indonews

indonews.id

Israel Peringatkan Presiden Suriah Setelah Serangan Udara Dekat Istana Presiden di Damaskus

Menteri Pertahanan Israel, Yisrael Katz, mengeluarkan peringatan terbuka kepada Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa setelah serangan udara yang dilakukan oleh Angkatan Udara Israel pada Jumat pagi, yang menargetkan sekitar istana presiden di Damaskus.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID - Menteri Pertahanan Israel, Yisrael Katz, mengeluarkan peringatan terbuka kepada Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa setelah serangan udara yang dilakukan oleh Angkatan Udara Israel pada Jumat pagi, yang menargetkan sekitar istana presiden di Damaskus.

Dalam sebuah postingan di platform X, Katz menyatakan, "Ketika al-Julani (sebelumnya dikenal sebagai Presiden Ahmad al-Sharaa) bangun di pagi hari dan melihat hasil serangan Angkatan Udara Israel, dia akan memahami sepenuhnya bahwa Israel bertekad untuk mencegah kerusakan terhadap Druze di Suriah."

Katz menambahkan bahwa serangan ini, yang diluncurkan di sekitar istana presiden, adalah pesan peringatan yang jelas untuk rezim Suriah. "Mutlak adalah kewajiban agama kami untuk melindungi Druze di pinggiran Damaskus dan memungkinkan mereka membela diri," ujar Katz. Ia juga mencatat bahwa Israel bertanggung jawab untuk melindungi Druze di Suriah demi melindungi warga Druze yang ada di Israel.

Ini merupakan serangan udara kedua Israel dalam dua hari berturut-turut, yang diklaim sebagai bentuk pembelaan terhadap komunitas Druze di Suriah.

Ketegangan meningkat setelah bentrokan antara pasukan Keamanan Umum Suriah dan warga Druze di Jaramana dan Ashrafieh Sahnaya yang menyebabkan korban tewas dan cedera dari kedua belah pihak. Bentrokan ini akhirnya berakhir dengan kesepakatan yang mengizinkan pasukan keamanan untuk masuk ke dua kota di pinggiran ibu kota.

Kampanye Israel yang semakin gencar terhadap rezim Suriah ini terjadi di tengah ketegangan internal yang meningkat, terutama menyusul kekerasan sektarian yang terjadi di Suriah.

Baru-baru ini, lebih dari 100 orang tewas dalam pertempuran antara pasukan pro-pemerintah dan pejuang Druze, yang turut mengundang kecaman keras dari pemimpin spiritual Druze Suriah, Sheikh Hikmat al-Hijri. Ia menyerukan intervensi internasional untuk mencegah berlanjutnya kekerasan terhadap komunitas Druze.

Pada saat yang sama, Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, mendesak masyarakat internasional untuk melindungi kelompok minoritas Druze di Suriah dari tindakan represif rezim Assad. "Kewajiban internasional untuk melindungi Druze dari kekerasan rezim Suriah harus segera dipenuhi," kata Saar.

Di sisi lain, Menteri Penerangan Suriah, Hamza al-Mustafa, mengecam serangan Israel dan menyebutnya sebagai ancaman terhadap rakyat Suriah dan aspirasi mereka setelah kejatuhan rezim Bashar al-Assad. Ia menekankan pentingnya diplomasi Suriah yang meminta agar serangan tersebut dihentikan dan mendesak agar situasi tidak berkembang menjadi konflik sektarian lebih lanjut.

Kekerasan sektarian yang terjadi di Suriah menjadi salah satu tantangan terbesar bagi pemerintahan baru Suriah, yang dipimpin oleh Ahmad al-Sharaa, yang sebelumnya memimpin koalisi kelompok pemberontak untuk menggulingkan Presiden Bashar al-Assad. Konflik sektarian terus berlangsung setelah pembantaian terhadap lebih dari 1.700 warga sipil dari komunitas Alawi pada bulan Maret lalu.*

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas