Bisnis

Rizal Ramli: Pompa Ekonomi Masyarakat Kecil, Bukan Mem-bail-out Perusahaan Besar

Oleh : very - Selasa, 04/08/2020 21:36 WIB

Ekonom senior Rizal Ramli. (Foto: Ist)

 

Jakarta, INDONEWS.ID -- Ekonom senior Rizal Ramli mengatakan bahwa Indonesia bersyukur karena dianugerahi kekayaan berlimpah yang bisa digunakan untuk menyelamatkan perekonomian dari krisis. Sayangnya, katanya, banyak pejabat negara ini lebih memilih meminta-minta kepada pihak asing untuk membiayai ekonomi dan rakyatnya.

“Indonesia itu seperti ada cawan emas di atas. Tapi bangsa kita, pejabat kita justru lebih senang memotong kelapa, batoknya dijadikan tempat untuk meminta-minta kepada pihak asing,” ujar Rizal Ramli di Jakarta, Senin (3/8).

Menurut Rizal, hal tersebut menggambarkan ketidakmampuan pemerintah dalam menyelesaikan berbagai masalah di Indonesia. “Sebetulnya masalah, terutama di sektor ekonomi kita ini tidaklah sulit. Tapi yang jadi masalah adalah pemerintah saat ini tidak mengetahui bagaimana cara mencari jalan keluarnya,” ujar Rizal.

Dia menjelaskan bahwa Indonesia sebenarnya bisa keluar dari krisis ekonomi jika pemerintah kreatif mencari jalan keluarnya.


“Jadi gak usah mikirin (pengusaha) yang gede-gede, yang gede mah udah tau jalannya sendiri. Yang penting, presiden itu pemimpin harus jelas hatinya. Saya kadang-kadang bertanya-tanya pak Jokowi kan dari rakyat biasa, masa lihat rakyat susah gak ada hatinya,” ujarnya.

Menurut mantan Menko Perekonomian pada era Presiden Gus Dur itu, presiden merupakan pemimpin negara. Karena itu, bisa memberikan tugas kepada pihak-pihak yang memahami akar masalah ekonomi di Indonesia. “Kan tinggal ngomong, cari jalan donk. Pasti ada yang pinter yang tau jalannya. Mohon maaf, kalau Rizal Ramli yang pimpin gampang nih, mau ekonomi nanti minus 3 persen atau minus 4 persen, kasih waktu saya 1 tahun, insya Allah kita akan bereskan krisis ini,” ujar mantan Menko Kemaritiman tersebut.

Rizal Ramli mengatakan, caranya sangat sederhana, yaitu dengan memompa ekonomi masyarakat kelas bawah. Maka dengan demikian ekonomi akan segera bangkit.

“Sederhana ilmunya, pompa yang bawah, yang miskin itu yang bawah, yang gak bisa ngapa-ngapain. Pasti kalau dia belanja, ekonomi hidup. Kalau kita kasih uang, di-bailout yang gede-gede. Ini kan kalau baca di koran, untuk krisis ini tadinya 600 triliun, seminggu naik 800 triliun, trus naik lagi jadi 1000 triliun. Koq bisa makin lama makin gede, koq rakyat 6 bulan ini gak ngerasain apa-apa,” ujarnya.

Rizal mengatakan bahwa saat ini pemerintah terlalu sibuk melobi para pengusaha yang besar-besar, sehingga tidak membaca peluang dari hal yang kecil. “Sederhana. karena dilobby sama yang gede-gede. Kata mereka, bantuin kita juga donk. Akhirnya defisit, dinaikkin, pakai uang minjem, mau nyetak uang. Tapi esensinya sederhana, kalau yang gede kita kasih uang Rp 1 triliun, perusahaan yang kapasitas pabriknya turun ke hanya 30%. Gak mungkin dia kasih uang itu untuk naikkan kapasitas pabriknya ke 100%,” ujarnya.

“Karena gak ada permintaan! gak ada yang mau beli. Akhirnya yang Rp 1 trilun dipakai spekulasi, dipakai beli mata uang asing, beli emas, pakai beli tanah, atau rumah yang harganya sudah jatuh 50%. Jadi logikanya harus dibalik. Ciptakan dulu permintaan, dengan mompa daya beli yang golongan menengah ke bawah! otomatis (ekonomi) selamat!” ujarnya seperti dikup RMOL.ID.

Rizal mengatakan, hal itulah yang pernah dilakukannya ketika menjadi Menko Perekonomian pada era Presiden Gus Dur.

Waktu itu, Rizal Ramli berhasil menaikkan pertumbuhan ekonomi yang tadinya minus 3 persen menjadi tumbuh positif 4,5-7,5 persen.

“Caranya yaitu dengan memompa daya beli rakyat di bawah, menaikkan gaji PNS, TNI, hingga pensiunan. Sehingga nantinya akan dibelanjakan 99 persen ke sektor retail. Bukan malah membatu orang kaya dan konglomerat,” pungkasnya. (Very)

 

 

Loading...

Artikel Terkait