Nasional

Menlu Iran Kesal, Sebut Tuntutan Nuklir AS Berlebihan di Tengah Negosiasi

Oleh : Rikard Djegadut - Sabtu, 23/05/2026 18:02 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menilai tuntutan Washington terkait program nuklir Teheran terlalu berlebihan di tengah proses negosiasi yang masih berlangsung.

Pernyataan itu disampaikan Araghchi saat berbicara dengan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, sebagaimana dilaporkan media Israel, The Times of Israel.

Dalam percakapan tersebut, Araghchi menegaskan Iran tetap berkomitmen pada jalur diplomasi meski terus menghadapi tekanan dan agresi militer. Ia juga menuding AS kerap menunjukkan sikap yang kontradiktif dalam proses perundingan.

“Iran tetap terlibat dalam proses diplomasi meski menghadapi pengkhianatan diplomasi berulang dan agresi militer terhadap Iran,” ujar Araghchi.

Ia menambahkan bahwa pemerintah AS berulang kali mengajukan tuntutan yang dinilai tidak realistis dalam pembahasan mengenai program nuklir Iran dan stabilitas kawasan Timur Tengah.

Situasi memanas setelah sejumlah media AS melaporkan bahwa Gedung Putih tengah mempertimbangkan opsi serangan baru terhadap Iran, meski hingga kini belum ada keputusan final yang diumumkan.

Di sisi lain, para pemimpin Iran disebut masih mempelajari proposal terbaru yang diajukan Washington dalam upaya mencari jalan keluar konflik yang berkepanjangan.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya juga membatalkan rencana menghadiri pernikahan putranya dan memilih tetap berada di Washington untuk menangani urusan pemerintahan. Keputusan tersebut memicu spekulasi bahwa hubungan AS-Iran tengah memasuki fase yang sensitif.

Trump bahkan menggambarkan negosiasi dengan Iran berada di titik kritis, antara tercapainya kesepakatan baru atau kembali pecahnya serangan militer.

Konflik antara AS-Israel dan Iran disebut mulai memanas sejak 28 Februari lalu. Ketegangan itu kemudian memicu aksi blokade saling balas di sekitar Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan minyak dunia yang berdampak langsung terhadap ekonomi global.

Meski gencatan senjata diberlakukan sejak 8 April, kedua pihak masih menjalani sejumlah putaran negosiasi, termasuk pembicaraan langsung yang dimediasi Pakistan. Namun hingga kini belum tercapai kesepakatan permanen maupun pemulihan penuh akses pelayaran di Selat Hormuz.

Di tengah upaya mediasi tersebut, Panglima Angkatan Darat Pakistan juga dilaporkan tiba di Teheran guna memperkuat proses diplomasi antara Iran dan AS.

Artikel Lainnya