Opini

Indonesian Airways "Bayar" Pajak dengan Kapal Terbang

Oleh : Rikard Djegadut - Rabu, 09/06/2021 13:30 WIB

Chappy Hakim

Indonesian Airways “Bayar” Pajak dengan Kapal Terbang
(Air Diplomacy - catatan sejarah yang tercecer)

Oleh: Chappy Hakim, Pendiri dan Chairman Pusat Studi Air Power Indonesia

Opini, INDONEWS.ID - Pada pertengahan tahun 1950, pemerintah Indonesia menghadapi sebuah masalah yang cukup serius dan dapat berpengaruh besar pada hubungan antar bangsa.

Ketika itu datang berita dari perwakilan Indonesian Airways di Rangoon, bahwa pemerintah Birma telah mengajukan kepada pemerintah Indonesia tagihan beban pajak yang harus dan belum dibayar oleh pihak Indonesian Airways selama beroperasi di Birma.

Seperti diketahui Indonesia dalam hal ini Indonesian Airways telah memulai operasi penerbangan sipil komersial pada awal tahun 1949 yang ber “home base” di Rangoon Birma.

Pengoperasian Indonesian Airways ini sebenarnya sama sekali tidak murni bertujuan komersial, karena yang dilakukan adalah menggalang dana untuk mendukung segenap upaya dalam usaha mempertahankan eksistensi kemerdekaan Indonesia.

Meminjam kata kata Air Commodore S. Suryadarma –KSAU pertama, Bapak AURI hal itu disebut sebagai : We have been flying our planes for patriotic purposes, and thus not for commercial ones.

Tentu saja tagihan pajak tersebut sangat mengagetkan pihak pemerintah Indonesia, karena sejauh diketahui dan selalu dipersepsikan bahwa Indonesian Airways dipandang sebagai alat perjuangan yang didukung sepenuhnya oleh pemerintah Birma.

Lebih dari itu keberadaan dan peran Indonesian Airways juga sangat berguna bagi pemerintah Birma dalam mengatasi kesulitannya sendiri.
Demikianlah, maka KSAU Komodor Suryadarma mencari jalan keluar yang win – win sifatnya agar persoalan serius dan sensitive itu dapat selesai.

Ide dari Komodor Suryadarma adalah menghibahkan satu pesawat terbang Indonesian Airways yaitu RI-007 untuk Angkatan Udara Birma lengkap dengan cadangan “spare parts” yang memang cukup banyak disiapkan di Rangoon.

Setelah melakukan komunikasi marathon dan intensif dengan pihak terkait di jajaran pemerintahan Birma terutama dengan Bo Ne Win, Supreme Commander of the Burmese Armed Forces maka akhirnya dapat disepakati usulan hibah sebuah pesawat Indonesian Airways R.I 007 untuk Angkatan Udara Burma.

Dengan hibah satu pesawat lengkap dengan seluruh cadangan “spare parts” nya, maka proses tagihan pajak terhadap Indonesian Airways dapat dibatalkan.

Dalam tindak lanjutnya kemudian Sekretaris Jenderal Kementrian Pertahanan R.I Mr.Ali Budiardjo di bulan Oktober 1950 mengirim surat kepada Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia.

Dalam surat tersebut dijelaskan mengenai proses hibah pesawat dan penyelesaian tagihan pajak Indonesian Airways .

Berikut ini copy dari salinan surat tersebut :

KEMENTERIAN PERTAHANAN
Djakarta, 20 Oktober 1950.-
No. : Rah / 373 / 50
LAMPIRAN :
PERIHAL : Penjerahan kapal terbang Indonesian
Airways kepada Pemerintah Birma.-

Kepada : 1. J.M. Perdana Menteri
2. J.M. Menteri Luar Negeri

Seperti Jang Mulia mengetahui, maka selama perdjuangan R.I. di Djokdja, kapal2 terbang kita berpangkalan di Birma mengadakan transport udara bernama Indonesian Airways. Dengan demikian pemuda-pemuda kita di luar negeri dapat beladjar terbang dan keuangan dari Indonesian Airways tersebut selama itu dapat dipergunakan untuk membiajai beberapa perwakilan R.I. dan pendidikan Angkatan Udara di Indonesia.
Sekarang KSAU menerima surat dari Act. General Manager Indonesian Airways tersebut, ttg 12 Agustus j.b.l., memberi tahukan, bahwa pemerintah Birma berniat menuntut dari Indonesia Airways padjak antara Rs.235.000 dan Rs.477.500. Hal ini sebetulnya tidak diduga karena selama ini disangka, bahwa Indonesian Airways dipandang oleh Pemerintah Birma sebagai alat perdjuangan jang disokong sepenuhnja oleh Pemerintah Birma. Lain dari pada itu Indonesian Airways djuga sangat berguna untuk Pemerintah Birma dalam mengatasi kesulitannja sendiri.
Supaja kita tidak perlu mengeluarkan uang itu dan pula untuk mengeratkan hubungan baik dengan Pemerintah Birma, maka KSAU berhubungan informal dengan Bo Ne Win dengan menawarkan kapal terbang R.I. jang masih ada di Birma, ja’ni R.I. 007, dengan bagian2nja (assets) kepada Pemerintah Birma, dengan maksud supaja harga dari kapal terbang diperhitungkan dengan padjak. Harga tersebut direntjanakan kira-kira Rs.190.000. djadi memang seimbang dengan padjak jang mestinja dibajar.
Dalam surat kepada Komodor Suriadarma, Bo Ne Win menghargai baik geste ini.
KSAU sekarang berniat bertolak ke Birma untuk setjara formil menjelesaikan soal ini dan djuga sebagai “return visit” kepada Bo Ne Win, jang kira-kira satu bulan j.l. datang kemari.
Kami dapat menjetudjui usul dari Komodor Suriadarma ; tindakan ini hendaknja dilihat dalam hubungan memperkuat perhubungan kita dengan negara tetangga dan terutama dengan India dan Birma.
Kami mengharap putusan sangat segera dari Jang Mulia. Kebetulan Wkl. Duta kita di Rangoon, Sdr. Ali Algadri ada disini dan maksud Komodor Suriadarma untuk bersama dengan beliau berangkat ke Birma.

SEKRETARIS DJENDERAL
KEMENTRIAN PERTAHANAN

TTD


Mr. Ali Budiardjo

Turunan kepada :
1. J.M.Menteri Keuangan
2. Fg. KSAP
3. KSAU

Itulah langkah yang telah dilakukan oleh Komodor Suryadarma dalam menyelesaikan sebuah masalah yang sebenarnya tidak pernah diduga akan terjadi.

Sebuah penyelesaian yang Win – Win terhadap sebuah permasalahan yang cukup sensitif pada aspek hubungan antar bangsa dalam hal ini Indonesia dengan Birma. Sebuah cerita masa lalu mengenai Indonesian Airways yang “membayar pajak” dengan kapal terbang.


Jakarta 6 Juni 2021

Loading...

Artikel Terkait