Jakarta, INDONEWS.ID – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengejutkan publik dengan memperkenalkan logo barunya yang kini menampilkan gajah berwarna hitam dengan kepala merah, menggantikan simbol lama berupa tangan kiri menggenggam bunga mawar berlatar merah.
Dalam unggahan di akun Instagram resmi mereka, PSI menyebut logo baru ini mengusung semangat sebagai "Partai Super Terbuka", sebuah label yang menempel langsung di desain teranyar tersebut.
Pengamat politik sekaligus Direktur Parameter Politik Indonesia (PPI), Adi Prayitno, menilai terdapat empat alasan strategis di balik keputusan PSI mengganti logonya.
“Pertama, ini penyegaran yang memang sudah disampaikan elite PSI kepada media. Kedua, demi mencari positioning baru agar publik lebih mudah mengenali, menyukai, bahkan memilih PSI,” ujar Adi kepada wartawan, Kamis (17/7/2025).
Namun yang paling mencolok, lanjut Adi, adalah upaya PSI untuk mempertebal citra sebagai partainya Presiden Jokowi. Menurutnya, elemen desain dan narasi logo baru PSI seolah menunjukkan kedekatan politik yang semakin eksplisit dengan Presiden ketujuh RI tersebut.
“Huruf P yang lebih terbuka, hingga tagline `Partai Super Terbuka` itu sangat Jokowi. Selain itu, dominasi warna hitam dan merah pada logo baru PSI sangat mirip dengan warna khas PDI Perjuangan,” terang Adi.
Adi juga menduga strategi ini merupakan upaya untuk menyasar basis pemilih PDIP yang selama ini dikenal loyal terhadap Jokowi. “Ini positioning yang cukup cerdik, mereka ingin masuk ke ceruk pemilih Jokowi yang masih besar,” tambahnya.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago, menilai pergantian logo PSI lebih sebagai harapan agar partai tersebut bisa lolos ke parlemen dalam Pemilu mendatang.
"Logo lama kan gagal bawa PSI ke ambang batas parlemen. Tapi tetap saja, pergantian logo tak menjamin elektabilitas," ucap Pangi. Ia menegaskan bahwa dalam dunia politik, kekuatan partai tetap bergantung pada kerja nyata, bukan hanya simbol visual.
“Kalau karena logo bisa menang, tentu banyak partai dengan desain bagus sudah masuk parlemen sejak lama,” pungkasnya.
Kini, publik menanti, apakah transformasi simbolik ini akan benar-benar membawa PSI melampaui ambang batas parlemen atau hanya jadi strategi branding semata.*