Nasional

Ini Testimoni Mahfud MD, Khofifah, dan Rizal Ramli Saat Haul Gus Dur

Oleh : very - Rabu, 03/01/2018 14:11 WIB

Rizal Ramli menyalami Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid pada haul Gus Dur. (Foto: Ant)

Jawa Timur, INDONEWS.ID - Alissa Qotrunnada Munawaroh alias Alissa Wahid menyebut mendiang ayahnya, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur lebih suka ditertawakan ketimbang dipuji-puji. Bahkan ketika dilengserkan, Gus Dur bukannya sedih, malah tertawa-tertawa.

Kepribadian unik Presiden ke-4 RI ini diungkap Alissa di Haul ke-8 ayahnya yang digelar di Ponpes Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Kamis (28/12/2017) malam. "Pak Mahfud (mantan ketua MK), Mbak Khofifah (Khofifah Indar Parawansa, dan Pak Rizal Ramli tahu ini (suka ditertawakan)," kata Alissa seperti dikutip merdeka.com.

Di Haul ke-8 Gus Dur kali ini begitu istimewa. Sebab, pihak keluarga meminta tiga `punakawan` Gus Dur untuk memberikan testimoninya. Mereka adalah Mahfud MD, Khofifah, dan Rizal Ramli.

Dalam testimoninya, Mahfud MD mengisahkan, di saat Gus Dur ketawa-ketawa jelang dilengserkan dari kursi kepresidenan, orang-orang terdekatnya justru gelisah.

"Yang gelisah itu seperti Bu Khofifah. Saya gelisah, Pak Alwi (Shihab) gelisah, kiai-kiai gelisah, Gus Dur sendiri ketawa-tawa," kisah Mahfud.

Bahkan Mahfud sendiri, demi menyelamatkan kedudukan Gus Dur, rela bertemu dengan tiga pimpinan partai, seperti Taufik Kemas, Hamzah Haz, dan Akbar Tanjung.

Dari pertemuan itu, mereka bersepakat untuk tetap menjadikan Gus Dur sebagai presiden asal mau merombak kabinetnya. Dan para menterinya harus ditentukan oleh pimpinan partai, bukan oleh Gus Dur.

Namun, kata Mahfud, ketika hasil pertemuan itu disampaikan ke Gus Dur, jawabannya cukup mengejutkan. "Gus Dur menjawab, saya lebih baik dilengserkan melanggar aturan. Saya tidak mau didekte oleh partai," ungkapnya.

 

Upaya Selamatkan Gus Dur

Kisah lain juga diungkapkan Mahfud terkait upaya penyelamatan Gus Dur dari rongrongan partai politik. Mahfud mengatakan, Khofifah sampai harus berkeliling ke pelosok kampung-kampung kumuh selama dua bulan untuk membagikan sedekah.

Kenapa harus membagikan sedekah? Mahfud menuturkan, karena Khofifah protes kenapa Gus Dur yang jalannya lurus, tapi masih banyak pihak yang mau menjatuhkannya.

"Lalu ada yang berbisik, mungkin Gus Dur lupa bayar zakat karena terlalu sibuk," kata Mahfud MD yang disambut ger-geran jamaah yang hadir.

Mendengar bisikan seperti itu, Khofifah langsung bergerak mengumpulkan uang yang dipecah menjadi Rp 20 ribuan. Lalu masuklah Khofifah ke pelosok kampung-kampung kumuh untuk membagikan zakat Gus Dur kepada orang-orang miskin.

"Saya tahu karena pagi-pagi Bu Khofifah mau pergi, lalu saya tanya mau kemana? Katanya mau bagi-bagi `zakatnya` Gus Dur. Mungkin Gus Dur lupa zakat jadi harus dizakati," ujarnya menirukan jawaban Khofifah kala itu.

Sedekah yang dibagikan Khofifah waktu itu mencapai Rp 60 juta yang dipecah menjadi Rp 20 ribuan. Uang itu disiapkan Khofifah bersama Rizal Ramli yang waktu itu menjabat Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri (Menko Ekuin) di Kabinet Gus Dur.

Sementara Khofifah mengisahkan, uang zakat Gus Dur itu dibagikan selama hampir dua bulan. "Insyaallah Pak Dr Rizal Ramli, tak ada satu lembar pun yang masuk ke kantong saya. Semuanya saya bagi dalam waktu hampir dua bulan," kata Khofifah ke Rizal menjawab testimoni Mahfud.

"Tiap hari saya berkeliling dari kampung ke kampung. Teman-teman saya juga saya minta berkeliling. Saya bilang, ini sedekahnya Gus Dur ya, doakan Gus Dur ya," cerita Khofifah.

Lewat sedekah itu, Khofifah mengaku berharap bisa memberikan perlindungan keselamatan bukan kepada Gus Dur semata, tapi bagi bangsa dan negara Indonesia agar dijauhkan dari sifat-sifat hasut, dengki, "Dan dijauhkan dari orang-orang yang ingin melakukan sesuatu secara destruktif," jelasnya.

Bagi Khofifah, tidak seluruh warga Nahdlatul Ulama (NU) mengetahui secara detail persoalan kebangsaan saat itu. Maka hal sedekah yang dibagikan sesungguhnya bagian dari ikhtiar bersama.

Namun, ikhtiar itu ternyata tidak bisa menyelamatkan Gus Dur dari serangan-serangan lawan politiknya kala itu. Genap 21 bulan memimpin Indonesia, atau tepatnya tanggal 23 Juli 2001, Gus Dur resmi lengser dan digantikan wakilnya, Megawati Soekarnoputri.

"Hari ini delapan tahun Gus Dur meninggalkan kita, tapi pikiran-pikiran besar Gus Dur Insyaallah tetap bersama kita dan seluruh warga bangsa Indonesia," kata Khofifa menuntaskan ceritanya.

"Saking inginnya Bu Khofifah menyelamatkan Gus Dur. Gus Dur sendiri tenang-tenang saja. Bahkan waktu Gus Dur jatuh pada 23 Juli (2001) saya sedang diutus untuk meresmikan Universitas Madura," kata Mahfud MD. (Very)

 

Artikel Terkait