Nasional

BMKG Sebut Potensi Gempa Pulau Kalimantan Masih Relatif Lebih Aman

Oleh : Ronald T - Sabtu, 24/08/2019 14:13 WIB

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menjelaskan, Pulau Kalimantan memiliki jumlah struktur sesar aktif yang jauh lebih sedikit dari pulau-pulau lainnya di Indonesia. Posisi Pulau Kalimantan juga jauh dari zona tumbukan lempeng (megathrust). (Foto : ilustrasi)

Jakarta, INDONEWS.ID - Salah satu provinsi di Pulau Kalimantan digadang-gadang akan menjadi ibu kota Indonesia yang baru. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Pulau Kalimantan dianggap sebagai satu-satunya pulau besar di Indonesia dengan tingkat aktivitas kegempaan yang paling rendah.

"Meskipun di Pulau Kalimantan terdapat struktur sesar dan memiliki catatan aktivitas gempa bumi, tetapi secara umum wilayah Pulau Kalimantan masih relatif lebih aman jika dibanding daerah lain di Indonesia, seperti Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Papua yang memiliki catatan sejarah gempa merusak dan menimbulkan korban jiwa sangat besar," jelas Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam keterangannya, Sabtu (24/8/2019).
 
Dwikorita menjelaskan, Pulau Kalimantan memiliki jumlah struktur sesar aktif yang jauh lebih sedikit dari pulau-pulau lainnya di Indonesia. Posisi Pulau Kalimantan juga jauh dari zona tumbukan lempeng (megathrust).
 
Selain itu, beberapa struktur sesar di Kalimantan sebagian besar sudah berumur tersier, sehingga segmentasinya banyak yang tidak aktif lagi memicu gempa.
 
Meski begitu, bukan berarti Pulau Kalimantan tidak berpotensi terjadi gempa dan tsunami sama sekali. Sejumlah wilayah pesisir di Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan berhadapan dengan sumber gempa.
 
"Tata ruang pemanfaatan daerah pesisir harus berbasis mitigasi bencana, Ini penting guna mengantisipasi bencana tsunami di pantai rawan tsunami dan tangguh menghadapi tsunami," ujar Dwikorita.
 
Ia juga mengimbau masyarakat untuk menyiapkan evakuasi mandiri, dengan menjadikan guncangan gempa kuat sebagai peringatan dini tsunami.
 
Masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan di wilayah zona sesar aktif harus memahami bagaimana cara menyelamatkan diri saat terjadi bencana gempa bumi dan tsunami.
 
"Jika tempat tinggal kita di daerah rawan, maka yang penting dan harus disiapkan adalah langkah mitigasinya, kesiapsiagaannya, kapasitas masyarakat dan stakeholder, serta infrastruktur yang kuat untuk menghadapi gempa dan tsunami yang mungkin terjadi," ungkapnya.
 
Sebelumnya, Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, mengatakan secara geologi dan tektonik, di wilayah Kaltim terdapat 3 struktur sesar sumber gempa yaitu Sesar Maratua, Sesar Mangkalihat, dan Sesar Paternoster. BMKG mengatakan Sesar Maratua dan Sesar Mangkalihat masih aktif.

“Hasil monitoring kegempaan oleh BMKG terhadap Sesar Maratua dan Sesar Mangkalihat di wilayah Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur menunjukkan masih sangat aktif. Tampak dalam peta seismisitas pada 2 zona sesar ini aktivitas kegempaanya cukup tinggi dan membentuk klaster sebaran pusat gempa yang berarah barat-timur,” kata Daryono lewat keterangan tertulis berjudul ‘Potensi Gempa dan Tsunami Di Kalimantan Timur’, Jumat (23/8/2019).

Daryono mengatakan, gempa bumi yang memicu timbulnya tsunami pernah terjadi di Kaltim pada 1921. Saat itu dampak gempa dan tsunami cukup menimbulkan kerusakan di Sangkulirang, Kaltim.

“Gempa dan Tsunami Sangkulirang pada 14 Mei 1921. Dampak gempa Sangkulirang dilaporkan menimbulkan kerusakan memiliki skala intensitas VII-VIII MMI, yang artinya banyak bangunan mengalami kerusakan sedang hingga berat. Gempa kuat ini diikuti tsunami yang mengakibatkan kerusakan di sepanjang pantai dan muara sungai di Sangkulirang, Kaltim,” ujar Daryono.

Loading...

Berdasarkan catatan sejarah, pantai Kaltim bukan kawasan aman tsunami. Pernah terjadi tsunami destruktif di Sangkulirang pada 14 Mei 1921.

“Keberadaan Pantai Timur Kaltim yang berhadapan dengan ‘North Sulawesi Megathrust’ tentu juga patut diwaspadai. Hasil pemodelan skenario tsunami akibat gempa bumi berkekuatan M=8,5 yang berpusat di zona megathrust Sulawesi Utara menggunakan TOAST (Tsunami Observation and Simulation Terminal) di BMKG menunjukkan bahwa di Pantai Kalimantan Timur berpotensi terjadi tsunami dengan status ancaman ‘awas’ dengan tinggi tsunami di atas 3 meter,” tandasnya. (rnl)

 

Artikel Terkait