Daerah

Pembunuhan Dua Pelajar Picu Protes, Ratusan Massa Duduki Kantor DPRD Mimika

Oleh : Rikard Djegadut - Selasa, 01/09/2026 13:03 WIB


Pembunuhan Dua Pelajar Picu Protes, Ratusan Massa Duduki Kantor DPRD Mimika

Jakarta, INDONEWS.ID - Gelombang demonstrasi pecah di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, menyusul tewasnya dua pelajar berinisial NG dan TK yang ditemukan di Distrik Kuala Kencana. Kerukunan Keluarga Besar Jayawijaya (KKBJ) bersama ratusan mahasiswa menggelar aksi dan menduduki Kantor DPRD Kabupaten Mimika, Senin (31/8/2026). Massa mendesak pemerintah daerah segera mengambil langkah untuk menghentikan konflik horizontal yang terjadi berulang di kawasan Kwamki Narama.

Kedua korban ditemukan warga dalam kondisi meninggal dunia di sebuah bengkel ketok magic di Jalan Yan Tinal SP 3, Kelurahan Karang Senang, pada Minggu (30/8/2026).

Kasus tersebut memicu kemarahan masyarakat karena diduga berkaitan dengan konflik antarkelompok yang telah berlangsung cukup lama di wilayah Kwamki Narama.

Dalam aksi di depan Kantor DPRD Mimika, massa meminta pimpinan DPRD dan Bupati Mimika menemui mereka. Demonstran juga mempertanyakan tanggung jawab pemerintah daerah dan aparat keamanan dalam menjaga situasi keamanan di wilayah tersebut.

Orator aksi, Fransiska Pinimet, menilai konflik yang terus berulang telah menyebabkan jatuhnya korban dari kalangan masyarakat sipil.

"Kami mendesak Bupati Mimika untuk hadir di sini. Kami menganggap bupati gagal dan tidak mampu menyelesaikan konflik yang terus berulang di Kabupaten Mimika," ujar Fransiska di tengah aksi.

Sementara itu, Anggota DPR Papua Tengah Peanus Uamang meminta masyarakat tidak memperluas konflik dan mengimbau seluruh pihak menahan diri.

"Ini merupakan tindakan kriminal. Saya meminta masyarakat Kwamki Narama untuk tidak menyebarkan konflik ke mana-mana. Jangan sampai ada lagi korban berjatuhan dari pihak manapun," kata Peanus kepada Tribun-Papua.com di Nabire, Senin (31/8/2026).

Menurut Peanus, pemerintah provinsi sebelumnya telah berupaya menyelesaikan persoalan sosial di Kwamki Narama melalui prosesi adat patah panah. Namun, upaya tersebut dinilai belum sepenuhnya menghentikan kekerasan yang kembali terjadi.

Ia mendorong pemerintah daerah dan aparat keamanan memperkuat koordinasi untuk mencegah konflik kembali meluas.

"Pihak keamanan dan pemerintah daerah harus mengambil langkah tegas agar timbul kesadaran di tengah masyarakat. Menjaga Kamtibmas adalah hal yang paling mendasar. Bagaimana masyarakat bisa beraktivitas dengan tenang jika keamanan belum terjamin? Kalau situasi seperti ini terus dibiarkan, kapan persoalan ini bisa selesai," ujarnya.

Hingga kini, kasus kematian dua pelajar tersebut masih dalam penanganan aparat. Motif dan pihak yang bertanggung jawab atas kematian NG dan TK perlu menunggu hasil penyelidikan resmi kepolisian.

Artikel Lainnya