Budaya

Teater Taki Mendi: Catatan Perbudakan Orang Manggarai di Tanah Batavia

Oleh : Rikardo - Senin, 19/08/2019 21:01 WIB

Pementasan Teater Taki Mendi oleh Lingko Ammi yang berupaya mengangkat sebuah catatan kecil tentang kisah-kisah perbudakan di tanah Batavia di zaman kolonial Belanda serta menelusuri jejak sejarah cikal bakal penamaan Manggarai di Jakarta di Anjungan NTT, Sabtu, (17/8/2019), (Foto: Lingko Ami)

Jakarta, INDONEWS.ID - Ada yang berbeda dari Festival Budaya Manggarai Jakarta Tahun ini dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-74 di Anjungan NTT yang berlangsung selama dua hari, 17-18 Agustus 2019.

Pasalnya, tidak hanya tarian caci,ndundu ndake, samba, mbata dan danding serta Fashion Show namun juga sebuah suguhan drama bergenre teatrikal Opera, persembahan dari anak-anak Manggarai Jakarta yang tergabung dalam Komunitas Lingko Ammi (Komunitas Anak Manggarai yang peduli terhadap Seni dan Budaya)

Teater opera yang disutradarai oleh Willy Matrona juga selaku penyusun naskah ini berupaya mengangkat sebuah catatan kecil tentang kisah-kisah perbudakan di tanah Batavia di zaman kolonial serta menelusuri jejak sejarah cikal bakal penamaan Manggarai di Jakarta.

Ciri kisah drama opera ini adalah historis fiksi. Teater ini akan dimulai dengan narasi sejarah Manggarai seorang Sejarahwan. Di dalamnya mengangkat lagu-lagu klasik Manggarai, Sanda, Mabata dan Ninggo yang memiliki unsur tragedy. Lagu-lagu yang mengisahkan pemberontakkan.

Loading...

"Taki mendi" mengisahkan keluarga para budak Manggarai yang dibawa ke Batavia oleh Belanda. Mereka adalah Para budak yang dibawa dari jalur Kerajaan Bima yang saat itu menguasai Tanah Manggarai. Teater ini disesuaikan dengan kisah dalam buku `Asal-usul Nama Tempat di Jakarta` yang ditulis oleh sejarahwan Rachmat Ruchiat.

Dalam buku itu, dijelaskan orang-orang Flores pertama kali menempati wilayah Manggarai sekitar tahun 1770. Bukti yang menguatkan jika nama Manggarai diambil dari nama salah satu daerah di Nusa Tenggara Timur ialah dengan ditemukannya sebuah tarian bernama Lenggo setelah Perang Dunia II oleh seorang ahli etnomusikalogi, Jaap Kunst. Dalam bukunya `Java Jilid II`, Jaap Kunst menyajikan gambar tarian khas tersebut.

Tarian tersebut memiliki nama mirip dengan tarian asal Betawi, Belenggo. Tarian Belenggo dalam salah satu seni budaya Betawi biasanya dimainkan oleh kaum pria. Tarian ini memadukan antara gerakan tarian dan seni pencak silat. Gerakan tariannya lebih banyak menampilkan gerak langkah dan membungkuk. (Tarian tersebut memiliki nama mirip dengan tarian asal Betawi, Belenggo. Tarian Belenggo dalam salah satu seni budaya Betawi biasanya dimainkan oleh kaum pria)

Dalam kisah ini berciri surealis dan berkekuatan pada gestikulasi. Mengisahkan ketakutan dan trauma para Budak. Kisah-kisah perjalanan yang berbulan-bulan mengambang tak pasti di laut lepas. Budak-budak yang dibuang begitu saja di lautan. Mereka yang tersisa akan dibawa ke Batavia entah menjadi selir, Pekerja kebun hingga membuka jalan. Mereka adalah Budak.

Di sisi lain, sebagaimana diri mereka adalah manusia adanya, juga memiliki perasaan, cinta, rasa sepi, amarah dan pemberontakan. Mereka dibawa ke tanah Batavia, meski sebagai budak mereka tidak bisa menyangkal identitas mereka sebagai orang Manggarai.

Pada akhir cerita setelah mereka dijual, mereka mengalami kematian. Kecuali seorang tetua yang meratapi kepergian mereka yang lain. Di titik ini si tetua berdoa pada leluhur (ceki agu wura) agar mendapat berkat kemerdekaan saat sekarang dan akhirat. Ia tetap memiliki kekuatan meski berada di tengah serakan mayat.*(Rikardo)

Artikel Terkait