Bisnis

Rizal Ramli: Vaksinasi, Kepanikan Fiskal dan Pertumbuhan Ekonomi 2021

Oleh : very - Selasa, 16/02/2021 10:26 WIB

Ekonom Senior Rizal Ramli. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID -- Vaksinisasi yang diharapkan akan mengurangi resiko dan kematian akibat pandemi kelihatannya baru akan mulai intensif setelah semester II tahun 2021. Hal itu lantaran keterlambatan supply vaksin.

Menurut ekonom senior Dr Rizal Ramli, efektivitas vaksinasi paling tidak baru terasa pada akhir 2022. “Paling cepat, effektifitasnya (vaksinasi, red.) baru akan terasa di akhir 2022,” ujarnya di Jakarta belum lama.

Dengan tingkat vaksinasi yang rendah dan lambat tersebut, menurut tokoh yang telah malang melintang dalam dunia birokrasi maupun swasta itu, walaupun dibantu dengan mikro-lockdown, sulit diharapkan ekonomi akan cepat membaik di tahun 2021.

“Tidak semudah “angin sorga” yang diucapkan oleh ‘Menkeu Terbalik’ bahwa ekonomi Indonesia akan melesat 5,5% tahun 2021 — wong sebelum covid saja rata-rata hanya 5,1%,” ujar mantan Menko Perekonomian itu.

Selain masalah pandemik, katanya, pertumbuhan kredit saja sangat rendah, bahkan negatif (-1,39% November 2020). Bahkan terendah sejak krisis ekonomi 1998. Hal itu, katanya, karena likuiditas di masyarakat dan lembaga keuangan tersedot setiap kali pemerintah menerbitkan Surat utang Negara (SUN). Maka terjadilah apa yang disebut sebagai “crowding-out”.

“Jadi boro-boro nambah, likuiditas di masyarakat ‘disedot’ - itulah yang menyebabkan daya beli rakyat semakin merosot,” ujarnya.

Di bidang fiskal, keseimbangan primer negatifnya semakin besar. Artinya hanya untuk bisa membayar bunga utang. Itupun harus dilakukan dengan meminjam lebih besar lagi, dengan bunga lebih tinggi dari negara-negara yang ratingnya lebih rendah dari RI. “Kita ini sudah bagaikan ‘Menggali Lobang, Menutup Jurang’. Menunjukkan bahwa pengelolaan fiskal amburadul dan ugal2an – walaupun dengan muka tebal tetap bela diri bahwa ‘pengelolaan fiskal hati-hati (prudent),” ujar mantan Kepala Bulog ini.

Rizal Raml mengatakan, inilah yang menjelaskan mengapa otoritas panik, tabrak sana-tabrak sini untuk memperbesar likuiditas dengan memaksa BI cetak uang 350 triliun, pake uang Haji (38,5 triliun) untuk infrastruktur, Uang Wakaf, naikkan pajak pulsa dan token dsb.

“Bukannya menghentikan semua proyek infrastrukur selama 2 tahun (seperti Krismon 1998), tapi genjot terus dari 281 triliun (2020) naik jadi 417 triliun (2021), salah satunya dengan mengurangi anggaran pandemi dari 212 triliun (2020) dikurangi jadi 169 triliun (2021). Jelas tidak ada fokus dan prioritas, terus genjot infrastruktur walaupun ekonomi rakyat sudah berantakan. Kenapa ? Karena bancakan (mark-up) proyek-proyek infrastruktur itu 10-20%. Jelaskan motifnya?” ujar mantan Menko Kemaritiman itu.

Namun, Rizal Ramli mengatakan bahwa ada perbaikan di ‘current account defisit’, karena impor anjlok lebih besar dan sedikit kenaikan ekspor.

“Jika pengeluaran untuk golongan bawah terus ditingkatkan, melalui transfer langsung via perbankan, seperti yang dianjurkan RR (Rizal Ramli) sejak Maret 2020, bukan model Bansos, yang dikorupsi gila-gilaan oleh elit partai. Ada harapan ekonomi bisa tumbuh 2%-an tahun 2021. Tapi kalau terus tanpa fokus dan tanpa priorotas seperti selama ini, yo ambyar,” pungkasnya. (Very)

Loading...

Artikel Terkait