Nasional

Mengenang Cendekiawan Daniel Dhakidae, Fachry Ali: Dia Tokoh Kaum Kanan Anti-Establishment

Oleh : Rikard Djegadut - Minggu, 11/04/2021 18:45 WIB

Pemimpin Redaksi INDONEWS.ID, Drs. Asri Hadi (kiri) bersama Daniel Dhakidae (tengah: pegang piring) dan Prof. Fasli Jalal (ujung kanan: gendong putrinya) di Hasbrouck Apartments Student Family Housing Cornel University pada 1990.

Jakarta, INDONEWS.ID - Kepergian cendekiawan dan Pemimpin Redaksi majalah Prisma, Daniel Dhakidae di usia ke-76 pada Selasa (6/4) lalu ke alam abadi meninggalkan duka tersendiri bagi bangsa ini.

Daniel Dhakidae dikenal sebagai tokoh intelektual yang teguh dan kokoh mempertahankan titelnya sebagai cendekiawan di tengah gempuran kekuasaan yang selalu menawarkan beragam jabatan.

Bagi yang pernah mengenal Daniel Dhakidae secara personal semasa hidup, kepergian sosok kelahiran Ngada, Pulau Flores, NTT ini meninggalkan rasa duka dan kehilangan yang mendalam.

Hal tersebut tak terlepas dari sosoknya sebagai "intelektual langka" dengan pemikirannya yang kritis dan sikap yang konsisten serta kesetiaannya meniti jalan cendekiawan hingga akhir hayat.

Dalam sejarah perjalanan hidup Daniel Dhakidae, kita menemukan sebuah pelajaran berharga tentang kesetiaan. Dan dalam kesetiaan itu, seseorang dihormati.

Ketika banyak para cendekiawan dan pemikir ataupun akademisi rela meninggalkan "jalan awal" mereka demi kekuasaan, Daniel Dhakidae justru konsisten merawat "jalan awalnya" sebagai cendekiawan. Ini merupakan legacy dari sosok Daniel Dhakidae bagi bangsa dan generasi penerus bangsa--yang membuatnya menjadi tokoh langka.

Dalam sebuah pertemuan daring bertajuk "Cendekiawan dan Kekuasaan: Mengenang Pemikiran Daniel Dhakidae" pada Minggu (11/4), salah satu sahabat Daniel Dhakidae, Fachry Ali menyampaikan rasa kehilangan mendalam atas kepergian sosoknya yang disebutnya sebagai "Cendekiawan Kaum Kanan Anti-Establishment".

"Saya sedih atas kehilangan Daniel. Namun, apa yang disampaikan pembicara sebelumnya, mengungkapan sejarah intelektual kita (Indonesia) tentang peranan Daniel langsung atau tidak gitu," kata Fachry Ali yang pernah menjabat sebagai Komisaris Utama PT Timah Tbk (TINS) ini.

Kepala Program Penelitian LP3ES 1987-1989 ini lalu menceritakan satu kisah soal pemikiran Daniel Dhakidae yang menurutnya, tidak ada satu pun yang tahu, selain dirinya.

Yakni ketika dirinya bertemu Daniel di sebuah Arport sekitar 2001. Ketika itu, Presiden Megawati sedang gencar mengepung Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan pasukan TNI.

"Dan dia datang menghampiri saya dan berbisik: `saya siap menjadi Perdana Menteri Gerakan Aceh Merdeka," tutur penulis buku "Refleksi Paham "Kekuasaan Jawa" Dalam Indonesia Modern (1986)" ini menirukan ucapan Daniel kala itu.

Menurutnya, sikap dan pemikiran Daniel Dhakidae sebagai seorang cendekiawan itu merupakan sebuah lompatan pemikiran yang sangat luar biasa. Sebab, sejak awal, ia menyangka mengenal Daniel sebagai pemikir kaum kanan.

"Luar biasa banget, dia itu adalah seorang intelektual yang terlibat di dalam setiap gerakan. Itu adalah suatu lompatan yang sangat luar biasa ya. Unimaginable begitu bagi seorang yang dari dulu saya menyangka dia itu adalah kaum kanan. Namun sejatinya, dia adalah kaum kanan yang anti establishment. Itu jelas sekali terlihat," tegas penulis "Islam, Ideologi Dunia dan Dominasi Struktural (1984)" ini.

Terpisah, Pemimpin Redaksi Indonews.id, Drs. Asri Hadi menyampaikan turut berduka cita dan merasa kehilangan atas kepergian salah satu tokoh cendekiawan langka Indonesia ini.

Dosen senior Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) ini mengatakan bahwa sudah lama mengenal Daniel Dhakidae. Katanya, Daniel Dhakidae adalah sosok cendekiawan langka karena tidak tergiur oleh jabatan dan kekuasaan.

"Saya sudah lama mengenal Daniel Dhakidae semenjak di Cornel University Amerika Serikat tahun 1990. Dia sosok yang tidak mau tergiur oleh jabatan," ungkap Asri Hadi.

Menurutnya, sosok Daniel Dhakidae patut menjadi panutan bagi generasi penerus bangsa ini. Daniel terkenal dengan pemikirannya yang tajam dan teguh mempertahankan profesinya sebagai intelektual hingga akhir hayat.

"Dia pantas menjadi panutan. Di saat banyak para akademisi dan intelektual tergiur dengan jabatan yang ditawarkan penguasa, Daniel tetap konsisten sampai akhir hayatnya. Semoga Daniel Dhakidae tenang di alam sana," tutup Asri Hadi.*(Rikard Djegadut).

Loading...

Artikel Terkait