Jakarta INDONEWS.ID - Akibat epidemi virus Covir-19 (Corona) segala sektor akan semakin berdampak, terutama pertumbuhan ekonomi. Karena itu untuk mengatasi hal tersebut Dosen UGM DR M Edhi Purnawan mencoba memaparkan beberapa pandangannya terkait dampak epidemi virus Corona.
Menurut Edhi, masalah berat di bidang kesehatan ini perlu diselesaikan dulu. Soal ekonomi mengikuti berkembangnya atau semakin berakhirnya wabah ini. Jika wabah ini bisa diatasi dengan lebih segera, maka ekonomi will have a resurgence. Kalau lama baru bisa diatasi, maka lebih berat dampaknya kepada perekonomian.
Selain itu, teman-teman ITB Dept Math memperkirakan dengan modelnya, wabah ini akan berakhir akhir april, namun kemudian direvisi menjadi Mei demi melihat lonjakan data. Jadi, jika prediksi ini benar, maka kita perlu berhati-hati dalam sebulan dua bulan ini.
Perlu kita pelajari dengan sangat seksama. Keberhasilan Wuhan mengatasi pandemik ini, adalah pelajaran yang sangat mahal bagi semua. Kalau perlu, Indonesia harus lebih ekstrim dibandingkan itu.
"Menurut saya For any extreme case, we need more extreme action. Kita benar-benar harus all-out, total foot ball untuk melawan pandemi ini, in every level of our human life, karena taruhannya adalah Nyawa!," ujarnya
Kebijakan moneter dan fiskal tak akan pernah menyembuhkan akar permasalahan kali ini. Kebijakan-kebijakan ekonomi kali ini sifatnya lebih seperti semacam panadol, menghilangkan rasa sakit, tapi belum menyembuhkan. Karena itu, masalahnya harus selesaikan secepat-cepatnya.
Kalau melihat perkembangan dunia, misalnya US, dan global economy terakhir, Edhi melihat bahwa, dengan kebijakan ekonomi mereka berusaha merespon dan meredam dampak ekonomi dari wabah ini. The Fed ketika bbrp waktu yang lalu memangkas FFR (the Federal Fund Rate) dari 1-1.25% menjadi 0-0.25% malah ternyata dianggap oleh para investors sebagai ketidakmampuan US untuk melawan Covid19. Dengan sentimen bahkan di US seperti saat ini maka investor institusi (asing) yang naruh uangnya di Indonesia menjadi lebih sensitif terhadap mata uang di LN termasuk Rupiah, dan tentu saja aset finansialnya di Bursa di LN, termasuk Indonesia. Karena itu, kita mendapat dampak negatif yang sangat besar pada Rp/USD dan tembus Rp 16.000/USD (untuk Rupiah) dan IHSG turun (sempat tembus) di bawah 4000.
Bahkan, Jay Powell Gunernur The Fed ini juga menyampaikan kekhawatiran yang tinggi soal semakin meningkatnya mereka yang terjangkit Covid19. Karena itu, indikator tutupnya sekolah, pemerintahan, pasar, bisnis, dan lain-lain di semua level menunjukkan kondisi yang dipersepsikan oleh The Fed sebagai upaya untuk sementara memproteksi diri. Ini juga buruk dan langsung dampaknya kepada perekonomian. Karena itu kebijakan ekonomi termasuk di dalamnya Kebijakan Moneter dan fiskal diarahkan untuk fokus membantu masalah kesehatan dan merespons “hardships” kepada perekonomian semaksimalnya.
Kebijakan ekonomi beberapa negara besar seperti US, China, dan Europe diarahkan untuk membuat disrupsi bidang ekonomi tidak terlalu berlebihan, dengan kebijakan yang ekstrim, namun akan kembali normal jikalau masalah ini sudah mulai membaik. ECB (European Central Bank) via Bu Christine Lagarde (mantan Managing Director IMF) barusaja merespons masalah wabah dunia yang menyebabkan terjerembabnya ekonomi Eropa dengan melaunching Surat Utang sebesar 750 billion Euros dalam rapat tanggap darurat Rabu malem dan menurunkan bunga sampai negatif. Mereka berusaha untuk “bid to stop” dampak ekonomi dari pandemi ini yang telah melemahkan perekonomian Eropa dan bahkan melemahkan keberlangsungan Blok European Union ini.
ECB melihat bahwa pandemi wabah ini telah mengunci kegiatan ekonomi di sebagian besar wilayah Eropa, sehingga pasar melemah kuat. Dan ternyata dengan kebijakan-kebijakan ekonomi ini, pasar finansial di Eropa masih memprihatinkan dan bahkan berada di ujung tanduk, seiring dengan pandangan ECB bahwa resesi yang berada di depan mata ini akan membahayakan keutuhan European Zone.
Secara demikian, Edhi berpendapat, solusinya adalah “for extraordinary time require extraordinary action”. Pemerintah dan KSSK perlu siap dengan full-potensialnya untuk mereduksi dampak kesehatan terhadap perekonomian dengan segala macam alat yang dimiliki.
" Kita berkejaran dengan waktu, dan kita harus lebih baik daripada bangsa lain merespon hal ini, agar minimal lebih dipercaya drpd bangsa lain sehingga investasi tidak terus-menerus out-flow," ujarnya.
Selain itu, Tim Ekonomi Indonesia harus fokus pada beberapa hal saja saat ini:
(1) Bagaimana pengeluaran Bidang Kesehatan bisa dibiayai secara maksimal untuk fight maksimal Covid19.
(2) Bagaimana kebutuhan dasar harus dipenuhi untuk menjamin masa sangat sulit ini sampai bisa terlewati dengan baik.
(3) Selamatkan mereka yang sangat memerlukan uluran tangan (miskin dan fakir) dengan bantuan tunia yang cukup, untuk mengganti pendapatan mereka yang hilang karena orang sudah takut pergi ke pasar. Apalagi jika angkanya tak terkendali spt di Italy.
Dalam situasi yang seperti saat ini, kata Edhi, seorang ledear sangat perlu berpikir superkeras dan bertindak sangat keras bahwa masalah yang dihadapi (dan akan segera berkembang ini) akan jauh lebih buruk daripada data yang bisa disajikan, karena keterbatasan data dan teknologi yang dimiliki sangat besar. Karena itu seluruh masyarakat harus bersama-sama bahu-membahu bersama pemerintah untuk mengatasi wabah ini dengan sebaik-baiknya. (Penulis Dosen UGM DR Muhammad Edhi Purnawan)