Nasional

Demam Berdarah Menjadi Ancaman di Tengah Covid-19, Masyarakat Diminta Waspada

Oleh : Marsi Edon - Sabtu, 04/07/2020 08:01 WIB

Tim Komunikasi Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan Covid-19, Dokter Reisa Broto Asmoro.(Foto:Istimewa)

Jakarta,INDONEWS.ID - Meningkatnya kasus demam berdarah dengue (DBD) di tengah pandemi Covid-19, menjadi catatan tersendiri bagi pemerintah. Hingga saat ini, Kementerian Kesehatan mencatat jumlah kasus DBD mencapai lebih dari 700 ribu kasus.

Pemerintah melalui gugus tugas nasional, meminta masyarakat waspada dengan ancaman DBD dengan melakukan berbagai macam upaya pencegahan dini. Dengan demikian, masyarakat terhindar dari serangan penyakit DBD yang cukup mematikan.

"Di tengah pandemi Covid-19, kita juga harus menekan angka kesakitan DBD. Kita harus tetap bergerak, memantau nyamuk baik secara mandiri, bersama-sama, maupun bekerja sama dengan pemerintah," kata Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional dr. Reisa Broto Asmoro saat konferensi pers di Media Center Gugus Tugas Nasional, Jakarta,Jumat (3/07/2020) kemarin.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh masyarakat mencegah DBD, kata dokter Reisa, membersihkan lingkungan dan rumah secara rutin. Lingkungan yang bersih dapat menjadi alat pencegah berkembangnya nyamuk penyebab DBD.

"Sekarang kita mulai produktif kembali, maka, mari perhatikan saluran air, tempat nyamuk bertelur, dan tempat-tempat dengan reservoir air," ungkapnya.

Lebih lanjut Reisa menjelaskan, nyamuk aedes aegypti, penyebab demam berdarah, lebih senang bersarang di air yang bersih yang dibiarkan tergenang. Karenanya, penting membersihkan tempat penampungan air dan wabah yang biasanya diisi air, agar tidak menjadi sarang bagi nyamuk.

Saat ini, kata dokter Reisa, masyarakat perlu membiasakan kebiasaan baru. Karena, selain ada pandemi Covid-19, masih ada juga DBD yang menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat.

"Nah, kebiasaan baru yang mengharuskan kita untuk membersihkan diri setelah sampai di rumah, sekaligus memastikan pakaian yang kita pakai setelah aktivitas langsung dicuci. Sejalan dengan pesan pemerintah untuk memberantas Covid-19, sekaligus dapat mencegah DBD," jelasnya.

Dokter Reisa kembali mengingatkan, puncak kasus DBD biasa terjadi menjelang pertengahan tahun seperti sekarang ini.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyatakan, wilayah dengan banyak kasus DBD merupakan wilayah dengan kasus Covid-19 yang tinggi seperti Jawa Barat, Lampung, NTT, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta dan Sulawesi Selatan.

"Fenomena ini memungkinkan seseorang yang terinfeksi Covid-19, juga beresiko terinfeksi DBD. Pada prinsipnya sama, pada prinsipnya, upaya untuk mencegahnya adalah menghindari infeksi, dan untuk DBD, gigitan nyamuk,” ujarnya.

Karena itu,ia meminta masyarakat untuk bersama-sama membasmi DBD dan terus melawan pandemi Covid-19.

"Mari lindungi diri kita, lindungi keluarga, mulai dari rumah untuk melawan Covid-19 dan mencegah DBD. Tetap sehat, tetap semangat," pungkasnya.*

 

Loading...

Artikel Terkait