Opini

Dont Cry For Me Nusantara

Oleh : luska - Jum'at, 27/11/2020 06:55 WIB

Oleh : Christianto Wibisono

Hari Rabu 26 November 2020, Bung Karno merekam video Madonna menyanyikan lagu Don’t Cry for me 
Argentina yang diciptaja 1977 mengenang wafatnya tiktatr Juan Domingo Peronyang 3 kali terpilih jadi 
Presiden Argentina, dengan 18 tahun suaka politik 1955-1973 diluar Argentina. 

Baca juga : Misteri Gagarin

BK : Bung Christ, kalau kita baca Riwayat Argentina dan Peron dan Maradonna maupun Madonna (lahir 
16 Aug 1958) manusia tidak ada yang sempurna karena legacynya pasti tidak mungkin menjadi seperti Tuhan. Diego Maradonna adalah pecandu narkoba meski ia terkenal dengan goal the Hand of God ketika menempatkan bola kegawang Inggris memenangkan Piala Dunia 1986 untuk Argentina dengan skor 2-1. Saya mengubah judul lagu Don’t Cry For Me Argentina, dengan Nusantara karena kita harus menangisi Indonesia yang bagaikan jatuh bangun dalam akrobatik maupun fatalistic bagaikan musibah narkoba Maradona yang baru saja wafat usia 60 tahun.

CW: Wah ini mungkin mesti ditulis beberapa serial sulit dikopyok dalam satu adonan pak.

BK: Sebetulnya setelah ada Google maka penulis cukup memberi link, maka semua bisa didalami oleh pembaca. Misalnya soal Argentina, ada 4 buku yang mengungkap bagaimana Argentina tahun 1900 sudah jadi negara “kaya” waktu itu masuk top 10 per kapita, sekarang turun kelas jadi negara dunia ke-3. Baca 4 bahan makalah dari: 1. Sokoloff KL, Engerman SL (2000) History lessons: institutions, factors endowments, and paths of 
development in the new world. J Econ Perspect 14(3):217–232.
2. Solberg CE (1987) The prairies and the pampas: Agrarian policy in Canada and Argentina, 1880–1930. Stanford University Press 
3.Taylor AM (1992) External dependence, demographic burdens, and Argentine economic decline after the Belle Epoque. J Econ Hist 52(04):907–936.
Dari 3 sumber itu orang bisa tahu kenapa ideologi Peronista atau Sukarnoisme ala Argentina gagal 
membangun, malah ekonomi Argentina merosot dari First World jadi Third World. Terbalik dari route 
umum dunia umumnya orang dari negara berkembang Dunia Ketiga pengen naik kelas jadi First World dan itu sukses dilakukan oleh Lee Kuan Yew maka dia menulis kisah sukses Singapore mentas dari Dunia Ketiga menjadi First World. Nah bicara LKY mesti bicara Sovereign Wealth Fund (SWF) Temasek.

CW: Ya 17 Nov 2020 Menko Luhut ketemu Presiden Trump dan SWF AS International Development 
Finance Institute sudah tandatangan MOU mau tanam US$ 2 milyar ke Indonesia.

BK: Bicara lobby dan beli pengaruh sekarang ini dunia sudah terbalik. Saya baru baca kolom Raymond Ibrahim penulis buku Crucified Again dan Sword and Scimitar, Distinguished Senior Fellow Gatestone Institute, Shillman Fellow di David Horowitz Freedom Center, dan Judith Rosen, Friedman Fellow di the Middle East Forum Pada 20 Okt 2020, Kementerian Pendidikan AS merelease laporan Kepatuhan institusional pasal 117 UU 
Pendidikan Tinggi AS, menyebut lebih dari 1/3 donasi asing dan kontrak riset berasal dari sumber yang anti kebijakan geopolitik AS. . Diantaranya US $ 3 milyar dari Qatar, negara pendukung utama Ikhwanul Muslimin, US$ 1,5 milyar dari RRT dan US$ 1,1 milyar dari Arab Saudi. Raymond mengulas fenomena “pembelian pengaruh” Lembaga Pendidikan tinggi dan think tank AS oleh kekuatan dana SWF Timur Tengah.
Kegagalan kebijakan diplomasi AS berujung malapetaka bagi AS adalah karena para pengambil putusan dan analis kebijakan AS adalah produk dari kontrak riset ideologi dan kekuatan yang memusuhi AS. Mereka mempengaruhi kebijakan sekarang dan berinvestasi pada generasi mendatang yang sedang belajar untuk melanjutkan ketergantungan kepada dana donator yang berideologi anti demokrasi liberal. SWF Timur Tengah adalah Lembaga investasi negara negara Arab yang melalui pelbagai wadah Charity Foundation melakukan fungsi donasi dan mensponsori riset kebijakan geopolitik AS.
Pada Maret 2019, University of North Carolina's Center for Middle East and Islamic Studies dan the 
Duke-UNC Consortium for Middle East Studies. mensponsori "Three-Day Anti-Israel Hate-Fest " yang memicu surat teguran Kementerian Pendidikan Agustus 2019 agar kedua universtas menghentikan 
kegiatan politik sarat ideologi radikalis yang detailnya seperti berikut:
"The Duke-UNC CMES appears to lack balance as it offers very few, if any, programs focused on the 
historic discrimination faced by, and current circumstances of, religious minorities in the Middle East, including Christians, Jews, Baha'is, Yadizis, Kurds, Druze, and others. Also, in your activities for 
elementary and secondary students and teachers, there is a considerable emphasis placed on the 
understanding the positive aspects of Islam, while there is an absolute absence of any similar focus on the positive aspects of Christianity, Judaism, or any other religion or belief system in the Middle East. 
This lack of balance of perspectives is troubling"
Laporan Kementerian Pendidikan 2018 menemukan Harvard dan Georgetown menerima dana masing 
masing US$ 20 juta dari lebih ½ milyar US$ untuk program sosialisasi sejarah Islam. Karena universitas yang menerima bantuan Federal tidak boleh mengajarkan “agama”. Maka justru agama Kristen tidak bisa mengcounter gelombang atheism. Tapi ajaran Islam justru berkembang dibalik “kuliah sejarah Islam”. Pangeran Alwaleed bin Talal salah satu paman Putra Mahkota Arab Saudi Mohamad bin Salman, adalah penyandang dana Center for Muslim Christian Understanding yang dipimpin Islamologis John Esposito yang sering juga lobby ke Indonesia. Nah saya tidak tahu sampai dimana nanti MOU Luhut IDFI USA akan bisa menjadi wahana investasi bisnis maupun pengaruh kebijakan geopolitik AS thd Indonesia. 

CW: Ya jangan sampai hubungan RI AS itu seperti schizophrenia Maradonna. Disatu pihak dia adalah 
pesepakbola terkenal sedunia tapi mengidap narkotik berat dan kawin cerai mentelantarkan keluarga.

BK: Hubungan RI AS memang harus senantiaai dikelola secara cerdas, cermat dan bijaksana. Kita jadi anti komunis 1965 gratisan buat AS. Sekarang kita tidak boleh terlalu “obral” mesti ada give and take, quid pro quo, tit for tat. Amerika dapat apa, Indonsia dapat apa. Jangan sampai kita hanya dipihak yang menyanyi Don’t Cry for Me, Nusantara.

Loading...

Artikel Terkait