Nasional

Santri dan Kiai Adukan Tran7 ke Polda Metro

Oleh : rio apricianditho - Kamis, 16/10/2025 14:30 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID - Sejumlah santri melaporkan Trans7 terkait tayangan Xpose Uncensored ke Polda Metro Jaya, meski pihak Trans7 sudah meminta maaf namun tetap melaporkan agar pemberitaan tendensius tak terulang lagi. 

Bersama kuasa hukumnya, sekumpulan santri datangi Polda Metro, tanpa yel-yel atau teriakan provokatif mereka melangkah damai ke Satuan Kriminal Jmum (Krimum) melaporkan tayangan yang membuat warga Nahdiyin resah terutama mereka yang pernah atau sedang belajar di Pesantren. 

Kuasa hukum para santri didampingi Kiai Mudasir, mengatakan, kedatangan pihaknya ke Polda Metro melaporkan televisi nasional yang menayangkan program Xpose Uncensored  Senin (13/10) lalu, tayangan tersebut secara jelas bernada mengolok-olok kiyai dan santri. 

"Bukan hanya santri anak-anak tapi yang sudah bapak-bapak pun ketemu kiyai masih ngesot, mencium tangan dan ternyata yang ngesot itulah yang ngasih amplop. Ini bisa jadi sebabnya sebagian kiyai makin kaya raya", ujarnya mengulang narasi ditayangan tersebut. 

Menurutnya, ucapan tersebut merupakan bentuk penghinaan dan fitnah yang mencederai kehormatan para santri dan kiyai. Serta menyudutkan tradisi penghormatan santri terhadap kiyai yang merupakan bagian dari nilai-nilai luhur pendidikan pesantren dan Islam. 

Dikatakan, tayangan itu juga membuat video keseharian santri dan kiyai yang sudah diedit dan disebarkan, seharusnya video tersebut penuh makna dan tradisi tapi justru digunakan untuk mengolok-olok dan candaan publik. 

"Sebagai insan hukum kami menjunjung tinggi kebebasan pers namun jangan disalahgunakan untuk menyerang martabat seseorang, apalagi ini santri, kiyai, dan pondok pesantren. Karena itu langkah hukum ini tidak untuk membungkam media televisi nasional tapi untuk menegakan prinsip jurnalisme yang bertanggungjawab", ungkapnya. 

Sementara kiai Mudasir mengatakan, permintaan maaf sudah kami maafkan tapi dilupa tidak, artinya hukum tetap harus berjalan dan pihaknya kawatir bila laporan ini tidak dilanjutkan maka akan muncul lagi hal seperti itu. 

"Hukum harus ditegakan Harus tidak ada lagi olok-olok atau fitnah dan sebagainya terhadap pesantren, ulama dan santri", tegasnya. 

Ketika disinggung ada pihak yang ingin mendiskreditkan NU, menurutnya, sepertinya ada agenda dibalik tayangan tersebut, sebelum tayang seharusnya dilakukan edit, mestinya bila edit sudah dilakukan harusnya tidak ada yang menyudutkan seseorang atau pihak lain. "Pakarnya banyak disana, karyawannya banyak, kalau tidak ada sesuatu dibalik itu,  ya apa?", tambahnyaenutup keterangannya.

Artikel Lainnya