Jakarta, INDONEWS.ID – Lautan manusia diperkirakan memadati jalan-jalan di Teheran untuk mengantar kepergian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Di tengah duka nasional yang menyelimuti Republik Islam tersebut, puluhan delegasi negara sahabat dijadwalkan hadir memberikan penghormatan terakhir.
Namun, satu hal menjadi sorotan, yakni absennya Amerika Serikat dan negara-negara Barat dari prosesi pemakaman tokoh yang selama puluhan tahun menjadi simbol kekuatan politik dan ideologi Iran.
Pemerintah Iran menilai kehadiran para tamu undangan mencerminkan dukungan terhadap posisi Teheran di tengah ketegangan geopolitik yang masih berlangsung, sementara ketidakhadiran negara-negara Barat dinilai sebagai cerminan sikap politik mereka terhadap konflik yang melibatkan Iran.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan jutaan warga diperkirakan menghadiri upacara pemakaman, bersama delegasi dari sekitar 30 negara.
Ia menyebut sedikitnya delapan kepala pemerintahan atau kepala negara serta pimpinan parlemen dari 12 negara dipastikan hadir. Delegasi dari Irak, Afghanistan, dan Pakistan dilaporkan telah tiba di Teheran.
Baghaei menegaskan tidak ada negara Eropa yang diundang secara resmi dalam prosesi tersebut. Menurutnya, negara-negara yang hadir merupakan pihak yang "berada di sisi sejarah yang benar."
Ia juga melontarkan kritik keras kepada pemerintah negara-negara Eropa yang dinilai mengambil sikap "memalukan" atas aksi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Media pemerintah Iran melaporkan Rusia mengirim mantan Presiden sekaligus Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev sebagai utusan khusus Presiden Vladimir Putin.
Sementara itu, China mengutus Wakil Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional. Pemerintahan Taliban Afghanistan diwakili oleh Pelaksana Tugas Menteri Luar Negeri Amir Khan Muttaqi.
Delegasi Irak dipimpin Presiden Nizar Amidi dan Ketua Parlemen Haibet al-Halboosi. Perdana Menteri Wilayah Kurdistan, Nechirvan Barzani, juga dijadwalkan menghadiri prosesi tersebut.
Selain itu, Iran menerima kehadiran delegasi dari Pakistan, India, Turki, Azerbaijan, Armenia, Georgia, Tajikistan, Kazakhstan, Turkmenistan, Bangladesh, Malaysia, Oman, Qatar, Belarus, Kyrgyzstan, Uzbekistan, Mesir, Ghana, Nikaragua, Republik Demokratik Kongo, Serbia, Kuba, Tunisia, Lebanon, Namibia, Sri Lanka, Myanmar, Gambia, Thailand, serta perwakilan dari Shanghai Cooperation Organisation (SCO) dan Economic Cooperation Organisation (ECO).
Ali Khamenei (86) dilaporkan tewas pada Februari lalu akibat serangan terhadap kediamannya di Teheran. Jenazahnya disemayamkan selama tiga hari di Grand Mosalla Teheran, salah satu kompleks ibadah terbesar di ibu kota Iran.
Sebelum prosesi pemakaman, pemerintah menggelar upacara berkabung pada Kamis malam yang dihadiri ribuan pelayat berpakaian serba hitam. Menurut media pemerintah, sebagian besar pelayat merupakan keluarga korban yang kehilangan anggota keluarganya dalam konflik selama 12 hari pada 2025 dan perang Iran yang terjadi baru-baru ini.
Dalam prosesi tersebut, para pelayat melemparkan syal dan berbagai barang ke arah peti jenazah agar dapat menyentuhnya. Tradisi itu lazim dilakukan di Iran sebagai simbol memperoleh berkah.
Peti jenazah Khamenei diselimuti bendera merah bertuliskan kaligrafi putih "Ya Hussein", ungkapan yang memiliki makna mendalam bagi umat Syiah untuk mengenang kemartiran cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Hussein.
Rangkaian penghormatan terakhir dimulai di Grand Mosalla Teheran pada Sabtu dan Minggu, kemudian dilanjutkan di Kota Qom pada Senin. Prosesi pemakaman dan penguburan terakhir dijadwalkan berlangsung di Mashhad pada Rabu.