tetapi berjaya dalam aksi-aksi mereka secara terpisah, tetap saja implikasinya terhadap kemanusiaan dan peradaban dunia sama: sebuah kehancuran massif dan total.

NKRI saat ini sedang menghadapi ancaman radikalisme dari kelompok ideologis yang mengatas namakan bela agama. Jangan sampai aksi- aksi teror seperti di Selandia Baru dan AS menjadi alasan dan motif pembenaran mereka melakukan penetrasi dan infiltrasi ideologis di dalam masyarakat maupun penyelenggara negara kita. Jangan pula aksi-aksi teror kelompok Supremasi Kulit putih dijadikan alasan balas dendam sehingga mengabsahkan tindakan sama.

Kita berduka dan berdoa untuk semua korban terorisme di manapun mereka dan apapun latarbelakang agama mereka. Kita juga mengutuk aksi biadab tersebut baik yang dilakukan oleh pihak yang mengatasnamakan ideologi sekuler maupun ideologi agama. Karena sesungguhnya aksi-aksi teror itu adalah musuh bersama, yaitu musuh kemanusiaan dan peradaban.

*) Muhammad AS Hikam adalah mantan Menteri Negera Ristek pada era Presiden Gus Dur dan pengamat politik dari President University.

Artikel Terkait