indonews

indonews.id

Kecam Pelaporan JK, Sekjen PEKAT: Ini Ciri Iman yang Immature, Eksploitasi Agama Demi Kepentingan Sesaat

Pemuda Katolik Timur (PEKAT) menyampaikan sikap tegas terkait pelaporan terhadap mantan Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, atas dugaan penistaan agama yang dilayangkan oleh sejumlah organisasi, termasuk Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) dan elemen masyarakat lainnya.

Reporter: indonews
Redaktur: indonews

Jakarta, INDONEWS.ID – Pemuda Katolik Timur (PEKAT) menyampaikan sikap tegas terkait pelaporan terhadap mantan Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, atas dugaan penistaan agama yang dilayangkan oleh sejumlah organisasi, termasuk Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) dan elemen masyarakat lainnya.

Pelaporan tersebut merupakan buntut dari ceramah Jusuf Kalla di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dinilai menyinggung umat Kristiani. Dalam laporan ke kepolisian, GAMKI dan sejumlah lembaga Kristen merujuk pada beberapa pasal dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 terkait dugaan penistaan agama. Seperti Pasal 300 dan/atau Pasal 301 dan/atau Pasal 263 dan/atau Pasal 264 dan/atau Pasal 243 Undang-undang Nomor 1 Tahun 2023.

Namun, Sekretaris Jenderal PEKAT, Rikard Djegadut, menilai pelaporan tersebut sebagai bentuk respons yang berlebihan dan tidak mencerminkan kedewasaan dalam beriman.

“Pelaporan terhadap Jusuf Kalla merupakan bentuk iman yang immature atau kekanak-kanakan. Ini respons yang terlalu berlebihan,” tegas Rikard dalam keterangannya, Kamis (16/4/26).

Ia bahkan mengkritik keras pihak-pihak yang melaporkan JK, dengan menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk eksploitasi isu agama untuk kepentingan sesaat.

“Ini tanda-tanda nyata bagaimana iman dimanfaatkan untuk kepentingan politik yang sifatnya semu dan sesaat. Menjual Tuhan dan ayat demi popularitas. Sikap seperti ini hipokrit,” ujarnya.

Rikard mengajak seluruh pihak untuk lebih bijak dan dewasa dalam menyikapi perbedaan pandangan, khususnya yang berkaitan dengan isu agama. Dia menekankan pentingnya dialog dan pemahaman kontekstual, bukan reaksi emosional yang berujung pada proses hukum.

"Kristen itu jelas sekali arahannya: Duc in Altum `Bertolaklah ke tempat yang dalam` atau `Berlayarlah ke laut dalam`. Kedalaman iman kristiani itu tidak diukur dari sebera hebat kita membela kaum kita dan menyerang musuh," tegasnya.

Keliru Memahami Konteks

Rikard menilai, pernyataan Jusuf Kalla dalam ceramah tersebut seharusnya dipahami dalam konteks konflik sosial yang pernah terjadi di Indonesia, seperti di Poso dan Ambon.

Menurutnya, JK tengah menjelaskan bagaimana agama kerap dijadikan pembenaran dalam konflik, di mana kedua pihak yang bertikai sama-sama merasa tindakannya benar secara keimanan.

“Pak JK berbicara dalam konteks konflik Poso, bagaimana agama sering dijadikan alasan konflik. Itu realitas yang memang pernah terjadi,” katanya.

Ia menambahkan, dalam situasi konflik, baik kelompok Islam maupun Kristen sama-sama memiliki keyakinan yang memperumit upaya perdamaian.

“Ketika konflik, masing-masing merasa kalau membunuh itu syahid, atau mati itu syahid. Akhirnya konflik sulit dihentikan,” ujarnya.

Sebagai informasi, PEKAT adalah sebuah organisasi masyarakat yang didirikan atas inisiatif sekelompok anak muda Katolik Timur di Kota Jakarta. Organisasi ini dibentuk sebagai respons terhadap kebutuhan akan wadah yang bisa menjadi garda terdepan dalam menghadapi berbagai isu sosial, budaya, dan agama yang berkembang di masyarakat, terutama yang berkaitan dengan umat Katolik.

PEKAT hadir untuk memberikan suara bagi generasi muda Katolik dalam menghadapi tantangan dan dinamika yang ada, sambil tetap menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual dan kebudayaan yang menjadi dasar kekuatan komunitas Katolik.*

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas