Jakarta, INDONEWS.ID -Berawal dari dunia teater, merambah ke sinetron, hingga kini memilih berkarya di balik layar, Lelly Mayo membawa misi yang jauh lebih besar. Perempuan yang juga aktif sebagai relawan itu tengah memperjuangkan lahirnya film kolosal tentang pahlawan nasional asal Maluku, Thomas Matulessy atau Pattimura.
Keinginan menghadirkan film tentang perjuangan Kapitan Pattimura bukan sekadar proyek perfilman bagi Lelly Majo. Baginya, film itu merupakan ikhtiar untuk menghidupkan kembali sejarah perjuangan Thomas Matulessy yang dinilai belum mendapat ruang yang layak dalam ingatan kolektif bangsa.
Gagasan tersebut berawal dari keterlibatannya dalam prosesi adat Semangat Obor Pattimura di Pulau Saparua, Maluku, sejak 2019. Ritual yang digelar setiap 15 Mei itu mengenang rapat besar Thomas Matulessy bersama para raja dan pejuang Maluku menjelang penyerbuan Benteng Duurstede pada 16 Mei 1817.
Menurut Lelly, prosesi tersebut selalu menghadirkan suasana yang sakral dan penuh makna. Namun, di balik kekhidmatan itu, ia melihat kenyataan yang membuatnya prihatin. Banyak situs bersejarah peninggalan perjuangan Pattimura yang belum terawat dengan baik dan belum menjadi pusat pembelajaran sejarah bagi masyarakat.
"Setelah ritual selesai, saya melihat situs-situs perjuangan itu sepi dan banyak yang kurang terawat. Saya sedih. Saya berpikir bagaimana caranya agar sejarah ini tidak dilupakan", ujar penggiat teater yang kini lebih banyak di belakang layar.
Gagasan membuat film Pattimura lahir karena gerakan hati. Saya sering mengikuti prosesi ritual adat Semangat Obor Pattimura setiap 15 Mei di Saparua sejak 2019. Dari situ Leli melihat langsung situs-situs perjuangan Pattimura yang kondisinya kurang terawat. "Saya sedih melihatnya", tambahnya.
Kegelisahan itu kemudian melahirkan gagasan untuk memproduksi film layar lebar tentang Pattimura. Menurutnya, film bukan hanya menjadi media hiburan, tetapi juga sarana edukasi yang mampu membangkitkan kembali semangat nasionalisme, khususnya di kalangan generasi muda.
Lelly meyakini, apabila film tersebut berhasil diwujudkan dan mendapat sambutan luas, dampaknya akan jauh melampaui dunia perfilman. Perhatian publik terhadap sejarah Pattimura diyakini dapat mendorong pelestarian situs-situs perjuangan, pembangunan infrastruktur menuju kawasan bersejarah, hingga menggerakkan ekonomi masyarakat melalui pengembangan wisata sejarah.
Persiapan produksi, kata dia, telah dilakukan. Proposal, konsep cerita, hingga kajian sejarah telah disusun. Kini, pihaknya berharap ada dukungan pemerintah serta investor yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian sejarah bangsa.
"Kami tinggal membutuhkan dukungan pemerintah dan mudah-mudahan ada donatur atau pengusaha yang bersedia membantu agar film ini benar-benar bisa diwujudkan", ujar Leli yang pernah bermain di sinetron "Tukang Ojek Pangkalan".
Harapan tersebut mulai menemukan angin segar setelah dirinya bertemu Menteri Kebudayaan bersama jajaran kementerian. Dalam pertemuan itu, pemerintah disebut memberikan respons positif terhadap gagasan pelestarian sejarah Pattimura.
Meski demikian, pemerintah saat ini memprioritaskan pelestarian rumah masa kecil Thomas Matulessy di Negeri Haria, Pulau Saparua. Rumah tersebut diharapkan dapat ditetapkan sebagai museum sehingga masyarakat memiliki ruang untuk mempelajari kehidupan sang pahlawan nasional secara lebih utuh.
Bagi Lelly, kehadiran museum menjadi langkah awal yang penting. Ia bahkan mengusulkan agar kawasan itu dilengkapi galeri cendera mata, pusat informasi sejarah, relief perjuangan, hingga miniatur pertempuran sehingga berkembang menjadi destinasi wisata sejarah dan edukasi yang mampu menghidupkan ekonomi masyarakat setempat.
Melalui film yang direncanakannya, Lelly juga ingin meluruskan sejumlah pemahaman yang selama ini keliru di masyarakat. Menurutnya, banyak orang mengenal nama Pattimura, tetapi belum memahami bahwa nama asli pahlawan tersebut adalah Thomas Matulessy. Sementara "Pattimura" merupakan gelar pimpinan tertinggi pasukan perlawanan terhadap Belanda yang diberikan raja Sahulau sebagai penghormatan atas kepemimpinan dan keberaniannya memimpin perlawanan terhadap penjajah.
Ia berharap film tersebut juga mengangkat kisah perjuangan secara lebih utuh, termasuk peran Martha Christina Tiahahu, para pejuang Maluku, serta sebelas raja yang bersatu mendukung perjuangan Thomas Matulessy dalam merebut Benteng Duurstede dari kekuasaan Belanda yang saat itu dipimpin Residen Van den Berg pada 1817. Menurutnya, semangat persatuan para pemimpin adat dan rakyat Maluku merupakan bagian penting dari sejarah yang patut dikenalkan kepada generasi muda.
Lelly berharap, melalui film, museum, dan pengembangan kawasan sejarah di Saparua, masyarakat tidak hanya mengenal nama Pattimura sebagai pahlawan nasional, tetapi juga memahami perjalanan hidup, perjuangan, nilai-nilai kepemimpinan, serta semangat persatuan yang diwariskannya bagi Indonesia.
"Kalau semua itu terwujud, masyarakat tidak hanya mengenal nama Pattimura, tetapi juga memahami perjuangannya, rumah tinggalnya, peninggalannya, serta nilai-nilai yang diwariskannya kepada bangsa Indonesia," ujar Lelly.
