Nasional

Ini Sikap Prabowo Soal Pelaku Teror Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS

Oleh : Rikard Djegadut - Jum'at, 20/03/2026 08:33 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID - Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk mengusut tuntas kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus. Kepala negara bahkan menyebut aksi tersebut sebagai bentuk terorisme yang tidak boleh dibiarkan terjadi di Indonesia.

Dalam pernyataannya, Prabowo menegaskan aparat penegak hukum harus bekerja maksimal, tidak hanya menangkap pelaku di lapangan, tetapi juga mengungkap aktor intelektual di balik peristiwa tersebut.

“Ini adalah terorisme. Ini tindakan biadab. Harus kita kejar. Harus kita usut. Harus kita usut!” tegas Prabowo, dikutip dari rilis Badan Komunikasi RI, Kamis (19/3/2026).

Ia juga menekankan pentingnya mengungkap pihak yang diduga memerintahkan maupun mendanai aksi tersebut. “(Termasuk) siapa yang menyuruh, siapa yang membayar,” ujarnya.

Prabowo memastikan negara tidak akan mentoleransi segala bentuk kekerasan terhadap warga negara, termasuk terhadap aktivis. Ia juga menjamin proses hukum akan berjalan tanpa pandang bulu, termasuk jika ditemukan keterlibatan aparat.

“Tidak akan ada impunitas. Saya menjamin,” tegasnya, seraya menambahkan bahwa penegakan hukum merupakan bagian dari upaya menjaga Indonesia sebagai negara beradab.

Kronologi dan Kondisi Korban

Peristiwa penyiraman air keras terjadi pada Kamis (12/3/2026) malam di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Akibat serangan tersebut, Andrie Yunus mengalami luka bakar serius di sejumlah bagian tubuh, termasuk mata, wajah, dada, dan tangan.

Manajer Hukum dan Humas Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Yoga Nara, menyampaikan bahwa mata kanan korban mengalami kerusakan sel punca kornea sekitar 40 persen.

Sebagai bagian dari penanganan medis, tim dokter telah melakukan pemasangan membran amnion serta memberikan terapi anti-inflamasi. Kondisi terkini mata kanan korban dilaporkan stabil dengan tingkat peradangan yang mulai membaik, meski proses penyembuhan masih terus dipantau.

Saat ini, Andrie masih menjalani perawatan intensif di bawah pengawasan tim medis multidisiplin.

Dalam perkembangan penyelidikan, aparat mengungkap dugaan keterlibatan empat prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam kasus tersebut.

Komandan Pusat Polisi Militer TNI, Yusri Nuryanto, menyebut keempat terduga pelaku berasal dari Detasemen Markas Badan Intelijen Strategis (Denma Bais TNI).

Mereka masing-masing berinisial Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW, dan Serda ES, yang berasal dari matra Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Saat ini, keempatnya telah diamankan dan ditahan di Pomdam Jaya.

“Masih kami dalami motifnya,” ujar Yusri.

Di sisi lain, Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan mendesak Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan pemerintah untuk membentuk tim pencari fakta independen.

Koalisi menilai penyelidikan independen diperlukan mengingat adanya dugaan bahwa aksi penyiraman dilakukan secara terstruktur dan sistematis. Mereka juga meminta Komnas HAM segera melakukan pemeriksaan untuk menilai kemungkinan adanya pelanggaran HAM berat.

Selain itu, koalisi mendorong agar temuan aparat penegak hukum, baik dari Polri maupun TNI, diperiksa ulang oleh lembaga independen guna memastikan transparansi dan akuntabilitas proses hukum.

Artikel Lainnya