Jakarta, INDONEWS.ID – Keterbatasan akses geografis tidak menghalangi PT Permodalan Nasional Madani (PNM) memperluas layanan pembiayaan bagi perempuan pelaku usaha. Untuk pertama kalinya, PNM melalui program Mekaar hadir di kawasan Baduy Luar dan menyalurkan pembiayaan kepada tiga perempuan asli suku Baduy.
Ketiga nasabah tersebut yakni Saenah, Juni, dan Sarti yang merupakan warga permukiman Lebak 2. Rumah mereka berada cukup jauh di dalam kawasan Baduy dan hanya dapat dijangkau dengan berjalan kaki melalui jalur setapak yang membelah kawasan hutan.
Kehadiran PNM di wilayah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses pembiayaan dan pemberdayaan bagi perempuan di wilayah yang sulit dijangkau layanan keuangan formal.
“Setiap perempuan prasejahtera di Indonesia berhak mendapatkan pembiayaan dan pemberdayaan dimanapun lokasi mereka,” kata Direktur Utama PNM Kindaris.
Menurut Kindaris, PNM terus berupaya menghadirkan akses pembiayaan sekaligus pemberdayaan hingga ke wilayah dengan tantangan geografis yang tinggi.
“Itulah yang terus PNM upayakan, sejauh mana perusahaan mampu menghadirkan harapan bagi masyarakat bahkan yang berada di wilayah paling sulit dijangkau,” ujarnya.
Saenah menjadi salah satu penerima pembiayaan pertama PNM Mekaar di kawasan tersebut. Ia menjalankan usaha jual beli hasil bumi, sekaligus mengembangkan keterampilan membuat tas koja dan menenun kain khas Baduy. Pada pencairan pertamanya, Saenah memperoleh pembiayaan Rp4 juta yang digunakan untuk membeli hasil bumi saat musim panen.
Sementara itu, Juni mendapatkan pembiayaan Rp6 juta untuk menopang usaha warung dan jual beli hasil bumi. Adapun Sarti memperoleh pembiayaan Rp4 juta yang dimanfaatkan untuk memperlancar perputaran modal usaha jual beli hasil bumi.
Bagi ketiganya, pembiayaan tersebut merupakan pengalaman pertama menggunakan layanan keuangan formal. Mereka mengenal PNM Mekaar dari lingkungan terdekat, termasuk saudara yang sebelumnya telah menjadi nasabah.
Kebutuhan modal terutama meningkat ketika musim panen tiba. Dengan proses pengajuan yang dinilai mudah, ketiganya kemudian berani memanfaatkan pembiayaan untuk memperkuat usaha masing-masing. Saenah mengaku pembiayaan tersebut membantunya menjaga perputaran usaha.
“Dengan Mekaar, alhamdulillah itu dapat gitu ya. Barang-barang bisa kebeli. Sudah beli kain, sudah dapat juga buat usaha,” ujar Saenah.
Kehadiran PNM di Baduy juga menunjukkan tantangan geografis masih menjadi salah satu persoalan dalam memperluas inklusi keuangan. Di kawasan tersebut, perjalanan menuju permukiman warga tidak seluruhnya dapat dilakukan menggunakan kendaraan. Akses menuju rumah-rumah warga harus ditempuh melalui jalan setapak di tengah kawasan hutan.
Di sisi lain, aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan. Hasil bumi diperjualbelikan ketika musim panen, warung menjadi sumber penghasilan keluarga, sementara kain khas Baduy dan tas koja diproduksi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat.
Melalui Mekaar, PNM tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi juga mengombinasikannya dengan pendampingan dan pemberdayaan. Model tersebut diarahkan agar nasabah dapat menggunakan modal secara produktif sekaligus memiliki kesempatan untuk mengembangkan kapasitas usahanya.
PNM menyebut perluasan layanan tersebut merupakan bagian dari komitmen menjangkau masyarakat di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), termasuk daerah dengan tantangan akses dan infrastruktur.
“Tiga pencairan pertama di tanah Baduy luar akhirnya menjadi lebih dari sekadar catatan penyaluran pembiayaan. Ia menjadi penanda bahwa ketika ada perempuan yang ingin mengembangkan usahanya, PNM bersedia menempuh jalan yang lebih jauh untuk menemuinya,” kata Kindaris.
Ia menegaskan, faktor jarak tidak seharusnya menjadi penghalang bagi perempuan untuk memperoleh kesempatan mengembangkan usaha.
“Tidak ada wilayah yang terlalu jauh untuk dihadiri PNM memberikan pembiayaan dan pemberdayaan selama masih ada perempuan yang ingin usahanya tumbuh,” ujar Kindaris.