Nasional

Lawan Hoaks Covid-19, Japelidi Kampanye dalam 34 Bahasa Daerah

Oleh : Marsi Edon - Rabu, 25/03/2020 14:30 WIB

Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) melakukan kampanye melawan berita hoaks wabah corona melalui bahasa daerah di Indonesia.(Foto:Istimewa)

Jakarta, INDONEWS.ID - Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi), yang sebagian besar anggotanya adalah dosen dari 78 perguruan tinggi di 30 kota di Indonesia, menyarikan dan memproduksi beragam informasi akurat terkait Covid-19 ke dalam bentuk video dan poster edukatif bagi masyarakat.

Japelidi membuat beragam konten positif yang sifatnya mendidik masyarakat saat wabah virus corona. Dengan demikian, masyarakat cepat memahami apa sebenarnya virus corona yang sedang melanda dunia dan Indonesia saat ini. 

“Untuk mengimbangi banjir hoaks yang menyesatkan warga di saat pandemi ini, kami membuat beragam konten digital ‘Jaga diri dan Jaga Keluarga’ di dalam 34 bahasa daerah supaya bisa lebih dekat dengan keseharian masyarakat kita yang majemuk,” kata Novi Kurnia, Koordinator Japelidi yang juga merupakan Ketua Program Magister Ilmu Komunikasi Fisipol UGM. Jakarta, Rabu,(25/03/2020)

Edisi bahasa daerah yang sudah dibuat adalah: Sunda, Palembang, Bangka, Bali, Banjar, Dayak Ngaju, Malang Raya, Suroboyo, Manado, Madura, Dayak Bakumpai, Minang, Batak, Kupang, Madhura enggih, Aceh, Jawa Ngoko, Jawa Krama, Banyumasan.

Selain itu, ada juga Batak Karo, Toraja, Papua Barat, Sasak, Betawi, Makasar, Lampung, Mandar, Kaili, Maluku Utara, Lampung, Bengkulu, Kutai Tenggarong dan Mandarin. Bahasa daerah lainnya masih akan diproduksi Japelidi.

Melalui akun Instagram (https://www.instagram.com/japelidi/?hl=en) dan Twitter (https://twitter.com/japelidi?lang=en) Japelidi, serta akun media sosial dan grup WhatsApp para anggotanya yang berjumlah 161 orang, mereka membagikan poster digital seperti “Jaga diri dan Jaga Keluarga”, “Perlindungan Data Pribadi”, dan “Sumber Informasi Terpercaya”, serta videografik panduan menemani anak di rumah.

Kampanye positif melawan wabah virus corona yang sedang melanda dunia dan Indonesia

"Tanggapan warganet sangat positif. Misalnya, beberapa orang meminta kami mengirim file untuk mereka cetak sendiri lalu membagikannya kepada warga berusia lanjut di sekitar mereka. Bahkan ada yang membuatnya menjadi spanduk. Memang banyak orang tidak mengakses jejaring sosial, sehingga akses informasi mereka pun terbatas,” kata Novi Kurnia.

Selain melalui media sosial, Japelidi juga bekerja sama dengan Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) untuk memberikan edukasi dalam versi audio. “Mitra lain kami adalah Komunitas “Berbeda Itu Biasa”, yang turut membagikan poster digital “Jaga Diri Jaga Keluarga” ke dalam beberapa bahasa daerah,” kata Lestari Nurhayati, Koordinator Kampanye Japelidi dan Dosen London School of Public Relations Jakarta.

Japelidi juga melakukan kampanye luring dengan membagikan sabun dan hand sanitizer bagi warga yang masih harus bekerja di luar rumah seperti pengendara ojek dan pedagang pasar. Dana untuk ini berasal dari urun daya donasi anggota Japelidi.

Kegiatan luring dilakukan oleh tim Japelidi dan warga dengan membagikan selebaran, poster, dan spanduk di tempat-tempat strategis di banyak daerah: Jakarta, Yogyakarta, Bali, Salatiga, Semarang, Lamongan, Malang, Bandung, Ponorogo, Depok, Surabaya, Sukabumi dan Timika. Cakupan wilayah ini masih terus bertambah seiring bertambahnya dukungan warga.

"Kami tidak menyangka dukungan dari warga akan sebesar ini. Seperti halnya kampanye politik, kampanye kesehatan juga harus dilakukan melalui darat di banyak tempat. Dan menurut saya masih banyak ruang yang belum terjangkau, padahal isu pandemi ini sangat mendesak,” kata Lestari Nurhayati.*

Loading...

Artikel Terkait