Nasional

Konten "Anak AC" Viral, Pakar IPB University Ungkap Pentingnya Melatih Daya Juang Generasi Alfa

Oleh : very - Kamis, 06/08/2026 20:34 WIB


Prof Dwi Hastuti, ahli pengasuhan dan perkembangan anak IPB University. (Foto: Humas IPB University)
Prof Dwi Hastuti, ahli pengasuhan dan perkembangan anak IPB University. (Foto: Humas IPB University)

Bogor, INDONEWS.ID - Viralnya konten "anak AC" yang mengaitkan generasi Alfa dengan ketidakmampuan bertahan saat upacara di tengah cuaca panas menjadi pengingat bahwa kemudahan teknologi membawa tantangan baru dalam pola pengasuhan anak.

Di balik berbagai fasilitas yang semakin memudahkan kehidupan, ahli pengasuhan dan perkembangan anak IPB University, Prof Dwi Hastuti, menyatakan bahwa anak tetap perlu dilatih menghadapi ketidaknyamanan agar tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan adaptif.

Gen Alfa merupakan anak yang lahir pada 2010–2025 atau saat ini berusia sekitar 1–16 tahun. Generasi ini tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, digitalisasi, serta beragam fasilitas yang memberikan kenyamanan, termasuk penggunaan pendingin ruangan (AC).

“Dari perspektif psikologis, kondisi tersebut membuat anak-anak gen Alfa cenderung terbiasa memperoleh kemudahan sehingga karakter kegigihan, ketahanan mental, dan daya juang mereka berpotensi tidak sekuat generasi sebelumnya,” ujar Prof Tuti melalui pernyataan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (6/8/2026).

 

Akibat Lingkungan dan Gaya Hidup

Prof Tuti menambahkan, gaya hidup di sekitar anak turut membentuk karakter mereka. Kehadiran media sosial membuat anak lebih sering membandingkan situasi yang dialaminya dengan pengalaman orang lain atau tokoh yang mereka ikuti.

"Gaya hidup di sekitar lingkungan anak-anak ini juga akan mempengaruhi karakter gen Alfa, karena mereka kerap membandingkan situasi yang dihadapi dengan apa yang dialami orang lain dan tokoh di media sosial," katanya.

Kemudahan fasilitas juga membentuk kebiasaan berpikir serba instan. Saat merasa kepanasan, misalnya, anak cenderung langsung menyalakan AC tanpa mencoba alternatif lain seperti menggunakan kipas tangan, mencari tempat yang lebih sejuk, atau mengenakan pakaian berbahan katun yang lebih nyaman.

Menurut Prof Tuti kebiasaan tersebut dapat membuat anak kurang terbiasa mencari solusi ketika menghadapi masalah. Pola hidup yang minim aktivitas fisik (sedentary life) juga menjadi salah satu karakter yang mulai banyak ditemui pada gen Alfa.

Ia menilai kondisi tersebut dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, sekolah, dan budaya yang semakin mengutamakan kepraktisan. Jika dahulu anak terbiasa berjalan kaki ke sekolah, kini banyak yang diantar menggunakan kendaraan pribadi atau jemputan sekolah karena alasan kenyamanan, keamanan, dan efisiensi.

 

Peran Penting Orang Tua

Karena itu, Prof Tuti menekankan bahwa orang tua memiliki peran penting dalam membangun ketangguhan anak. Orang tua perlu memberikan teladan sekaligus menjelaskan alasan di balik setiap pilihan sehingga anak terbiasa berpikir, menganalisis, dan mengambil keputusan.

"Ajak anak untuk mengalami juga bagaimana jika ia harus jalan kaki, bagaimana jika tiba-tiba tidak punya uang, tidak punya aneka fasilitas yang membantu mereka. Hal ini agar anak terbiasa dengan manajemen risiko, sehingga ia tidak bermental ’lembek’, mudah menyerah serta mudah putus asa," jelasnya.

Ia juga menyarankan agar anak diajak melihat berbagai kondisi sosial di sekitarnya untuk melatih empati, berdiskusi, serta belajar menghadapi berbagai kemungkinan dalam kehidupan.

Menurut Prof Tuti, anak yang terlalu bergantung pada fasilitas dan selalu dilayani berisiko mengalami kesulitan beradaptasi ketika menghadapi tantangan. Karena itu, anak perlu dibiasakan melakukan berbagai hal secara mandiri agar mampu mengelola diri, menyelesaikan masalah, dan tidak mudah menyerah.

"Hal ini karena salah satu kunci keberhasilan anak di masa depan adalah individu yang agile, mudah beradaptasi dan menyelesaikan masalah serta kreatif," pungkasnya. *


Artikel Lainnya