Jakarta, INDONEWS.ID – Media sosial diguncang oleh beredarnya video yang menampilkan pendakwah muda asal Kediri, Gus Elham Yahya, mencium seorang anak perempuan saat kegiatan dakwah di atas panggung. Aksi tersebut memicu perdebatan luas dan menuai gelombang kritik dari publik.
Cuplikan video yang tersebar di berbagai platform seperti Instagram dan X (Twitter) itu memperlihatkan gestur yang oleh banyak warganet dinilai melampaui batas kewajaran dan tidak pantas dilakukan oleh figur publik, terlebih oleh seorang pendakwah.
Banyak pengguna media sosial menilai tindakan tersebut mencederai nilai moral dan kesantunan yang seharusnya dijunjung tinggi dalam dunia dakwah.
Menanggapi maraknya kritik, akun resmi Instagram Gus Elham Yahya menutup kolom komentar di sejumlah unggahan terbarunya. Langkah itu disebut sebagai upaya meredam arus komentar negatif yang membanjiri laman media sosialnya.
Namun, reaksi publik terhadap kebijakan tersebut justru beragam. Sebagian menganggapnya sebagai strategi menjaga ketenangan publik, sementara sebagian lain menilai sebagai bentuk penghindaran tanggung jawab moral dari seorang tokoh agama.
Menanggapi polemik tersebut, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyampaikan keprihatinan mendalam atas tindakan Gus Elham Yahya.
Ketua PBNU, Alissa Wahid, menegaskan bahwa perilaku tersebut tidak mencerminkan akhlakul karimah dan bertentangan dengan prinsip Islam rahmatan lil ‘alamin.
“Itu menodai nilai-nilai dakwah sendiri yang seharusnya memberikan teladan melalui sikap dan laku kepada umat,” ujar Alissa di Jakarta, Rabu (12/11/2025).
Alissa menambahkan, segala bentuk perilaku yang merendahkan martabat manusia, terlebih terhadap anak-anak, merupakan pelanggaran serius terhadap ajaran Islam.
PBNU, kata Alissa, memegang teguh prinsip Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah yang menyeimbangkan antara ajaran syariah dan nilai kemanusiaan.
“Prinsip maqashid syariah inilah yang harus dipegang oleh setiap pendakwah, terutama dalam menjaga kehormatan manusia (hifdz al-‘irdh),” tegasnya.
Komitmen PBNU
Sebagai langkah konkret, PBNU telah membentuk Satuan Tugas Penanggulangan Kekerasan di Pesantren (SAKA). Satuan tugas ini berfokus pada pencegahan dan penanganan kasus kekerasan, pelecehan, serta penyimpangan perilaku di lingkungan pesantren dan lembaga dakwah.
“Pembentukan SAKA merupakan wujud nyata komitmen PBNU dalam menjaga marwah pesantren serta memastikan dakwah Islam tetap berlandaskan kasih sayang dan perlindungan terhadap kemanusiaan,” ujar Alissa.
Ia menegaskan kembali bahwa tidak ada ruang bagi kekerasan, pelecehan, maupun penyalahgunaan otoritas dalam dakwah Islam.
“Dakwah harus menumbuhkan kemuliaan, bukan menistakan martabat manusia,” pungkasnya.
Video tersebut telah melahirkan ribuan unggahan reaksi di media sosial. Sebagian besar warganet mengecam tindakan Gus Elham sebagai perilaku menjijikkan dan tidak pantas, sementara segelintir lainnya menilai hal itu sebagai ekspresi kasih sayang kepada anak-anak.
Kendati demikian, mayoritas publik sepakat bahwa dalam konteks panggung dakwah, setiap tindakan pendakwah memiliki konsekuensi moral dan sosial yang tidak bisa diabaikan.