Jakarta, INDONEWS.ID - Ketika banyak pihak berharap kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran bisa meredakan bara konflik di Timur Tengah, sikap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru mengarah ke jalur berbeda. Alih-alih melunak, Netanyahu menegaskan negaranya belum akan menghentikan operasi militer di Lebanon.
Pernyataan itu disampaikan Netanyahu pada Senin (15/6), sehari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan tercapainya kesepakatan dengan Iran yang disebut mencakup penghentian konflik di berbagai front kawasan.
Namun bagi Netanyahu, ancaman terhadap Israel belum benar-benar hilang.
Di hadapan publik, pemimpin Israel itu menyampaikan bahwa negaranya masih harus tetap siaga menghadapi berbagai potensi serangan. Menurut dia, keamanan Israel tidak bisa ditawar meski arah diplomasi kawasan mulai berubah.
“Israel harus terus berjaga-jaga, terus menjadi kuat, dan terus bertekad untuk membela diri sebisa mungkin,” kata Netanyahu, dikutip dari The Jerusalem Post.
Ucapan itu bukan tanpa konteks. Sejak perang di Jalur Gaza pecah pasca-serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, Israel juga terlibat bentrokan berkepanjangan dengan kelompok Hizbullah di perbatasan Lebanon. Serangan lintas wilayah bahkan merembet hingga Suriah, membuat kawasan Timur Tengah nyaris tak pernah benar-benar tenyap dari asap konflik.
Bagi Netanyahu, operasi militer Israel belum selesai. Ia mengklaim sebagian besar pihak yang terlibat dalam serangan Hamas telah dilumpuhkan. Meski begitu, menurutnya masih ada ancaman tersisa yang harus dihabisi.
“Israel tidak akan membiarkan organisasi teroris berkemah di perbatasan kita,” ujarnya.
Ia juga memastikan pasukan Israel akan tetap bertahan di zona penyangga keamanan Lebanon selama dianggap perlu. Pernyataan itu sekaligus menjadi sinyal bahwa Tel Aviv tidak merasa terikat pada kesepakatan yang dicapai Washington dan Teheran.
Kesepakatan antara AS dan Iran diumumkan Trump pada Minggu (14/6) setelah proses negosiasi panjang yang berlangsung alot. Salah satu poin yang mengemuka adalah rencana pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap Iran. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, bahkan menyebut pembicaraan itu turut mencakup penghentian pertempuran di berbagai titik konflik, termasuk Lebanon.
Namun di Israel, respons terhadap kabar tersebut terbilang dingin.
Sejumlah menteri pemerintahan Netanyahu secara terbuka menyatakan negaranya tidak memiliki kewajiban mengikuti hasil perundingan lantaran tidak dilibatkan dalam proses negosiasi. Sikap ini memperlihatkan adanya jarak pandang antara Washington dan Tel Aviv, meski keduanya tetap dikenal sebagai sekutu dekat.
Dalam pidato yang sama, Netanyahu sempat menyinggung hubungan dengan Trump. Ia mengakui tidak semua keputusan politik mereka selalu sejalan. Meski demikian, ia menekankan satu hal: Israel akan tetap memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir, apa pun bentuk kesepakatan yang tercapai.
“Dengan atau tanpa kesepakatan,” tegasnya.
Netanyahu juga membela keputusan Israel melakukan serangan terhadap Iran dalam beberapa waktu terakhir. Ia menyebut operasi tersebut sebagai salah satu misi terbesar dalam sejarah negaranya.
Menurutnya, Israel telah melumpuhkan ilmuwan nuklir Iran, menyerang fasilitas pengembangan senjata, hingga menyebabkan kerugian ekonomi besar bagi Teheran.
“Kita telah menyebabkan kerusakan yang sangat besar,” ujar Netanyahu, seraya menyebut estimasi kerugian Iran mencapai ratusan miliar dolar AS.
Meski nota kesepahaman antara AS dan Iran dijadwalkan ditandatangani di Swiss pada Jumat (19/6), detail isi perjanjian hingga kini masih belum diumumkan ke publik. Wakil Presiden AS JD Vance menjanjikan rincian dokumen akan dipublikasikan sebelum penandatanganan resmi.
Di tengah geliat diplomasi itu, pernyataan Netanyahu menunjukkan satu hal: bagi Israel, perdamaian di atas meja perundingan belum tentu berarti ancaman di lapangan benar-benar berakhir.