Nasional

Asri Hadi: Ivan Gunawan Membawa Wastra Indonesia Keluar dari Panggung Mode Menuju Ruang Kebudayaan

Oleh : luska - Rabu, 05/08/2026 14:29 WIB


Asri Hadi: Ivan Gunawan Membawa Wastra Indonesia Keluar dari Panggung Mode Menuju Ruang Kebudayaan

Jakarta, INDONEWS.ID — Langkah pengunjung melambat begitu memasuki D'Galerie, Jakarta Selatan. Ruang yang biasanya sunyi berubah menjadi lanskap visual yang dipenuhi instalasi mode. Tidak ada gemerlap catwalk. Tidak terdengar dentuman musik khas peragaan busana. Yang hadir justru suasana kontemplatif, seolah setiap karya mengundang pengunjung untuk berhenti, memperhatikan, lalu bertanya: apa sebenarnya yang sedang dipamerkan di sini?

Busana? Seni? Atau kebudayaan?

Di salah satu sudut galeri, wartawan senior sekaligus sosiolog Asri Hadi berdiri cukup lama memperhatikan sebuah gaun berbahan batik Sekar Jagat dari Pamekasan, Madura. Sesekali ia mendekat, mengamati detail motif, tekstur kain, hingga permainan siluet yang tegas namun tetap anggun. Baginya, yang sedang berlangsung di ruang ini jauh melampaui sebuah pameran mode.

"Saya melihat ini bukan sekadar fashion exhibition. Ini adalah ruang dialog kebudayaan. Fashion diperlakukan sebagai bahasa yang menjelaskan siapa kita sebagai bangsa. Ketika selembar batik ditempatkan dalam sebuah instalasi seni, yang dipamerkan bukan hanya keindahan visualnya, tetapi juga sejarah, identitas, nilai, dan kerja peradaban yang melahirkannya," ujar Asri Hadi.

Pernyataan itu seperti menjadi pintu masuk untuk memahami NUSANOVA 2.0: Sekar Jagat, pameran yang berlangsung hingga 7 Agustus 2026. Pengunjung memang datang untuk melihat karya terbaru Ivan Gunawan. Namun, mereka pulang dengan pengalaman yang berbeda. Mereka tidak hanya melihat pakaian, tetapi menyaksikan bagaimana sebuah karya lahir dari proses kreatif yang panjang.

Di sinilah letak perbedaan mendasar NUSANOVA 2.0 dibandingkan sebagian besar pameran fashion di Indonesia.
Lazimnya, sebuah pameran mode hanya memperlihatkan hasil akhir - koleksi yang telah selesai dijahit, dipoles, lalu dipajang dengan pencahayaan dramatis. Ivan Gunawan justru memilih membuka seluruh proses kreatifnya kepada publik. Sebanyak 23 instalasi mode memenuhi ruang galeri, memperlihatkan perjalanan sebuah rancangan sejak lahir sebagai gagasan, berkembang menjadi sketsa, diterjemahkan ke dalam pola, diperkaya melalui eksplorasi material, hingga akhirnya menjadi karya couture.

Fashion tampaknya, menurut Asri Hadi, tidak lagi berhenti sebagai produk. Ia berubah menjadi proses. Ia menjadi pengetahuan. Ia menjadi pengalaman.

Konsep inilah yang membuat NUSANOVA 2.0 lebih dekat dengan praktik kuratorial di berbagai museum dan rumah mode dunia, ketika busana diperlakukan sebagai artefak budaya, bukan sekadar komoditas industri.
Ivan Gunawan mengaku sengaja memilih pendekatan tersebut karena merasa masyarakat selama ini hanya mengenal kemewahan sebuah busana, tetapi jarang memahami perjalanan panjang di baliknya.

"Sebuah busana lahir dari kerja banyak tangan. Ada pembatik, pembuat pola, penyulam, penjahit, artisan, hingga para perajin yang mengerjakan detail demi detail dengan kesabaran luar biasa. Saya ingin publik melihat proses itu. Ketika orang memahami prosesnya, mereka akan lebih menghargai karya dan budaya yang melahirkannya," ujar Ivan Gunawan.

Pilihan Igun - sapaan akrab Ivan Gunawan - mengangkat batik Sekar Jagat dari Madura, juga bukan keputusan artistik semata.

Batik Madura, katanya, memiliki karakter yang berbeda dibandingkan banyak batik dari daerah lain. Warna-warnanya berani, motifnya ekspresif, dan memiliki keberanian visual yang kuat. Karakter itulah yang diterjemahkan Igun ke dalam siluet modern yang tegas, feminin, sekaligus edgy.

Lebih dari itu, kolaborasi tersebut menghadirkan dampak nyata bagi para perajin batik di Madura. Ketika permintaan terhadap kain batik mulai menurun, kehadiran proyek ini kembali menghidupkan aktivitas para pembatik. Ratusan lembar kain diproduksi untuk memenuhi kebutuhan koleksi. Di balik setiap busana yang tampil di galeri, tersimpan denyut ekonomi kreatif yang kembali bergerak.

Bagi Asri Hadi, aspek inilah yang membuat NUSANOVA 2.0 memiliki makna lebih luas daripada sekadar agenda fashion tahunan. "Industri kreatif hari ini tidak cukup hanya menghasilkan produk yang indah. Ia harus mampu membangun ekosistem. Ketika seorang desainer menghidupkan kembali semangat para perajin, menghubungkan tradisi dengan pasar modern, lalu mengemasnya menjadi pengalaman budaya yang dapat dinikmati publik, di situlah fashion menjalankan fungsi sosialnya," kata Asri.

Menurutnya, dunia sedang mengalami perubahan besar dalam cara memandang mode. Rumah-rumah mode internasional tidak lagi hanya menjual pakaian, tetapi juga menjual cerita, identitas, dan pengalaman. Museum-museum besar menghadirkan pameran fashion sebagai bagian dari narasi sejarah dan kebudayaan. Dalam konteks itu, Indonesia memiliki modal yang sangat kaya karena setiap wastra Nusantara sesungguhnya menyimpan kisah tentang peradaban.

"Kita sering berbicara tentang hilirisasi sumber daya alam. Padahal kita juga membutuhkan hilirisasi kebudayaan. Wastra Indonesia tidak boleh berhenti sebagai produk tekstil. Ia harus naik kelas menjadi narasi budaya, menjadi intellectual property, menjadi diplomasi budaya Indonesia di tingkat global. Saya melihat NUSANOVA sedang bergerak ke arah itu," ujar Asri.

Selama ini, publik lebih mengenal fashion sebagai sesuatu yang mengikuti musim, tren, dan selera pasar. NUSANOVA 2.0 menawarkan perspektif yang berbeda. Fashion tidak lagi hanya berbicara tentang apa yang dikenakan seseorang, tetapi juga tentang siapa yang membuatnya, bagaimana prosesnya, dan nilai-nilai apa yang diwariskan melalui selembar kain.

Di tengah arus industri mode yang semakin seragam akibat globalisasi, pendekatan semacam ini menjadi penting. Kreativitas tidak lagi lahir dengan meninggalkan tradisi, melainkan justru bertumbuh dari akar budaya yang kuat.
Menjelang meninggalkan galeri, Asri Hadi kembali memandang salah satu instalasi batik Madura yang berdiri anggun di bawah sorot cahaya. Baginya, pameran ini meninggalkan sebuah pelajaran sederhana.

"Kalau fashion hanya berhenti pada pakaian, ia akan usang ketika musim berganti. Tetapi ketika fashion menjadi kebudayaan, ia akan selalu menemukan cara untuk hidup, melintasi zaman, dan tetap relevan bagi generasi berikutnya. Itulah yang saya lihat di NUSANOVA 2.0: sebuah upaya merawat masa depan melalui warisan buday," cerita Asri lagi.

Barangkali, itulah makna terdalam dari Sekar Jagat. Sebuah pameran yang tidak hanya merayakan keindahan wastra Nusantara, tetapi juga mengingatkan bahwa di balik setiap helai kain, selalu ada cerita tentang manusia, tentang tradisi, dan tentang sebuah bangsa yang terus mencari cara baru untuk mengenalkan dirinya kepada dunia.

Artikel Lainnya