Nasional

Sejarah Ditulis oleh Pemenang, Profesor Alvi: Tapi juga Dikuasai Sepenuhnya

Oleh : rio apricianditho - Senin, 25/08/2025 19:40 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID -  Kebesaran sebuah negara bisa diketahui lewat sejarahnya, namun sejarah pun bisa mengaburkan peristiwa yang terjadi. Profesor Alvi Marwan Adam mengatakan, sejarah ditulis oleh pemenang namun ternyata juga dikuasai sepenuhnya, dalam kuliah umum di Akademi Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (26/08). 

Alvi Marwan Adam merupakan sejarawan yang belum lama purnatugas di BRIN, ia merupakan peneliti utama di LIPI sebelum lebur menjadi BRIN. Materi yang disampaikan merupakan kuliah kenangan terhadap Sutan Takdir Alisjahbana, ia membawakan pemikirannya yang diberi judul "Dari Polemik Kebudayaan sampai Polemik Sejarah".

Menurutnya dalam penyusunan sejarah ada unsur politik yang masuk, seperti di budaya kita dalam penulisan sejarah budaya kita hanya dipengaruhi 3 bangsa yaitu, Arab, India, dan Eropa. Padahal ada 4 yaitu China namun dalam literatur budaya China tak disebutkan, terutama terkait masakan seperti tahu, tempe, bakso dan lainnya. 

Penulisan sejarah memang ada pengaruh politik, biia dikatkan saat ini seperti penetapan Hari Kebudayaan oleh Menteri Kebudayaan diusulkan tanggal 17 Oktober. Menurutnya, tanggal itu merupakan hari lahirnya Presiden Prabowo Subianto, sejarah sebenarnya adalah tanggal 16 Oktober terciptanya lambang negara burung Garuda. 

"Atau polemik soal pahlawan nasional untuk mantan Presiden Soeharto, awalnya KNPI Surakarta dalam seminar mengusulkan Soeharto diangkat sebagai Pahlawan. Saat itu pembicaranya Bupati Karanganyar dan saya, Bupati itu bilang kalau masyarakat mengendaki akan diusulkan ke propinsi dan pusat", ujarnya. 

Selain polemik itu, dikatakan, Menteri Kebudayaan juga melontarkan wacana yang sedang kontroversi soal hari Kebudayaan, dan diusulkan agar Margono Djojohadikoesoemo kakek Prabowo menjadi Bapak Koperasi, padahal dalam pengajaran di sekolah yang disebut Bapak Koperasi adalah Moh. Hatta. 

Lalu dalam penutupnya ia mengatakan, ada adagium yang populer "sejarah ditulis oleh pemenang". Namun ternyata sejarah itu bukan hanya ditulis, tetapi juga dikuasai sepenuhnya.

Artikel Lainnya