Nasional

Rotasi Pejabat Ala Rizal Ramli Bisa Jadi Acuan Pemberantasan Korupsi

Oleh : very - Sabtu, 28/11/2020 22:30 WIB

Tokoh Pergerakan Rizal Ramli. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID -- Mantan Kepala Urusan Logistik (Bulog) pada era pemerintahan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang juga ekonom senior Rizal Ramli membongkar praktik korupsi di lingkungan Bulog.

Rizal Ramli yang lebih suka dipanggil tokoh pergerakan itu mengatakan biasanya para pejabat di Bulog biasa membawa anak atau saudaranya untuk mencari proyek di tempat tersebut. Karena itu, kata Rizal Ramli, para bawahannya biasanya tidak berani menolak anak atau saudaranya tersebut.

“Karena biasanya kalau ada adik maupun anak pejabat nyari proyek di departemen, yang bawah itu pasti kasih dan nggak bakal lapor. Karena itu, maka kita harus mulai melakukan pemberantasan korupsi dari kepalanya bukan dari yang kecil-kecil,” ujarnya seperti dikutip dari YouTube ILC yang dikutip pada Jumat (27/11).

Karena itu, mantan Menko Perekonomian ini mengatakan ketika dirinya menjadi Kepala Bulog, maka hal itulah yang pertama diberantasnya.

“Saya waktu Ketua Bulog saya pelajari sistemnya, ternyata kalau suka setor sama bosnya, selalu dikasih daerah basah, Jawa Timur, Jawa Tengah,” ujarnya.

Rizal menegaskan, kacaunya lagi bahwa sistem di Bulog ketika itu pejabat yang profesional di tempatkan di daerah kering.

“Kalau jujur, professional, ditaro di daerah kering seperti di Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara,” ujarnya.

Karena itu, mantan Menko Kemaritiman itu menjelaskan bawah di bawah kepemimpinanannya semua praktik tersebut dibalik.

“Nah begitu Kami pelajari polanya, Kami ubah. Hampir 80 daerah basah kami kirim ke daerah kering. Dari Jawa Timur kita pindahin ke Kalimantan Tengah. Dari Jawa Tengah (daerah basah) ke Sulawesi Tenggara, ternyata dampaknya luar biasa,” ujarnya.

Setelah menerapkan hal tersebut, Bulog bahkan mendapatkan untung sebesar Rp5 triliun. Bahkan keuntungan yang didapatkan bulog dipakai untuk membeli pesawat Sukhoi yang pertama.

“Tahun itu, setahun kemudian Bulog untung 5 triliun dan dipakai membeli pesawat Sukhoi yang pertama,” ungkapnya.

Keberhasilan dalam membenahi sistem Bulog tersebut sejatinya bisa menjadi acuan untuk membenahi korupsi di Indonesia.

Rizal Ramli mengusulkan agar hakim professional yang biasanya ditempatkan di tempat kering harus dibalik dengan menempatkannya di daerah basah begitupun sebaliknya.

“Hakim juga sama, kebanyakan yang suka maen ditaro di daerah basah, yang profesional dilempar ke daerah kering. Jadi kalau perlu, kita benahi hakim, kita tuker dari daerah kering pindahin ke daerah basah, daerah basah kirim ke daerah kering, ternyata hal itu sangat efektif,” pungkasnya. (Very)

 

 

Loading...

Artikel Terkait