Opini

Pilih Atlas atau Hercules?

Oleh : Rikard Djegadut - Rabu, 01/12/2021 19:32 WIB

Pendiri dan Chairman Pusat Studi Air Power Indonesia, Chappy Hakim (Foto: Ist)

Oleh Chappy Hakim, Pendiri dan Chairman Pusat Studi Air Power Indonesia

Opini, INDONEWS.ID - Indonesia, konon kabarnya akan membeli 2 buah pesawat terbang Airbus A-400M Atlas dan 4 lagi di masa datang. Sebelum itu terbetik berita bahwa Indonesia juga akan membeli pesawat terbang Hercules C-130 J seri terbaru produk industri pertahanan Amerika Serikat Lockheed Martin.

Dari berita tersebut maka bermuculanlah pertanyaan tentang kedua jenis pesawat angkut strategis (Strategic Airlifter) itu, mana yang lebih baik. Sebagai perbandingan dapat diinformasikan tentang data awal dari kedua pesawat terbang tersebut.

Airbus A400M Atlas pesawat baru yang terbang pertama tahun 2009 dan mulai digunakan untuk operasi di tahun 2013. Sampai dengan tahun 2021 baru diproduksi sebanyak 100 pesawat A400M Atlas.

Pesawat Hercules C-130 J, produk yang terbang perdana pada tahun 1996 dan mulai beroperasi tahun 1999. Sampai tahun 2018 yang lalu saja Hercules C-130 J sudah di produksi sebanyak 400 pesawat.

Apabila kita membicarakan kedua jenis pesawat tersebut, maka akan menjadi menarik, karena tersiar kabar dari Inggris tentang bagaimana Angkatan Udara Inggris (RAF) bersikap terhadap penggunaan kedua jenis pesawat itu.

Salah satu media yang menyajikan hal tersebut adalah The Aviation Geek Club yang memuat tulisan Dario Leone di bulan Maret tahun 2021 pada kolom Military Aviation. Artikel tersebut berjudul “The RAF could soon retire the C-130 J and replacing it with the A400M – A move that would put SAS soldiers at risk”.

Terjemahan bebasnya, Angkatan Udara Inggris dapat segera mempensiunkan pesawat Hercules C-130 J dan menggantinya dengan A400M – Sebuah langkah yang akan membahayakan performa pasukan elit SAS (Special Air Service).

Dari uraian dalam artikel itu disebutkan antara lain bahwa sebuah dokumen resmi telah menyebut C-130 J harus tetap dipertahankan dalam jajaran susunan tempur RAF karena Hercules sangat cocok dengan spesifikasi operational requirement dari pasukan SAS.

Pesawat A400M Atlas ukurannya terlalu besar untuk dapat digunakan pasukan elit dalam misi misi operasi khusus yang kerap dilaksanakan pada kawasan yang terpencil dan membutuhkan kelincahan manuver pesawat terbang pada ruang yang sempit.

Sebenarnya pesawat Hercules tidak hanya digandrungi oleh pasukan SAS, akan tetapi juga sangat memudahkan gerakan pasukan yang membutuhkan take off landing pada berbagai landasan pendek termasuk yang berada pada kawasan yang dikuasai musuh.

RAF sudah merencanakan untuk tetap menggunakan Hercules sampai dengan tahun 2035. Pertimbangannya adalah belum akan ada pesawat lain yang memiliki kemampuan atau performance yang sama atau lebih dari C-130 J sampai tahun 2035 dalam aspek melaksanakan berbagai misi operasi khusus penuh risiko.

A400M mungkin bisa lebih baik sebagai pesawat angkut barang akan tetapi tidak dalam misi misi khusus pada moda operasi taktis dan strategis di medan laga. Misi khusus yang biasa dilakukan pada medan yang berat dan ruang gerak yang terbatas (di medan perang dan atau pada misi kemanusiaan) hanya dapat dilakukan secara efisien oleh pesawat Hercules, tidak oleh pesawat yang ukurannya lebih besar.

Pada sisi lain pesawat dengan ukuran besar adalah merupakan makanan empuk bagi sasaran tembak musuh. Sementara itu seorang pejabat pada komite pertahanan Inggris menekankan bahwa mengganti Hercules dengan A400M Atlas akan sangat membahayakan keselamatan pasukan SAS dan dapat menyebabkan kegagalan pelaksanaan operasi khusus yang selama ini dilakukan dengan sukses pada berbagai lokasi rawan.

Rencana mengganti Hercules dengan pesawat lain yang lebih besar dikatakannya sebagai sebuah hal serious strategic error. Pada intinya adalah Angkatan Udara Inggris bersikukuh untuk tetap menggunakan Hercules C-130 J sampai dengan tahun 2035, sekali lagi dengan pertimbangan tidak akan ada pesawat yang setara dengan kelincahan Hercules sampai dengan tahun 2035.

Bagi Indonesia sendiri yang telah menggunakan Hercules lebih dari setengah abad, maka penggunaan C-130 H atau J akan jauh lebih efektif dan efisien. Indonesia sudah banyak memiliki Pilot, Teknisi dan tenaga ahli lainnya yang sudah sangat matang dalam mengelola Hercules dalam pengoperasiannya.

Demikian pula peralatan pemeliharaan sudah tersedia dalam tingkat memadai bagi penyiapan operasi pesawat Hercules. Pada sisi lainnya pesawat Airbus A400M Atlas dengan ukuran besar dan bobot yang sangat berat dipastikan hanya dapat di operasikan pada pangkalan udara tertentu saja.

Apalagi bila digunakan untuk mengangkut kargo dengan muatan maksimal maka hanya 1 a 2 bandara saja di Indonesia yang mampu untuk melayaninya.
Penggunaan Hercules bagi misi khusus baik di medan tempur maupun operasi kemanusiaan selama ini sudah membuktikan kehandalannya.

Apa yang tengah dihadapi RAF beserta respon yang mencuat adalah sebuah refleksi dari sebuah analogi yang juga tengah dihadapi di Indonesia. Semua pengoperasian dari peralatan yang berteknologi tinggi memang menuntut profesionalitas para pengelolanya yang akan tercermin dalam pola standar pembinaan sdm yang harus tunduk pada The Right Man on the Right Place.

Jakarta, Minggu 28 November 2021.

 

 

Loading...

Artikel Terkait