Budaya

Melihat Panorama Gua Cantik yang Masih Tersembunyi di Yogyakarta

Oleh : Marsi Edon - Minggu, 07/07/2019 07:10 WIB

Penampakan Gua Gebang Tinatar(Foto: Detik.com)

Jakarta, INDONEWS.ID -Mudarto (54), warga Dusun Panggang I, Desa Giriharjo, Kecamatan Panggang, Gunungkidul menceritakan keberadaan salah satu gua cantik yang bernama Gua Gebang Tinatar. Gua ini belum begitu dikenal orang semua orang tetapi memiliki pemandangan yang tidak kalah menarik dengan tempat wisata lainnya di Yogyakarta.

Mudarto menjelaskan asal usul dari nama gua yang belum dikenal luas oleh masyarakat tersebut. Gua ini diberi nama Gua Gebang Tinatar karena memiliki makna khusus dan sekarang masih dikelola sendiri oleh masyarakat sekitar gua tersebut.

"Jadi gebang itu nama pohon, dulu katanya ada pohon gebang di sini (Gua Gebang Tinatar) tapi sekarang sudah tidak ada. Sedangkan tinatar artinya pahatan yang diartikan sebagai adanya pahatan batu (stalaktit)," kata Mudarto sebagaimana dilansir Detik.com, Jakarta, Minggu,(7/07/2019)

Gua Gebang Tinatar ini terletak di Dusun Panggang I, Desa Desa Giriharjo, Kecamatan Panggang, Gunungkidul. Gua ini masih ditutupi oleh lahan pertanian warga sekitar tetapi tetap menjadi salah tempat yang menarik untuk dikunjungi.

Mudarto kemudian menceritakan, nama gua ini tetap dipertahankan oleh masyarakat sejak gua itu ada. Nama ini terus diwariskan dari pendahulu hingga tidak ada lagi niat  dari masyarakat untuk mengganti  nama gua tersebut karena sudah memiliki cerita khasnya sendiri.

"Yang jelas nama Gebang Tinatar sudah ada dari dulu, tapi kalau warga sini menyebutnya (Gua Gebang Tinatar) dengan Bang Kinatar," ungkap Mudarto.

Lebih lanjut Mudarto menerangkan, tampak dalam dari gua akan memanjakan mata bagi setiap pengunjung karena dihiasi begitu banyak stalaktit bentukan dari air yang membeku. Bagi masyarakat yang akan mengunjungi gua ini, pasti akan merasakan suasana yang begitu indah.

"Karena musim kemarau, airnya (selondoko) tidak menetes. Tapi kalau menetes, benda yang terkena tetesan (air di Gua Gebang Tinatar) akan menjadi batu dalam waktu 10 tahun, terus kalau sudah jadi batu bisa dipukuli dan mengeluarkan bunyi dengan nada berbeda-beda," jelasnya.

Mesti ada banyak stalaktit di dalam gua, Mudarto menerangkan, di dalam gua tersebut belum ditemukan mata air. Hingga kini, belum ada masyarakat yang berani untuk menyusuri gua tersebut untuk melihat tampak dalamnya.

"Bagian bawah Gua Gebang Tinatar itu tanah, tapi sampai saat ini belum ada yang berani menyusurinya. Karena itu saya bisa mengatakan sumber air di Gua Tinatar belum ada," jelasnya.

Mudarto sendiri mengakui, gua ini memang belum dikunjungi oleh banyak orang. Namun, ia menegaskan, sudah ada satu dua orang yang mulai berdatangan untuk menikmati gua ini dengan segala panoramanya yang menarik dan khas.

Pengunjung gua ini, kata Mudarto, untuk sementara, dibedakan dalam dua jenis. Pertama yakni datang untuk sekedar menikmati pemandangan gua yang ada. Kedua yakni datang untuk melakukan kegiatan pertapaan.

"Dulu banyak yang datang (ke Gua Gebang Tinatar) untuk (nepi) bertapa, karena di dalamnya (di atas salah satu batu) ada tempat untuk bertapa meski (tempatnya) agak tinggi. Selain itu kalau setiap lebaran banyak yang datang untuk memukul itu (stalaktit Gua Gebang Tinatar) karena bunyinya bagus," jelasnya.

Dari segi bentuknya, gua ini memang terkesan aneh. Kata Mudarto, tidak jarang masyarakat yang datang karena ingin melihat dari dekat bentuk gua yang menurut mereka berbeda dari gua yang lain.

Karena keunikan yang dimiiliki oleh gua tersebut, masyarakat mulai mengembangkannya menjadi tempat pariwisata. Upaya ini, selain mengenalkan gua tersebut kepada masyarakat luas, juga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

"Setiap minggu kami selalu gugur gunung (jerjabakti) bikin jalan masuk (ke Gua Gebang Tinatar) karena akses jalannya masih sulit. Ke depannya kami juga ingin buat parkiran, tapi karena terkendala dana sampai sekarang belum terealisasi," pungkasnya.*(Marsi Edon)

 

 

 

 

 

Artikel Terkait