https://vinosdeabona.com/slot-gacor/ https://www.tpcd.org.tr/slot-deposit-pulsa/ https://healthcare.skho.moph.go.th/labor-care/uploads/slot-deposit-pulsa/ https://seoscaning.com/slot-deposit-dana/ http://www.info-secur.ru/old/slot-deposit-pulsa-tanpa-potongan/ http://academia.uniminuto.edu/becassp/notas/jasabola/

Opini

Bukan Hanya Sastra Peranakan Tionghoa Yang Terabaikan

Oleh : luska - Kamis, 15/09/2022 17:40 WIB

(Catatan untuk Gunoto Saparie)

Penulis : Ibnu Wahyudi
(Pemuisi dan pengajar FIB UI)

Terima kasih untuk Gunoto Saparie karena telah menyebut nama saya dalam tulisannya berjudul “Sastra Peranakan Tionghoa Terabaikan” yang dimuat dalam jatengdaily.com terbitan 30 Juli 2022. Namun, yang lebih utama, terima kasih harus saya sampaikan karena dengan tulisannya itu, Gunoto Saparie telah ikut mengajak kita menyadari bahwa sebuah jati diri kebudayaan tidak lain merupakan suatu proses mengada. Termasuk dalam kaitan dengan entitas sastra Indonesia, galibnya adalah sebuah perjalanan yang awalnya masih serupa tanda tanya.

Bahwa saya pernah menyatakan kalau sastra Indonesia itu bermula dari tahun 1870-an karena pada saat itu sudah terbit buku puisi berjudul Sair Kadatangan Sri Maharadja Siam di Betawi pada tanggal 27 Maart 1871 atau cerpen-cerpen di Bintang Djohar, ternyata harus saya koreksi. Tindakan ini agak mirip dengan “koreksi” A. Teeuw atas pernyataannya dalam Modern Indonesian Literature (1967) yang menyebut bahwa tahun 1920 adalah awal perjalanan sastra Indonesia dengan pengakuannya terhadap khazanah sastra Melayu Peranakan yang mustahil diabaikan sebagai bagian integral sastra Indonesia dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 140 (4), 1984, halaman 538. Demikian pula saya, perlu memperbaiki pandangan semula karena sebelum tahun 1870-an ternyata telah terbit paling tidak lima karya sastra yang bukan hanya ditulis oleh pengarang peranakan Tionghoa melainkan juga pengarang bumiputra dan Indo-Eropa.

Kelima karya sastra hasil penelusuran saya tersebut adalah Boek Saier Oetawa Terseboet Pantoen (1857) karya Sa-orang jang Bangsawan, Pantoon Melajoe Sama Tjerita Aneh-Aneh Poor Orang-Orang, Njang Soekakh Ketawa (1858) karya H.G.L., Saridin, Satoe Tjerita Boeat Djadi Pengadjaran (1862) karya F.K. Voorneman, Sair Tjarita Orang Pamales (1863) karya Raden Moehamad Hoessen, dan  Saër Nasehat Orang Berboeat Djahat dan Saër Negri Batawi (1867) karya Maradjalan.

Karya-karya yang baru saya sebutkan ini adalah karya modern, baik dilihat dari isi maupun wujudnya. Dari aspek isi, semua karya ini mengungkapkan permasalahan sehari-hari dan bukan dunia antah-berantah atau kehidupan istana; suatu karakteristik kemodernan. Demikian pula dari wujud mereka, karya-karya tersebut telah menunjukkan suatu “pertanggungjawaban” literer karena ditulis oleh orang yang bernama; bukan karya anonim. Dari segi reproduksi, karya-karya ini telah dicetak masinal yang merepresentasi kelindan antara perkembangan teknologi dengan produksi karya sastra yang berbeda dengan karya tradisional yang ditulis tangan satu per satu. 

Dari wadah yang dimanfaatkan untuk menampung ekspresi berkisah, karya-karya tersebut tidak berbeda dengan karya-karya masa kini karena semuanya ditulis dengan aksara Latin—bukan lagi dengan aksara Jawi—dan melalui perantaraan bahasa Melayu yang bagaimanapun adalah cikal bakal bahasa Indonesia. Dengan kenyataan seperti ini, sulit kiranya untuk tidak mendaku karya-karya tersebut sebagai bagian tidak terpisahkan dari perjalanan sastra Indonesia. Oleh sebab itu, karena klaim A. Teeuw sudah dia batalkan sendiri dan realitas kesastraan menunjukkan fakta sebagaimana sudah saya tunjukkan maka tidak ada alasan lagi untuk menyatakan bahwa sastra Indonesia bermula dari era Balai Pustaka, khususnya tahun 1920. Revisi memang harus dilakukan.***
 

Loading...
TAGS : Ibnu wahyudi

Artikel Terkait