Bisnis

Rizal Ramli Ingatkan Krisis 2021 Lebih Buruk Dibanding Tahun 1998

Oleh : very - Jum'at, 15/01/2021 15:30 WIB

Ekonom Senior, Dr. Rizal Ramli. (Foto: Ist)

 

Jakarta, INDONEWS.ID – Ekonomi Indonesia sepanjang 2021 diproyeksikan akan semakin sulit dibanding tahun 2020. Bahkan, krisis di tahun ini akan lebih buruk dibanding krisis tahun 1998 lalu.

Hal itu bukan saja karena pandemi virus Corona belum berlalu. Namun karena pemerintah mulai mengalami kesulitan likuiditas keuangan. Saat ini persediaan uang di tengah masyarakat sudah berkurang.

Demikian diungkapkan oleh ekonom senior Dr Rizal Ramli dalam acara Radio Bravos yang bekerja sama Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju yang menggelar diskusi bertajuk “Outlook Ekonomi di Tahun 2021”.

Mantan Menko Perekonomian itu mengatakan, berkurangnya likuiditas tersebut karena dana lebih banyak tersedot ulah pemerintah lebih banyak menerbitkan surat utang negara (SUN). Pemerintah menerbikan SUN dengan prosentasi yang lebih tinggi daripada dana yang disimpan di deposito. Hal itu, katanya, karena pemerintah terus berutang. Bahkan, saat ini, untuk membayar utang saja, pemerintah harus berutang.  

"Karena dia meminjam dia harus nerbitkan SUN (Surat Utang Negara) terus tambahan makin lama makin besar. Apa yang terjadi? Uang yang beredar di lembaga keuangan di masyarakat tersedot untuk beli SUN karena tingkat bunga SUN 2 persen lebih tinggi dari request itu," ujar mantan Kepala Bulog itu.

Menurut Menko Kemaritiman itu, pemerintah juga saat ini memberi bantuan kredit untuk pengusaha besar. Padahal, kata Rizal, bantuan kredit kepada perusahaan besar tidak efektif.

Menurutnya, banyak dari pengusaha besar tersebut tidak menggunakan uangnya untuk menggerakkan perekonomian perusahaanya karena memang daya beli masyarakat tidak ada. Karena itu mereka menggunakan uang bantuan dari pemerintah itu untuk membeli properti atau emas. “Karena itu, yang mesti dipompa oleh pemerintah itu adalah daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah yang jumlahnya sangat besar. Nah, jika uang itu digunakan untuk memompa masyarakat kelas menengah ke bawah maka 90 persen uang tersebut akan digunakan untuk belanja. Karena itu, ekonomi kita akan bangkit,” ujarnya.

Jika hal ini tidak dikerjakan pemerintah, maka jangan harap bermimpi ekonomi Indonesia akan bangkit apalagi mencapai pertumbuhan 5,5 persen seperti yang disampaikan Menteri Keuangan, Sri Mulyani.

 "Emang Pemerintah menjanjikan angin sorga. Oh enggak, wong tahun 2021 bakal balik lagi ke 5,5 persen begini, begitu. Mohon maaf, janji sorga itu tidak ada basisnya," ujar Rizal Ramli.

Rizal Ramli mengatakan, sebelum Covid-19 saja pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 5,1 persen. “Ini kok Covid-19 masih tumbuh bisa 5,5 persen?" ujar bang RR, sapaan akrab, Rizal Ramli.

Menurut RR, daya beli rakyat saat ini betul-betul hancur. Sebabnya, dalam analisanya, hal itu terjadi karena tidak ada pekerjaan gara-gara terdampak pandemi Covid-19.

"Tapi yang paling penting adalah daya likuiditas yang ada pada masyarakat disedot. Karena Pemerintah ngutang udah terlalu banyak. Artinya apa? Hanya untuk membayar bunga saja harus meminjam, makin lama makin berat," katanya.

 

Soekarno dan Soeharto Jatuh karena Ekonomi

Rizal Ramli mengatakan bahwa pada krisis ekonomi tahun 1998 lalu masyarakat di pedesaan di luar Jawa masih bisa menikmati keuntungan dari penjualan komoditas perkebunan. Nah, beda dengan krisis saat ini, baik masyarakat di Jawa maupun luar Jawa sama-sama mengalami krisis karena kehilangan pekerjaan.

Karena itu, Rizal Ramli mengatakan agar Presiden Joko Widodo hati-hati mengelola krisis ini. “Krisis dan peluang adalah dua dari satu mata uang yang sama. Jadi, pemerintah bisa memanfaatkan krisis ini menjadi peluang jika kepemimpinannya benar-benar baik,” ujarnya.

Karena itu, kata Rizal Ramli, ujian kepemimpinan yaitu bagaimana dia bisa mengelola krisis menjadi peluang.

Rizal Ramli mengingatkan bahwa dalam sejarah Republik Indonesia berdiri, dua presidennya mundur gara-gara ekonomi. Bung Karno dan Soeharto jatuh karena krisis ekonomi.

Ekonom Rizal Ramli mengatakan bahwa krisis ekonomi diproyeksi bisa mengubah perpolitikan di Indonesia. “Kita lihat sejarah Indonesia, Bung Karno jatuh karena krisis ekonomi, Soeharto juga. Jadi sesuatu besar terjadi di Indonesia karena krisis ekonomi,” kata Rizal. (Very)

Loading...

Artikel Terkait