Nasional

Korban Tewas Demo Anti-Pemerintah di Iran Diperkirakan Tembus 1.000 Orang

Oleh : Rikard Djegadut - Senin, 12/01/2026 20:05 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID - Gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang meluas di Iran diperkirakan telah menewaskan hingga 1.000 orang, menjadikannya lebih mematikan dibandingkan protes besar menyusul kematian Mahsa Amini pada 2022.

Hingga Minggu (11/1/2026), sedikitnya 544 orang dilaporkan meninggal dunia sejak unjuk rasa pecah pada akhir Desember 2025. Data tersebut dirilis Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di Amerika Serikat (AS).

Jumlah korban tewas itu melonjak tajam dibandingkan sehari sebelumnya, Sabtu (10/1/2026), yang mencatat 116 kematian. Organisasi tersebut juga mengungkapkan masih ada 579 laporan kematian tambahan yang sedang dalam proses verifikasi. Jika seluruh laporan tersebut terkonfirmasi, total korban jiwa diperkirakan mencapai 1.123 orang.

Angka ini melampaui korban tewas dalam demonstrasi besar tahun 2022 setelah kematian Mahsa Amini, yang menurut Al Jazeera menewaskan sedikitnya 500 demonstran dan menyebabkan lebih dari 20.000 orang ditangkap.

Mahsa Amini, perempuan Kurdi berusia 22 tahun, meninggal dunia dalam tahanan polisi moral setelah ditangkap karena diduga melanggar aturan berpakaian bagi perempuan. Kasus tersebut memicu kemarahan publik luas di Iran.

Selain korban jiwa, lebih dari 10.681 orang dilaporkan telah ditangkap dan dipindahkan ke berbagai penjara di sejumlah provinsi. Sky News melaporkan, sebagian besar korban meninggal dunia akibat tembakan peluru tajam dan peluru karet dari jarak dekat.

Di Ibu Kota Teheran, televisi pemerintah menayangkan gambar puluhan kantong jenazah yang disimpan di kantor forensik. Tayangan lain memperlihatkan warga berkerumun di luar Pusat Medis Forensik Kahrizak untuk mengidentifikasi anggota keluarga mereka yang tewas dalam kerusuhan.

Situasi di lapangan sulit dipantau secara menyeluruh akibat pemadaman komunikasi di 31 provinsi.

Gelombang protes awalnya dipicu oleh anjloknya nilai mata uang rial, namun kemudian berkembang menjadi salah satu tantangan terbesar bagi rezim Iran dalam beberapa tahun terakhir.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian akhirnya angkat bicara menanggapi eskalasi krisis tersebut. Dalam wawancara dengan media nasional yang berafiliasi dengan pemerintah, Pezeshkian menuding aksi kekerasan dilakukan oleh kelompok yang memiliki keterkaitan dengan kekuatan asing.

“Musuh-musuh Iran sedang mencoba menabur kekacauan dan ketidaktertiban dengan memerintahkan kerusuhan,” kata Pezeshkian.

Ia menuding kelompok tersebut terlibat dalam pembunuhan warga sipil, pembakaran tempat ibadah, serta perusakan fasilitas umum. Meski demikian, Pezeshkian menegaskan pemerintah tetap terbuka untuk mendengarkan aspirasi rakyat dan berkomitmen menyelesaikan persoalan ekonomi yang menjadi pemicu keresahan.

Presiden Iran juga menyerukan masyarakat untuk menjauh dari kelompok yang disebutnya sebagai perusuh dan teroris karena dinilai berupaya merusak tatanan sosial negara tersebut.*

Artikel Lainnya