Nasional

NATO Respons Penarikan 5.000 Pasukan AS dari Jerman, Dorong Eropa Perkuat Pertahanan

Oleh : Rikard Djegadut - Minggu, 03/05/2026 10:08 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID - Aliansi NATO merespons keputusan Amerika Serikat yang akan menarik sekitar 5.000 personel militernya dari Jerman dengan meningkatkan komunikasi intensif bersama Washington.

Juru bicara NATO, Allison Hart, mengatakan pihaknya saat ini tengah berkoordinasi untuk memahami secara rinci kebijakan tersebut, terutama terkait perubahan postur kekuatan militer AS di kawasan Eropa.

“Kami sedang bekerja sama dengan AS untuk memahami detail keputusan mereka mengenai postur kekuatan di Jerman,” ujar Hart melalui platform X, Sabtu (2/5), seperti dilaporkan Anadolu Agency.

Hart menilai langkah ini menjadi sinyal kuat bagi negara-negara Eropa agar tidak lagi bergantung sepenuhnya pada kekuatan militer AS. Ia menekankan pentingnya peningkatan investasi di sektor pertahanan guna menjaga stabilitas dan keamanan kolektif di kawasan.

Menurutnya, negara-negara Eropa perlu mengambil peran lebih besar dalam tanggung jawab pertahanan, meskipun NATO tetap optimistis terhadap kapasitas aliansi dalam mewujudkan “Eropa yang lebih kuat dalam NATO yang lebih kuat.”

Keputusan Pentagon menarik ribuan pasukan ini juga tidak lepas dari dinamika politik antara Presiden AS Donald Trump dan Kanselir Jerman Friedrich Merz.

Sebelumnya, Merz melontarkan kritik terhadap strategi militer AS dalam konflik dengan Iran yang dinilai tidak memiliki “strategi keluar” yang jelas. Ia bahkan menyebut AS berada dalam posisi yang memalukan dalam sejumlah perundingan dengan Teheran.

Menanggapi kritik tersebut, Trump menyatakan tengah mengevaluasi pengurangan kehadiran militer AS di Jerman. Langkah ini dinilai mencerminkan meningkatnya ketegangan di dalam NATO, khususnya terkait kebijakan terhadap Iran.

Penarikan pasukan ini dipandang sebagai babak baru dalam hubungan transatlantik pada 2026, sekaligus menjadi momentum bagi negara-negara Eropa untuk mempercepat penguatan serta modernisasi kemampuan militernya secara mandiri.

Artikel Lainnya