Jakarta, INDONEWS.ID – Fenomena tutupnya sejumlah ritel modern di Indonesia, seperti Lulu Hypermarket dan GS Supermarket, menjadi sorotan publik. Menanggapi hal ini, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkap penyebab utama di balik gelombang penutupan gerai-gerai ritel tersebut.
Dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (4/6/2025), Budi menyatakan bahwa ritel modern gagal beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen dan tidak menawarkan pengalaman berbelanja yang menarik.
“Kalau ritel modern itu hanya jualan saja, tanpa ada experience, tanpa ada journey di sana, ya dia pasti akan kalah dengan UMKM,” jelas Budi, merujuk hasil diskusinya bersama Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI).
Budi menyebut bahwa mal atau pusat perbelanjaan kini tak sekadar tempat belanja, melainkan juga harus menjadi ruang sosial dan hiburan.
“Tidak ada tempat untuk makan, nongkrong, ngumpul — ya akan sepi pengunjung,” tambahnya.
Selain kurangnya inovasi dalam pengalaman berbelanja, perubahan pola konsumsi masyarakat juga menjadi faktor kunci. Dulu, masyarakat cenderung belanja dalam jumlah besar untuk kebutuhan satu bulan. Namun kini, belanja dilakukan dalam skala kecil dan frekuensi tinggi, lebih memilih toko-toko terdekat yang lebih praktis dan efisien.
“Sekarang itu belanjanya kadang untuk kebutuhan sehari dua hari. Akhirnya ritel besar kalah dengan toko terdekat,” jelas Budi.
Perubahan ini membuka peluang besar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang dinilai lebih adaptif terhadap tren dan kebutuhan konsumen.
Bahkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 37,7% UMKM sudah beralih ke platform e-commerce. Di sisi lain, 33,3% penduduk produktif di Indonesia kini aktif berbelanja online.
Kemendag menilai ini sebagai momentum strategis untuk memperkuat produk lokal di pasar dalam negeri, sekaligus meningkatkan ekspor.
“Ini kesempatan untuk UMKM mendominasi pasar. Tapi tentu dengan catatan, produk harus berkualitas dan punya daya saing,” tegas Budi.
Sebagai respons atas perubahan lanskap ritel nasional, Kemendag akan terus mendorong kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan instrumen pemasaran digital, untuk membangun ekosistem penjualan yang tangguh — baik domestik maupun global.
Budi menekankan, produk dalam negeri tidak boleh kalah saing dari produk asing. Oleh karena itu, kualitas, inovasi, dan daya saing menjadi kunci utama agar UMKM mampu bertahan dan tumbuh di era baru perdagangan ini.