https://vinosdeabona.com/slot-gacor/ https://www.tpcd.org.tr/slot-deposit-pulsa/ https://healthcare.skho.moph.go.th/labor-care/uploads/slot-deposit-pulsa/ https://seoscaning.com/slot-deposit-dana/ http://www.info-secur.ru/old/slot-deposit-pulsa-tanpa-potongan/ http://academia.uniminuto.edu/becassp/notas/jasabola/

Nasional

Komjen Ahwil Lutan: Ada Simbiosis Mutualisme antara Terorisme dan Narkotika

Oleh : Rikard Djegadut - Rabu, 12/08/2020 12:45 WIB

Komisaris Jendral Polisi (purn) Drs. Ahwil Luthan, SH, MBA, MM bersama Pemimpin Redaksi Indonewsid selaku Wakil Sekretaris Jendral Organisasi BERSAMA besutan Soeharto, Drs. Asri Hadi, MA

Jakarta, INDONEWS.ID - Komisaris Jendral Polisi (purn) Drs. Ahwil Luthan, SH, MBA, MM mengatakan Ada hubungan simbiosis antara narcoterrorism dan kejahatan yang terorganisir. Kedua organisasi tersebut beraksi karena saling menguntungkan.

Hal itu dijelaskannya dalam ambasador talk bertajuk "Mata Rantai Terorisme dan Narkotika" yang digelar secara online pada Rabu 12 Agustus 2020.

Ahwil menyebut secara etimologi terorisme berasal dari kata “to`terror” dalam bahasa lnggris atau terrere dalam bahasa Latin, yang berarti “gemetar” atau “menggetarkan”. Kata terrere adalah bentuk kata kerja (verb) dari kata terrorem yang berarti rasa takut yang luar biasa.

"Dalam KBBI teror diartikan sebagai usaha untuk menciptakan ketakutan, kengerian dan kekejaman oleh seseorang atau golongan tertentu. Pengertian ini diungkap Webster’s New School yaitu membuat ketakutan atau kengenan dengan melakukan intimidasi atau ancaman untuk menakut-nakuti,"

Sementara, Narcoterrorism, jelas Ahwil, adalah istilah yang diciptakan oleh mantan Presiden Peru Fernando Belaunde Terry pada tahun I983 ketika menggambarkan teroris jenis serangan terhadap polisi anti-narkotika Peru.

Dalam konteks aslinya, tambah Ahwil, narcoterrorism dipahami sebagai upaya para pedagang narkotika untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah atau masyarakat lewat kekerasan dan intimidasi, dan menghalangi penegakan hukum dan administrasi keadilan dengan ancaman atau penggunaan sistematis seperti kekerasan.

"Biasanya ada hubungan antara kegiatan teroris dan kejahatan yang terorganisir, termasuk didalamnya adalah perdagangan narkoba. Hubungan antara organisasi teroris dan perdagangan narkoba bisa terjadi di antaranya dari fasilitasi, proteksi, transportasi dan perpajakkan, yang digunakan secara langsung dalam perdagangan narkoba oleh organisasi teroris untuk mendanai aktivitas mereka," terang Ahwil.

Perwira Tinggi POLRI yang sejak Oktober 2002 hingga November 2005 menjabat sebagai Duta Besar RI untuk negara Meksiko, merangkap Panama, Honduras dan Costa Rica itu menjelaskan pedagang narkoba dan teroris memiliki kebutuhan yang sama dalam hal logistik bahan-bahannya dan menyembunyikan pergerakkan barang-barang, manusia dan uang yang terlibat di dalamnya.

Dalam bergerak atau menjual narkoba di tempat dimana teroris tersebut menguasai suatu wilayah, lanjut Ahwil, hubungan antara pedagang narkoba dan teroris saling menguntungkan. Pedagang narkoba mendapat keuntungan dari keahlian militer si teroris, persediaan senjata dan akes ke organisasi-organisasi rahasia. Sementara teroris, mendapatkan sumber pendapatan dan keahlian illegal dalam mentransfer dan pencucian transaksi illegal.

Lebih lanjut Ahwil menjelaskan, kedua grup ini melibatkan pegawai pemerintahan yang korup untuk saling memberi keuntungan, dimana kedua grup ini bisa mendapatkan akses pada dokumen-dokumen palsu, seperti paspor, identitas diri, dll. Pedagang narkoba juga mendapatkan keleluasaan.

Dalam aksinya, Ahwil menjelaskan, teroris dan organisasi perdagangan narkoba memiliki struktur kepemimpinan guna menjalankan organisasinya dan menggunakan maksud yang sama untuk mencapai keuntungan. Misalnya, mereka menggunakan "Hawala` sebuah sistem transfer informal dan bergantung kepada penyeludupan uang dalam jumlah besar, memiliki beberapa rekening dan organisasi untuk pencucian uang.

Pada kesempat yang sama, Komisaris Jenderal Polisi (Purn) Dr. Drs. Ito Sumardi DjunisanyotoIto Sumardi Djunisanyoto mengatakan selaku mantan Duta Besar RI untuk Myanmar dirinya mengetahui gambaran terkait kejahatan narkoba dan terorisme di negara tersebut.

"Sekarang ini, segitiga emas merupakan produsen shabu terkemuka di dunia. Kemudian sebagian produksi shabu telah bergeser ke Yaba dan Shabu Kristal, termasuk untuk eksport ke Amerika Serikat dan di seluruh Asia Timur dan Tenggara," kata mantan Duta Besar Indonesia untuk Myanmar di era pemerintahan SBY ini.

Ia menerangkan, terkait dengan percepatan produksi obat sintetis di wilayah tersebut, Sam Gor adalah perusahaan yang merupakan bagian sindikat kejatahan internasional utama produksi tersebut. Kelompok ini, tambahnya, terdiri dari lima anggota Triads yang berbeda. Sam Gor dipimpin oleh Tse Chi Lop, seorang keturunan etnis Cina-Kanada yang merupakan seorang gangsrer yang lahir di Guanshou, China.

Komisaris Jenderal Polisi (Purn) Nurfaizi Suwandi selaku mantan Duta Besar RI untuk Mesir 2012-2016 bersama Pemimpin Redaksi Indonewsid selaku Wakil Sekretaris Jendral Organisasi BERSAMA besutan Soeharto, Drs. Asri Hadi, MA

Sementara kejahatan terorisme digerakan oleh kelompok anti pemerintah. Kelompok ini berafiliasi dengan sindikat narkoba untuk mendapatkan supli peralatan perang seperti senjata dan lain-lain. Saat ini, lanjutnya, ada dua kelompok yang terdaftar sebagai organisasi terorisme sesuai dengan hukum kontra-terorisme di negara tersebut yakni Tentara Penyelamatan Rohingya Arakan (Arsal) dan Tentara Arakan Independen.

Dimintai tanggapannya terkait diselenggerakannya webinar ini, Pemimpin Redaksi Indonewsid selaku Wakil Sekretaris Jendral Organisasi BERSAMA besutan Soeharto, Drs. Asri Hadi, MA mengatakan acara ini sangat bermanfaat bagi publik Indonesia, terutama para pihak terkait yang berhubungan langsung dengan urusan narkoba dan terorisme.

Selain itu, kehadiran para pakar yang menjadi pembicara dalam webinar ini juga mengangkat kredibilitas dan kualitas seminar ini. Mereka, kata Asri, merupakan para pakar yang sangat menguasai bidang yang mereka paparkan dalam seminar ini.

"Mereka bertahun-tahun berpengalaman bekerja dalam organisasi dan institusi yang khusus mengurusi dan turut mengusut kasus kejatahan narkoba dan terorisme. Selain itu, mereka juga pernah menjadi Dubes basis kejatahan internasional ini, seperti Komjen Ahwil yang pernah menjadi Dubes di Meksiko dan beberapa negara tempat kejahatan narkoba berpusat," kata Asri.

Turut hadir menjadi pembicara dalam webinar ini adalah Komisaris Jenderal Polisi (Purn) Nurfaizi Suwandi selaku mantan Duta Besar RI untuk Mesir periode 2012-2016 dan Eks Officer ASEAN Secretariat, Hj. Erie Vitria Trisanty, BA, MA sebagai moderator.*Rikard Djegadut

Loading...

Artikel Terkait