Nasional

Kemitraan Importir dan Petani Dorong Perluasan Areal Tanam Bawang Putih

Oleh : tirto prima putra - Rabu, 15/05/2019 14:25 WIB

JAKARTA - Pemerintah semakin mantap mencanangkan swasembada bawang putih seperti yang pernah dicapai tahun 1994-1995, dimana saat itu bawang putih asal Indonesia mendapat sebutan white diamond.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi mengatakan untuk mengembalikan kejayaan white diamond, pemerintah dalam hal ini Kementan menggerakkan kembali petani untuk mau menanam bawang putih. Salah satu upaya pemerintah adalah dengan menggandeng importir agar bermitra dengan petani. “Kemitraan antara petani dengan importir saat ini semakin kuat. Tahun lalu ada sekitar 40 importir yang terlibat. Namun yang tidak sesuai aturan kita black list,” demikian kata Suwandi di Jakarta, Rabu (15/5).

Seperti diketahui, Kementan telah mengeluarkan kebijakan bagi importir yang mendapat Rekomendasi Izin Impor Hortikultura (RIPH) untuk ikut membudidayakan bawang putih bermitra dengan petani. Dalam kebijakan itu, importir wajib menanam sejumlah 5 persen dari kuota impor yang diperoleh.

Lebih lanjut Suwandi menuturkan program swasembada bawang putih memang dilakukan secara bertahap. Baik pengembangan melalui dana APBN, kemitraan importir dan petani, maupun swadaya petani. Saat ini luas tanam bawang putih terus meningkat. Jika tahun 2017 hanya di 2 kabupaten yakni Temanggung dan Lombok Timur, maka tahun 2018 area tanam bawang putih sudah mencakup 80 kabupaten. “Rencananya tahun ini akan bertambah di 110 kabupaten dengan target luas areal pertanamannya 20 sampai 30 ribu hektar,” tuturnya.

Dari hasil kajian, potensi lahan untuk pengembangan bawang putih seluas 600 ribu ha. Pada tahun 2017 luas pertanaman bawang putih hanya 1.900 ha. Namun dengan program pemerintah tahun 2018 naik menjadi 11 ribu ha. Dari penanaman seluas 11 ribu ha itu, hasil panennya akan dijadikan benih untuk penanaman seluas 20-30 ribu ha. Tahun 2020 diharapkan ada penanaman 50-60 ribu ha dan tahun 2021 seluas 90-100 ribu ha.

“Bahkan tahun 2019 ini, pemerintah yakin bisa mencapai swasembada benih bawang putih. Dengan keberhasilan itu, tahun ini pemerintah berencana menutup impor benih, karena kebutuhan dalam negeri sudah bisa tercukupi. Apalagi potensi benih bawang putih unggul dalam negeri juga cukup besar,” ungkap Suwandi.

Adapun varietas benih unggul bawang putih lokal diantaranya adalah Sangga Sembalun, Karanganyar, Lumbu Kuning, Lumbu Hijau dan Lumbu Putih. Produktivitasnya rata-rata 8,9 ton per ha. Bahkan di beberapa daerah, seperti Temanggung, ada yang mencapai 16 ton per ha. Di Wonosobo dan Sukabumi mencapai 14 ton per ha.

Di sisi lain Suwandi menegaskan Kementan hingga saat ini sudah melakukan blacklist terhadap 56 importir bawang putih nakal. Selain 41 importir tahun ini, tahun lalu sudah ada 15 importir yang tidak mentaati aturan wajib tanam dan berproduksi 5% dan selalu mempermainkan harga. Mayoritas importir yang di_blacklist_ berdomisili di Jakarta, Surabaya dan Medan. "Dengan demikian, harga bawang putih dan komoditas lainnya ke depan stabil. Petani dan pedagang sama-sama untung serta konsumen menikmati harga pangan yang murah," tuturnya.

Oleh karena itu, Suwandi yakin di tahun 2021 target swasembada bawang putih, baik benih maupun konsumsi dapat diwujudkan. Keyakinan ini didasarkam pada kualitas benih bawang putih lokal yang ditanam di Indonesia tidak jauh berbeda dengan impor, bahkan lebih unggul karena aromanya lebih kuat.

Artikel Terkait