Jalan Tengah Pancasila

Oleh : Rikardo - Minggu, 07/06/2020 01:01 WIB

Cover Buku karya Christianto Wibisono (Foto:Ist)

Oleh: Christianto Wibisono penulis buku WIBK 1977 

"Hari Jumat menjelang Sabtu jam 24.00, 5 Juni atau 00.00, saya menyapa Proklamator yakni Presiden Pertama RI Bung Karno selesai berlensa dengan Ny. Ratna Sari Dewi Sukarno di pendopo makam di Blitar".

CW: Selamat malam dan selamat ulang tahun bapak ke 119 lahir di bumi Indonesia. Sekarang  menjelang fajar hari kelahiran Bapak, Proklamator dan Presiden Pertama RI. 

Semoga kreasi bapak yakni ideologi Pancasila tetap relevan dan bisa diaplikasikan dizaman digital milenial 2020 hingga seabad Pancasila danRI 2045.  Apa pesan bapak pada hari lahir bapak ke-119 Sabtu 6 Juni 2020.

BK: Kita move on, Ibu Dewi masih mengikuti zaman dengan semangat lenso di usia 80 di tengah badai Covid, Namoto-san (panggilan Dewi nama asli Jepang Naoko Namoto) tetap berani hidup dan mensyukuri hidup. 

Saya baru saja zoom dengan Deng Xiaoping dan Richard Nixon. Keduanya sibuk membahas kolom yang ditulis PM Lee Hsien Loong 4 Juni 2020 di majalah Foreign Affairs.  Berikut ini rekaman pembicaraan kita bertiga: Sukarno, Deng, Nixon.

BK: Hi Dick (panggilan akrab Nixon) hi comrad Deng kalian mengakhiri Perang Dingin ketika Kissinger menemui Ketua Mao 1972. Sejak itu, ada bulan madu AS Tiongkok sampai mendadak Presiden Trump membekukan bulan madu seolah lempar mangkok pecah belah, mirip suami istri bertengkar mau cerai gara-gara selingkuhan. 

Lalu anda menghadapi kerusuhan rasis warisan lintas generasi sejak zaman Lincoln 160 tahun lalu. Bagaimana anda melihat peta geopolitik sekarang dan apa advise anda kepada Presiden Trump, begitu juga apa advis Ketua Deng pada Presiden XiJinping 2020.

Indonesia berkepentingan kalian berdua tidak menyulut kiamat nuklir memusnahkan 7 milyar manusia gara-gara 2 orang di Washington dan Beijing berduel boneka berani mati. Resep saya mewakili Indonesia penduduk nomor 4 sedunia ingin cinta damai  menerapkan Pancasila secara murni, konsisten dan konsekuen.

RN: Bung Karno anda selalu optimis dan enjoy live sejak zaman kencan dengan Jack Kennedy dan Marilyn Monroe, always up to date, tapi kadang-kadang terlalu utopia dan distopia. Anda adalah salah satu dari sedikit presiden yang  diundang pidato di depan Sidang Gabungan Kongres Senat AS. 

Memang ide anda Pancasila itu universal, memilah secara selektif unsur yang baik dari ideologi kiri dan merangkul kebaikan ideologi kanan. Sayangnya anda juga terjebak politik praktis mempertahankan kekuasaan di atas akrobatik dua kubu TNI-PKI. 

Honestly, kita kaget juga Indonesia mendadak jadi anti komunis 1965. Sebetulnya itu gara-gara kroco prajurit di lapangan menghabisi jendral yang diculik Padahal perintah hanya menahan untuk diajukan ke Mahmilub. 

CIA sendiri meraba-raba who is this new general yang pasif gaul elite. Tapi itu semua sudah masa lalu, sekarang ini kalau saya liat Trump terjebak pada ideologi “white supremacist” sebagai antagonist ideologi ISIS fanatik pengkafiran di Timur Tengah. 

Maka sebetulnya, AS juga sedang terancam antara dua kutub, “Kilafah kiri” vs “Parisi kanan”. Kilafah kiri ini kelompok Bernie Sanders ACLU dan sayap kiri AS yang punya agenda tersembunyi mensosialiskan AS ke kiri. 

Ya lawannya ialah “white supremacist kanan”: Maka perlu muncul juru damai jalan tengah Pancasila, seperti resep yang anda berikan sejak buku WIBK 1987 degann gambar anda, 2 jendral Soeharto- George Washington dan Thomas Jefferson.

BK: Ya di buku tahun 1977 itu saya menganalogkan posisi saya dengan ideolog Thomas Jefferson yang mewariskan Declaration of Independence kepada AS seperti saya merumuskan Pancasila bagi Indonesia. Serta mempersilakan Jendral Soeharto mengikuti keteladanan George Washington, jendral tentara kemerdekaan AS  yang membatasi sendiri masa jabatannya hanya 2 term. 

Sayang Soeharto tidak menerima usul tersebut dan dia tergusur juga oleh karma people power 1966 di daur ulang Mei 1998. Ketua Deng apa resep anda pada kawan Xi untuk mengatasi bahaya perang AS RRT? Deng Xiaoping: Dear Bung Karno, RRT sangat senang bisa muncul di KAA April 1955 di Bandung.

Sayang bahwa KAA itu hanya sekali dan terakhir karena diganti oleh Non-blok yang jadi tidak relevan setelah Perang Dingin berakhir, Semua kembali ke nasionalisme  sempit bahkan jadi chiuvinis atau rasis seperti isu sekitar konspirasi virus Wuham sebelum di ralat jadi Covid. 

Tiongkok ini membangun malah sudah ketinggalan dari Orde Baru 1969. Kita ketinggalan 20 tahun kalau 1989 jadi awal pembangunan, yang malah terganggu oleh demo berdarah Tiananmen 4 Juni 1989. Kami sebetulnya telat “anti komunis atau koreksi meninggalkan komunis” setelah 30 tahun kapok dibawah Marxisme. 1949-1979 gagal mendeliver sembako untuk rakyat Tiongkok.  

Nah sekarang ini kalau pakai istilah Kelas Menengah, saya akan usul kepada Xi dan Trump dengan dukungan anda Bung Besar Sukarno bahwa jalan tengah Pancasila dan kelas Menengah yang meritokratis itu dimana semakin banyak penduduk menikmati naik kelas jadi berpendapatan menengah dan hidup sejahtera. Akan mengakhiri ideologi perjuangan kelas dibumbui sara yang sangat berbahaya bisa membubarkan negara seperti Uni Soviet dan Yugoslavia bahkan bisa menggoncangkan AS dalam 10 hari.

BK: Kita bertiga bisa bicara mawas diri, introspeksi tapi para presiden yang real berkuasa di  negara kita menghadapi praktik politik yang masih dikuasai ambisi untuk berkuasa dengan memanfaatkan keteledoran lawan politik. 

Banyak intrik, manuver dan manipulasi politik dilakukan secara konspiratif dibumbui sara laten yang memang menjadi virus predator umat manusia, kebencian Kabil terdahap sesama pesaing. 

Tulisan Lee Hsien Loong sangat konstruktif untuk mendamaikan dua kubu AS Tiongkok dengan win win solution  Indonesia, ASEAN dan dunia mendukung rekonsiliasi AS Tiongkok untuk keselamatan dunia pasca Covid dari perang apa saja. Yang sangat berbahaya bagi eksistensi survivalnya Homo Sapiens. Ayo kita mensyukuri ulang tahun saya ke 119 dengan relax, santai menari lenso seperti Ibu Dewi di video ini.*

Loading...

Artikel Terkait