Bisnis

Rizal Ramli: Konsolidasi Politik Nyaris Selesai, Namun Stagnasi Ekonomi Berlanjut

Oleh : luska - Kamis, 26/10/2017 14:11 WIB

Ekonom Senior Dr. Rizal Ramli bersama Mrs. Ankie Broekers-Knol, President of the Dutch Senate, di Gedung Plenary Hall Senat Belanda, Rabu (25/10/2017). (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID - Ekonom senior Dr Rizal Ramli tampil sebagai keynotes speaker di Gedung Plenary Hall Senat Belanda, Rabu (25/10/2017). Mantan Menko Koordinator Kemaritiman di Kabinet Indonesia Kerja Presiden Joko Widodo ini bicara tentang “Asian Century and Indonesian Maritime Strategy”. 

Inilah kali pertama acara “Indonesian Netherland Society” digelar di Plenary Hall Gedung Senate Belanda.

Rizal Ramli, melalui siaran pers kepada Indonews.id, Kamis (26/10/2017) mengatakan, acara itu dibuka oleh Mrs. Ankie Broekers-Knol, President of the Dutch Senate. Acara kemudian dilanjutkan oleh Duta Besar Indonesia di Negeri Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja.

Sedangkan diskusi dipandu oleh Dr. Willem F. van Eekelen, Mantan Menteri Pertahanan Belanda dan Senator. Presentasi DR Rizal Ramli itu dibahas oleh Prof dr. Frits Blessing dari Universitas Leiden dan M. Michiel van der Mey.

Seperti dalam pembicaraan-pembicaraan sebelumnya, Rizal Ramli -dalam forum ini – juga mengapresiasi kebijakan pembangunan infrastruktur yang menyasar wilayah terluar, terdepan dan tertinggal (3T).  

“Banyak yang bertanya kapan kelesuan ini berakhir. Prestasi Presiden Jokowi dalam bidang inftastruktur luar biasa. Tapi dengan kebijakan pengetatan (austerity), dan makro ekonomi yang sangat konservatif, serta prioritas nomor satu membayar utang, sulit bangkit dalam 2 tahun ini,” ujarnya dalam forum itu.

Rizal Ramli mengatakan, walau mendapat tekanan politik dari berbagai pihak, namun selama tiga tahun pemerintahan, Presiden Jokowi dinilai berhasil melakukan konsolidasi politik.

Sayangnya, keberhasilan di bidang politik ini tidak diikuti oleh bidang ekonomi. Stagnasi ekonomi diperkirakan akan berlanjut.

“Tidak mudah untuk Presiden Jokowi. Walaupun banyak blowback (tekanan balik), tapi konsolidasi politik nyaris selesai. Namun stagnasi ekonomi akan berlanjut. Apakah konservatisme akan dipertahankan, hanya untuk sekadar melindungi status quo penuh vested-interest dan pembawa agenda asing ?” ujar Rizal Ramli.

Rizal Ramli mengatakan, konsep Trisakti dan Nawacita menjadi pertaruhan, karena mewujudkannya bukan perkara mudah.

“Atau akankah membalikkan keadaan, kembali meluruskan dan menegakkan Trisakti dan Nawacita ? Bukan pilihan mudah,” pungkasnya.

Dalam sebuah forum diskusi bertajuk “Rapor Ekonomi 3 Tahun Jokowi-JK”, di Jakarta, Kamis (19/10/2017), Rizal Ramli menilai kerja pemerintahan Joko Widodo selama tiga tahun ini sudah cukup baik dan karena itu patut diacungi jempol.

“Kita harus akui pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintahan Jokowi. Untuk hal ini kita tidak bisa bantah dan harus diapresiasi,” ujarnya.

Hal lain yang patut mendapat apresiasi, kata Rizal Ramli, yaitu terkait paradigma Indonesia-sentris. Jika sebelumnya pembangunan bersifat Jawa-sentris, maka Jokowi mengubahnya menjadi Indonesia-sentris.

"Pindah ke Indonesia-sentris, itu saya angkat tangan, salut. Dia (Jokowi) komitmen terhadap itu," tuturnya.

Rizal Ramli juga mengapresiasi pembuatan sertifikat tanah yang giat dilakukan pemerintah Jokowi. “Yang saya senang juga sertifikat tanah. Itu bagus, perlu ditingkatkan lagi, supaya rakat memiliki hak atas tanah,” katanya.

Rizal Ramli mengatakan, secara umum, pemerintahan Jokowi sudah bagus, tetapi yang dilakukan itu belum cukup. "Secara umum, pemerintahan Pak Jokowi udah oke. Tapi, it`s not enough (belum cukup)," katanya.

Rizal Ramli mengatakan, salah satu persoalan yang dihadapi pemerintahan Jokowi-JK saat ini yaitu besarnya utang. Karena itu, sebagian besar dana digunakan untuk membayar pokok dan bunga utang yang mencapai Rp 500 triliun. Alokasi anggaran selanjutnya digunakan untuk pendidikan sebesar Rp 440 triliun dan anggaran untuk infrastruktur sebesar Rp 409 triliun.

Karena itu, kata Rizal Ramli, strategi yang ditempuh Jokowi untuk membangun infrastruktur di luar Jawa itu sudah tepat. Namun, pemerintah perlu menempuh cara lain ketika membangun infrastruktur di Pulau Jawa.

Selama ini, katanya, pemerintah terlalu fokus pada budget financing. Untuk itu, Rizal Ramli mengusulkan pendanaan berupa non budget financing. “Kami anjurkan lakukan revaluasi aset. Selama ini, walau hanya 16 BUMN yang melakukan revaluasi aset, tapi berhasil menambah hampir 800 triliun, dan pajak saja naik 32 triliun. Itu hanya 16 BUMN. Kalau semua BUMN melakukan itu maka asetnya bisa bertambah menjadi Rp 2500 triliun,” ujarnya.

Rizal mengeritik fokus tim ekonomi yang masih berkutat pada pengetatan anggaran dan pembayaran utang. Karena itu, Rizal Ramli menyarankan Jokowi agar mengambil alternatif non-budget financing, seperti menerapkan strategi growth story.

Sebelumnya, Rizal Ramli pernah mengambil strategi tersebut ketika dirinya masih menjabat sebagai Menteri Koordinator (Menko). "Growth story yang sekarang kagak ada," ujarnya. (Very)

Artikel Terkait