Gaya Hidup

"Ratapan Satar Punda," Puisi Gerard N Bibang

Oleh : Rikardo - Minggu, 10/05/2020 20:15 WIB

Tambang di Sirise, Manggarai (Sumber gambar: Floresa.co)

Puisi-puisi Gerard N Bibang*)

"Ratapan Satar Punda"

Tidak, tidak, Leo Kristi tidak sedang nyinyir
rahim bumi manggarai timur, nusa bunga itu, sedang perih
menetes darah melumuri punggung anak-anak desa Satar Punda
meratapi ibu bumi yang sebentar lagi bukan mereka punya

Tidak, tidak, Leo Kristi tidak sedang narsis
ia berkata apa adanya, bukan karena ada apa-nya

“Kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku
Katakan padanya padi-padi telah kembang
Ani-ani seluas padang, roda giling berputar-putar siang malam
Tapi bukan kami punya
Kalau ke kota esok pagi, sampaikan salam rinduku
Katakan padanya, tebu-tebu telah kembang
Putih-putih seluas padang, roda lori berputar-putar siang malam
Tapi bukan kami punya
Anak-anak kini telah pandai, menyanyikan gema merdeka
Nyanyi-nyanyi bersama-sama, di tanah-tanah gunung
Anak-anak kini telah pandai, menyanyikan gema merdeka
Nyanyi-nyanyi bersama-sama:
Tapi bukan kami punya
Tanah pusaka, tanah yang kaya, tumpah darahku
Di sana kuberdiri, di sana kumengabdi
Dan mati, dalam cinta yang suci”

Sekarang-sekarang ini anak-anak Satar Punda menyanyikan “tapi bukan kami punya”
bukan hanya hamparan tanah di Luwuk dan Lingko Lolok, Lamba Leda
bukan hanya kekayaan bumi dan laut Flores sebelah utara dan hutan berjuta warna
bukan hanya hak-hak pengambilan keputusan atas nasib di atas tanah kelahiran mereka

Ah, jangan-jangan diri mereka sendiri sudah bukan mereka punya
ialah harga diri kemanusiaan mereka
ialah masa kini dan masa depan anak cucu mereka
semakin terkikis oleh batu mangan
dan bukan mereka punya

Tidak, tidak, Leo Kristi tidak nyinyir
ia tidak sendiri
bersama Chairil Anwar, bathinnya berguman:
“kami cuma tulang-tulang berserakan...”

"Daun Jatuh"

Plak-plak-plak daun itu jatuh
hanyut dalam kesunyian metropolitan yang bisu
ia memang kering tapi mengapa jatuh sekasar itu
jangan-jangan dahannya telah dirasuki pikiran Franky Sahilatua
tatkala menyenandungkan indahnya tanah air namun langkahnya terhalang:

“Kepada angin dan burung-burung
Matahari bernyanyi
Tentang daun dan embun jatuh
Sebelum langit terbuka
Apakah angin tetap bertiup
Bersama jatuhnya daun
Apakah burung akan tetap terbang
Di langit yang terbuka”

Siapa atau apa daun yang jatuh itu?
apakah langit yang terbuka itu adalah tentang gilasan global yang meneteskan wabah
tentang kekeringan cinta manusia kepada sesama ciptaannya di bumi
tentang ketersingkiran manusia oleh kapitalisme global
tentang terjajahnya cinta sejati oleh hedonisme dan nikmat ragawi
tentang termarjinalisasikannya nasionalisme dan patriotisme oleh iblis yang menyamar globalisasi

Jauh-jau hari Umbu Landu Paranggi dari nun jauh pulau Sabana sudah wanti-wanti
memanggil-manggil setiap hati nurani: “pulanglah ke desa, kembali ke huma, sebelum siang digilas kehancuran”

akankah daun kering itu berwarta tentang kehancuran itu
tentang generasi ini yang tidak punya pengalaman huma karena mereka dibesarkan di perumahan
yang tak mengerti beda antara “home” dengan “house”
yang tak merasakan jarak antara hakekat desa dengan kota
yang terlalu banyak membaca WhatsApp sehingga tidak membedakan keluarga dengan rumah tangga, antara negara dengan pemerintah, antara ekonomi dengan kesejahteraan, antara agama dengan cinta
yang menyangka dengan mendapatkan dunia akan dengan sendirinya mendapatkan surga.

"Amat Sendiri"

Tanpa dipaksa-paksa menyendiri, sunyi
hidup ini memang sendiri
di perut ibu, sendiri
dalam kuburan yang sendiri
menanggung dosa dan pahala juga sendiri

Yang ramai-ramai adalah yang tampak
di rumah atau di mana saja
tapi sejatinya masing-masing tinggal dalam dirinya sendiri
dalamnya hati siapa yang tahu
bersama-sama itu banyak kali semu

Hidup ini sendiri
amat sendiri
baru diyakini berdua atau bersama
jikalau hasil penyatuan cintanya ialah satu
maka bersama atau bersendiri bukan perkara yang merisau

***(gnb:tmn aries:jkt:minggu:10.5.20:pekan ketiga psbb jkt) 

*) Gerard N Bibang adalah dosen sekaligus penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menahbiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta.

Loading...

Artikel Terkait