Nasional

Ini Cerita Perkenalan Jokowi dan Rizal Ramli Hingga Ditunjuk Jadi Menko Kemaritiman

Oleh : very - Sabtu, 24/10/2020 22:20 WIB

Keterangan Foto: Prof Akihiko Tanaka (Universitas Tokyo) juga anggota Dewan Pertimbangan PBB sejak 2011 bersama Dr. Rizal Ramli. Akihiko Tanaka adalah Presiden National Graduate Institute for Policy Studies (GRIPS). Ia menjabat sebagai Presiden Japan International Cooperation Agency (JICA) sejak April 2012 hingga September 2015. Pada 2013 RR bertemu dengan Prof Tanaka dalam kapasitas sebagai Presiden JICA untuk membahas proyek MRT Jakarta. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID – Ekonom senior Rizal Ramli membeberkan cerita perkenalan dirinya dengan Joko Widodo beberapa waktu silam. Kata Rizal Ramli, saat itu Joko Widodo (Jokowi) masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Waktu itu, kata Rizal Ramli, Jokowi tiba-tiba datang ke kantornya untuk meminta tolong. Ketika itu, Rizal Ramli diminta membantu Jokowi menyelesaikan proyek MRT yang sudah lama tak jalan.

“Mas Rizal aku betul-betul ingin proyek MRT ini jalan, tapi enggak jalan-jalan karena kemahalan. Saya sudah ganti direksinya buat nurunin biaya, enggak jalan juga. Sepertinya harus negosiasi sama Jepangnya langsung. Saya enggak punya hubungan di luar negeri, minta tolong Mas Rizal,” begitu ungkapan Jokowi kepada Rizal Ramli waktu itu.

Seperti dilansir Hops.id, jaringan Suara.com, Jokowi meminta tolong Rizal Ramli yang ketika itu menjabat sebagai penasihat ekonomi Persatuan Bangsa-bangsa (PBB).

Seminggu usai Jokowi meminta tolong, Rizal Ramli lalu bertemu dengan bos MRT di Tokyo, Jepang. Dalam pertemuan itu, Rizal meminta agar dilakukan renegosiasi di Jakarta, agar proyek itu tetap bisa jalan kembali.

“Akhirnya proyek itu jalan,” kata Rizal Ramli seperti dikutip dari Karni Ilyas Club dalam saluran Youtube-nya, Sabtu (24/10/2020).

Seusai proyek itu jalan, Jokowi, kata Rizal Ramli, kemudian mengutus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok untuk menemuinya di kantor. Ketika itu, mereka ingin agar Rizal Ramli menjadi Komisaris Utama MRT.

“Saya enggak nyari kerjaan, gue sibuk. Kalau Jokowi perlu gue, perlu gue cariin solusi, enggak apa-apa, network kita banyak,” kata Rizal Ramli yang kemudian menolak tawaran tersebut ke Ahok.

Akhirnya, setelah menjadi Presiden, Jokowi menginginkan agar Rizal masuk dalam kabinetnya.

Keinginan Jokowi saat itu yaitu agar mantan Menko Perekonomian itu memegang kendali ekonomi. Namun sayang, wakil Presden Jusuf Kalla ketika itu menolaknya. Hal yang sama juga dilakukan oleh JK ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memintanya untuk menduduki jabatan di kabinet.

“Pada waktu SBY juga sama, bahkan pada waktu SBY, dia sudah tanda tangan bahkan. Rizal Ramli Menko, diganjal sama JK, habis itu SBY pertahankan jadi Menteri Keuangan, dia enggak setuju lagi. Akhirnya dia minta Rizal Ramli jadi Menteri BUMN. Dia enggak setuju lagi.”

“Last minutes saya ditunjuk jadi Menteri Perindustrian di kabinet pertama SBY. Saya nolak, karena itu bukan keunggulan kita,” katanya.

Hal yang sama terjadi waktu era Jokowi. JK terang-terangan selalu menentang kehadiran Rizal Ramli di kabinet.

“Waktu di Jokowi, dia minta saya jadi Menko Perekonomian, Pak JK enggak setuju,” ujarnya.

Sampai pada suatu hari, setahun kemudian, Rizal Ramli mengaku dipanggil presiden ke Istana Bogor. Ketika itu, Jokowi sampai bilang di Istana tak ada kopi, makanan, lantaran sudah menyuruh banyak pesuruh untuk keluar, agar kedatangan Rizal tak bocor.

Waktu itu dia bilang agar Rizal mau membantunya sebagai Menko Maritim. Ketika itu, Rizal menolak, dan bilang terima kasih.

“Itu bukan bidang keunggulan saya. Saya ada daftar nama nih buat ini. Enggak-enggak, saya maunya Mas Rizal, karena Mas Rizal orangnya berani, yang kedua, ngerti masalah. Kalau cuma modal berani saja, ya preman. Kalau ngerti masalah tak ada keberanian, enggak ada perubahan. Jadi saya mau Mas Rizal,” ujarnya.

Berkali-kali Rizal menolaknya. Dia bilang kepada Jokowi, silakan menghubunginya kembali jika ada masalah apapun, dia akan siap membantunya.

Akhirnya Jokowi dengan gaya khas Jawa menunjukkan kerendahan hatinya pada Rizal.

“Mas Rizal, yang minta tolong sebenarnya bukan saya, tapi yang minta tolong rakyat Indonesia yang kepengin hidupnya lebih baik. Mendengar itu saya lemes. Akhirnya saya bilang saya ambil hikmahnya, tapi dengan satu permintaan, enggak lapor-lapor ke Pak JK. Dan dikabulkan.”

Saat itu, banyak hal yang dilakukan. Namun pada akhirnya dia dipanggil untuk diganti karena Istana bilang sedang membutuhkan reorganisasi.

“Ada orang yang terganggu dengan adanya saya. Dulu JK sangat dominan di tiap sidang kabinet, begitu ada saya bubar. Karena Pak Jokowi lebih dengar saya,” katanya. (Very)

Loading...

Artikel Terkait