Penulis : Prof Tjandra Yoga Aditama ( Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Mantan DirJen Pengendalian Penyakit dan Mantan KaBaLitBang Kementerian Kesehatan)
Kita semua amat berduka dengan wafatnya Bapak Arifin Panigoro pagi ini. Diantara berbagai aktifitas beliau maka salah satunya adalah sebagai pimpinan "Stop Tuberculosis Partnership Indonesia", yang saya ikut dalam beberapa acara awal pendiriannya pada saat saya masih menjadi DirJen P2PL Kemenkes 2009-2014.
Pada masa COVID-19 ini saya banyak menulis di media, termasuk ttg tuberkulosis.
Tulisan saya tentang "Tuberkulosis dan G20" saya forward ke Pak Arifin Panigoro, dan beliau langsung jawab dengan WA "ok kita dorong untuk jadi agenda proritas diG 20". Beberapa menit kemudian beliau juga langsung telpon saya, dan membicarakan pentingnya masalah Tuberkulosis ini di negara kita, dan juga hubungannya dgn G20.
Saya pernah pula bersama-sama Pak Arifin Panigoro sama2 jadi pembicara "TB Summit 2021" di Bali pada akhir 2021, dan almarhum menyampaikan "key note speach" dengan amat bersemangat tentang bagaimana kita perlu mengendalikan tuberkulosis di Indonesia. Saya ingat bahwa setelah acara pembukaan maka kami sempat mampir di stand Stop TB Partership di acara yang dihadiri penggiat TB dari seluruh Indonesia itu.
Tadi pagi-pagi saya juga dihubungi oleh teman yang menangani tuberkulosis di WHO South East Asia Regional Office (SEARO) dari kantornya di New Delhi, yang menyatakan rasa turut berduka cita.
Semua kita amat kehilangan dengan wafatnya Pak Arifin Panigoro, semoga arwahnya mendapat tempat mulia di sisi Allah SWT l. Semoga perjuangan beliau dalam mengendalikan Tuberkulosis di Indonesia dapat terus berjalan menuju eliminasi tuberkulosis di negara kita.