Nasional

Rangkaian Peringatan 50 Tahun, Ajak Masyarakat Kenali Batik Madura & Jawa Timur SURABAYA

Oleh : luska - Jum'at, 11/09/2026 15:09 WIB


Rangkaian Peringatan 50 Tahun, Ajak Masyarakat Kenali Batik Madura & Jawa Timur SURABAYA

Jakarta, INDONEWS.ID - Himpunan Wastraprema kembali menggelar Wisata Wastra 2026 sebagai agenda tahunan. Mengusung tema “Eksplorasi Pesona Wastra Jawa Timur dan Karya Batik Adiluhung”, kegiatan ini berlangsung pada 10-12 September 2026 di Surabaya dan Bangkalan, Madura dengan perjalanan menggunakan kereta api.

Wisata Wastra kali ini merupakan kegiatan ketiga dalam periode 2023-2027. Sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Ulang Tahun Emas ke-50 Himpunan Wastraprema dan dalam rangka peringatan Hari Batik Nasional 2 Oktober 2026 yang akan datang. Dengan konsep wisata budaya yang menarik dan edukatif, serta ramah lingkungan, para peserta diajak menyusuri sejarah dan keunikan wastra di sepanjang jalur perjalanan menuju Kota Pahlawan Surabaya. Agenda utama kegiatan adalah diskusi dan bincang-bincang wastra bersama ahli, mahasiswa, pencinta wastra, serta pertemuan langsung dengan para pengrajin untuk melihat proses pembuatan batik di masing-masing daerah.

Hari Pertama: Keunikan Wastra Batik di pesisir Utara

Kegiatan hari pertama, dalam perjalanan dengan Kereta Api dari Jakarta menuju kota Surabaya diisi dengan jabaran keunikan wastra Batik serta pengetahuan tentang pemberian Indikasi Geographis pada Wastra Batik sebagai bentuk perlindungan hukum yang dikeluarkan oleh Direktorat Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum Republik Indonesia. Suatu hal yang penting dari Indikasi Geographis (IG) adalah sebagai tanda yang melindungi produk batik yang berasal dari daerah tertentu karena dipengaruhi oleh faktor lingkungan, alam dan mempunyai keahlian teknik khusus ketrampilan manusianya. Beberapa diantaranya adalah Batik Complongan dari Indramayu, Batik Tulis Marawit dari Cirebon , Batik Nitik dari Jogjakarta, dan banyak lagi.

Dilanjutkan kegiatan di Hari Kedua: 

Dipusatkan di Bangkalan, Madura. Sesi diskusi mengangkat topik “Eksplorasi Keunikan Ragam Hias Batik Madura” bersama Ibu Siti Maemonah selaku narasumber dan pemilik koleksi batik pilihan. Menurut Siti Maemonah, Batik Madura mulai berkembang sejak abad ke-17 hingga ke-18 melalui jalur pelayaran dan perdagangan. Awalnya dipengaruhi oleh batik pesisir Jawa, Bugis, dan Tionghoa karena posisi Madura sebagai pelabuhan penting. Ciri khasnya adalah warna yang berani, cerah, dan tegas. Menurut Maemonah, salah satu batik Madura yang telah mendapat Sertifikat Indikasi Geografis (IG) adalah Batik Gentongan. Nama "Gentongan" berasal dari proses pewarnaan di dalam gentong tanah liat. Teknik ini membuat warna meresap kuat dan tidak mudah pudar. Batik ini awalnya digunakan oleh para Nyai di pesantren dan keluarga Keraton Bangkalan sekitar abad ke-19 tutur Siti Maemonah .

Pada kesempatan tersebut puluhan peserta ikut memeriahkan acara dengan memperagakan wastra Batik Madura dengan berbagai keunikannya dan daerah penghasil karya batik Madura didatangkan seperti dari Pamekasan, Tanjung Bumi (Bangkalan), Sumenep dan Sampang. Tak hanya itu peserta juga melihat sendiri proses pewarna Gentongan yang menjadi ciri khas Batik Madura dan menikmati Kuliner khas yaitu nasi Serpang dan Bebek Sinjai. Di akhir sesi, Ketua Umum Himpunan Wastraprema Sri Sintasari Iskandar menyerahkan piagam penghargaan kepada Ibu Siti Maemonah dan para peserta yang berpartisipasi.

Kegiatan Pada Hari Ketiga: Pesona Batik Pesisir Jawa Timur di Surabaya

Kegiatan dilanjutkan pada 12 September 2026 di Universitas Kristen Petra Surabaya dengan topik “Pesona Wastra Batik Jawa Timur dan Cipta Karya Batik Adiluhung”. Menyambut baik kegiatan ini, Dr. Ir. Lintu Tulistantoro, Dosen Senior Program Studi Desain Interior Fakultas Seni dan Desain UK Petra, menyampaikan bahwa Jawa Timur merupakan gudangnya batik pesisir.

Dikemukakan, Dosen senior Program Studi Desain Interior DR Ir Lintu Tulistantoro, Batik Jawa Timur berkembang sejak abad ke-15 hingga ke-17 melalui jalur perdagangan dan pelabuhan. Pengaruhnya merupakan perpaduan Keraton Mataram, Tionghoa, Arab, dan Eropa. Karena berada di jalur pelabuhan yang ramai, motif dan warna batik Jatim lebih bebas dan tidak terikat pakem keraton. Salah satu contohnya adalah batik pesisiran Surabaya yang dipengaruhi oleh Pelabuhan Tanjung Perak. Ciri khasnya adalah motif Suro dan Boyo – buaya dan hiu – yang merupakan legenda asal nama Kota Surabaya. Kemeriahan acara semakin lengkap dengan peragaan busana karya kreasi mahasiswa UK Petra menggunakan kain Batik Jawa Timur tanpa dijahit. Ada pula Selayang Pandang Peragaan Batik Jawa Timur Pilihan dari Koleksi Ir. Lintu oleh Anggota Komunitas KIBAS & KCBI Surabaya, serta Pasar Mini oleh Perajin Batik & Pelaku Kerajinan Jawa Timur.

Kegiatan bincang wastra didahului dengan peresmian Batik Corner di Gedung Perpustakaan Universitas Kristen Petra Surabaya dan sangat didukung oleh Ketua Umum Himpunan Wastraprema (HWP) Sri Sintasari (Neneng) Iskandar yang menyerahkan sejumlah buku, katalog dan jurnal yang diterbitkan oleh HWP untuk menambah koleksi pengetahuan tentang wastra batik.

Kegiatan juga diisi dengan temu kangen bersama perajin, di antaranya Batik khas Trenggalek, Tenun Gedok Tuban, Tenun Goyor dari Jombang dan banyak lagi.

Lebih lanjut dijelaskan “Wastra batik adalah kain tradisional yang memiliki makna dan simbol tersendiri. Nilai tingginya terletak pada sejarah dan makna di setiap helainya. Batik mengacu pada dimensi warna, bahan, dan ukuran. Tradisi membatik di berbagai daerah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat,” ujar Sri Sintasari Iskandar. Lebih lanjut Sri Sintasari berharap kegiatan ini dapat memperluas jaringan komunikasi dan kerja sama dalam pengembangan wastra Nusantara, sekaligus meningkatkan pemberdayaan para pelaku dan komunitas pengrajin batik di tanah air.

Kehadiran Arumi Backsin Elistianto Dardak selaku Ketua Dewan Kerajinan Nasional Jawa Timur sangat mendukung kegiatan sejenis sebagai upaya memperdayakan para perajin agar semakin maju dan mampu bersaing dipasar nasional maupun internasional.

“Kami mengajak berbagai kalangan untuk mengenal dan mempelajari wastra, khususnya Batik Madura dan Jawa Timur, agar warisan ini terus hidup berkembang dan tidak punah,” tambahnya.Wisata Wastra 2026 diikuti oleh 20 peserta dari kalangan pencinta wastra dan berbagai komunitas.

Kegiatan ditutup dengan penyerahan piagam penghargaan kepada para pemenang dan seluruh pihak yang telah berpartisipasi.



---------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Sekilas mengenai Himpunan Wastraprema (HWP)


Himpunan Wastraprema (HWP) merupakan suatu wadah yang beranggotakan para pencinta kain adati tradisi Indonesia yang didirikan dan dilegalisasi tanggal 28 Januari 1976.

Salah satu pendirinya adalah Ir.Safioen yang ketika itu menjabat sebagai Dirjen Tekstil Departemen Perindustrian yang didukung penuh Ali Sadikin Gubernur DKI Jakarta waktu itu.

Gubernur Ali Sadikin menyediakan tempat sebuah museum, yang dikenal dengan Museum Tekstil yang diresmikan bersamaan dengan berdirinya Wastaprema pada tanggal 28 Juni 1976 .

Koleksi pertama Museum Tekstil berupa 500 helai lembar kain yang merupakan hibah dari beberapa gubernur pemerintah daerah dan anggota Himpunan Wastraprema.

Misi Himpunan Wastraprema mengangkat citra,pemahaman dan apresiasi terhadap seni budaya kain tradisional Indonesia agar semakin dikenal, diminati, dihayati dan dilestarikan untuk diwariskan ke generasi penerus.

Nama Wastraprema diambil dari Bahasa Sansekerta, Wastra berarti kain dan prema artinya cinta, Pameran merupakan salah satu sarana untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai wastra nusantara, disamping ceramah, diskusi dan pertemuan periodik.


Ketua Umum Himpunan Wastraprema Periode 2023-2027 Siti Sintasari Iskandar atau Neneng Iskandar



Artikel Lainnya