Nasional

Mengenal 3 Alumni SMAN3 Teladan Jakarta Membangun Negeri di Beragam Bidang

Oleh : Rikard Djegadut - Sabtu, 24/04/2021 12:30 WIB

Alumni SMAN3 Teladan Jakarta: Sadik Algadri, Ego Syahrial dan Ahmed Kurnia (Foto: Collage)

Sosok, INDONEWS.ID - Sekolah menengah Atas Negeri 3 Teladan Jakarta akan merayakan hari ulnag tahun ke-68 pada 24 Oktober mendatang.

Dalam usianya yang lebih dari setengah abad, sekolah yang beralamat di Jalan Setiabudi Jakarta Setalan ini telah mencetak banyak tokoh yang berbhakti bagi Ibu Pertiwi dengan kemampuan dan kelebihan mereka masing-masing.

Seperti tiga tokoh yang dihadirkan INDONEWS.ID dalams eri kali ini antara lain Sadik Algadri, Ego Syahrial dan Ahmed Kurnia.

Siapa sesungguhnya mereka dan seperti apa kontribusi mereka, simak selengkapnya!

Sadik Algadri

Sadik Algadri lahir di Jakarta 4 April 1958. Ia merupakan bungsu dari 4 bersaudara, putra dari salah satu perintis kemerdekaan RI dan pengarang buku "C. Snock Hurgronje: Politik Belanda terhadap Islam ketururan Arab" yakni Mr. Hamid Algadri.

Sadik memulai pendidikan dasarnya di SDN 01 Besuki, Jakarta pada 1961 dan pada 1969. Ia selanjutnya menempuh pendidikan lanjutan tingkat pertama di SMP Trisula, Jakarta selama 1970 – 1973 dan merampungkan pendidikan lanjutan tingkat atas di SMAN3 Teladan, Jakarta pada 1974 dan lulus pada 1976.

Berikutnya, Sadik melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi dan diterima di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) jurusan bisnis administrasi pada 1977 dan selesai 1985

Sosok Sadik Algadini lebih banyak dikenal publik sebagai bekas pejudo nasional. Pada 1974, tepat di masa Sadik Algadri duduk di bangku SMA, Ia mengikuti kejuaraan Judo Junior Kelas Bebas DKI Jakarta pada 1974 dan menjadi juara.

Sadik juga ikut menjadi Tim Judo Senior dalam kejuaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) kelas 71 Kg pada 1977. Saat itu, dirinya berstatus mahasiswa FISIP UI.

Ia kembali menjuarai kejuaraan Judo Senior DKI Jakarta di Kejurda Kelas 71 Kg pada 1980. Prestasi besarnya di masa itu, sekaligus mempertegas statusnya sebagai pejudo Nasional adalah ketika menjadi Juara Judo Nasional di Kejurnas Judo Senior kelas 71 Kg yang diselenggarakan di Jakarta pada 1980.

Paman dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadiem Makarim ini lalu menjadi Tim Judo Nasional RI di Kejuaraan RIM Pacifik pada 1981 di Nagoya Jepang.

Sejak saat itu, Sadik aktif di organisasi olahraga lokal hingga nasional bahkan internasional. Sepak terjangnya di organisasi yang sebagian besar organisasi yang menfokuskan diri pada olahraga Judo menjadikan Sadik jadi pakar di bidangnya.

Ia pernah menjadi Wakil Sektreatis Jendral PB Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI). Jabatannya di organisasi tersebut naik ketika dirinya menjadi Sekretaris Jendral PB PJSI.

Di kancah internasional, Sadik lalu menjadi Executive Committee Judo Union of Asia (JUA) menjadi Vice President JUA.

Tak hanya sampai di situ, Sadik dipercayakan menjadi Director of Education & Kata South East Asia Judo Federation atau yang disingkat SEAJF.

Suami dari Haru Setyo Anggani ini dipercayakan negara manager TIM Judo Indonesia dalam beberapa event SEA Games di beberapa negara.

Selain oernah menjadi pengawas Judo Sea Games di Singapore pada 2015, ia juga menjadi Wakil Ketua Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) dan menjadi Ketua Dewan Guru PB PJSI.

Selain dikenal sebagai seorang mantan pejudo nasional, dari data riwayat hidup yang diperoleh media ini, Sadik Algadri juga tercatat menduduki posisi puncak pada beberapa perusahaan besar.

Pemimpin Redaksi Indonews.id Asri Hadi bersama Sadik Algadri

Ia menjadi Managing Direktor PT Dharma Muda Pratama (Kodel Group) sejak 1996 hingga 2003 dan menjadi Direktur Golden Spike Energy Indonesia Ltd selama 6 tahun serta Managing Director PT Permadani Propertindo Development sejak 2009 hingga 2015. Sadik kembali menjadi Direktur PT Golden Spike Energi Indonesia sejak 2015 hingga sekarang.

Selain itu, Sadik juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pendiri Gabungan Usaha Penunjang Minyak dan Gas Bumi (Guspen) selama 2009 - 2017. Ketua Bidang Umum (APWI) dan masih banyak lagi.

Ego Syahrial

Dr. Ir. Ego Syahrial, M. Sc merupakan Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (Sekjen KESDM RI).

Sosok kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, pada 12 Juli 1961 ini merupakan salah satu alumnus Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN3) Teladan Jakarta.

Selepas tamat dari SMAN3 Jakarta, Ego Syahrial mengambil Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Trisakti yang saat ini berubah menjadi Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi.

Di Usakti, Ego Syahrial masuk pada tahun akademik 1981/1982 atau Angkatan 1981.

Ego juga merupakan lulusan S2-S3 University of London pada jurusan Petroleum Enginering antara 1993-1997.

Sebelum menjadi pejabat struktural, Ego merupakan pejabat Fungsional sebagai Perekayasa Madya pada Puslitbangtek Migas “Lemigas”.

Ia diangkat sebagai Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatim) Kementerian ESDM tahun 2012-2013.

Selanjutnya, pada 2013 hingga 2016, Ego Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama.

Ego kembali dipercyakan menduduki jabatan strategis di KESDM ketika pada 18 Agustus 2016, Ego diangkat sebagai Kepala Badan Geologi oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Luhut Binsar Panjaitan kala itu.

Saat pelantikan tersebut, Luhut berpesan agar Ego berkomitmen melanjutkan tongkat estafet dari kepemimpinan sebelumnya.

Bahkan berpesan agar Badan Geologi ke depannya mampu bertransformasi menjadi layaknya Badan Geologi Inggris (British Geological Survey) atau Badan Geologi AS yang namanya sudah dikenal di seluruh dunia.

Setahun kemudian, pada 2 Agustus 2017, Ego diangkat sebagai Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas), menggantikan IGN Wiratmaja Puja.

Beberapa bulan kemudian, Ego kembali diangkat untuk menduduki posisi sebagai Sekretaris Jenderal KESDM RI pada 8 Desember 2017 hingga sekarang.

Ahmed Kurnia

Ahmed Kurnia Soeriawidjaja Lahir di Penang, Malaysia, 13 Mei 1959. Ia dikenal sebagai jurnalis senior, dosen, konsultan komunikasi, dan penulis.

Sehari-hari, mantan wartawan Majalah Tempo ini disibukan dengan kegiatan mengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi - The London School of Publik Relation Jakarta dan Pengajar Sekolah Jurnalistik Indonesia di Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat.

Selain itu, salah satu dari 22 wartawan senior yang mendapat kartu pers nomor satu berjuluk Press Card Number One (PCNO) pada HPN 2019 di Surabay ini juga merupakan Tenaga Ahli Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Penulis sejumlah buku dan jurnal ini juga disibukan menjadi pimpinan media BUMN Track dan Infopublik.id yang masing-masing berada di bawah arahan Kominfo dan BUMN.

Selepas menamatkan pendidikan menengah atas dari SMAN3 Teladan Jakarta, Ahmed Kurnia meraih gelar Sarjana Muda (BA) bidang sosiologi dari Universitas Indonesia (UI) pada 1980 dan meraih gelar Sarjana Sosiologi (Drs.) dari kampus yang sama pada 1984.

Selanjutnya, sosok yang menjadi langganan bagi perusahaan-perusahaan besar menjadi konsultan komunikasi ini mengikuti Program Kajian Wilayah Amerika yang diselenggarakan oleh Fakultas Pascasarja UI pada 1988.

Tidak sampai di situ, Ia kembali mengikuti Internasional Institute for Journalism di Berlin, Jerman dan meraih Diploma pada 1989 sebagai pemenuhan atas haus akan pengetahuannya.

Selang beberapa tahun berikutnya, Ahmed Kurnia kembali mengikuti program bersertifikat di Honohulu, Hawai pada 1994 untuk Journalism and Communication Program east-West Center yang diselenggarakan oleh Jefferson Felowship.

Ia lagi-lagi mengikuti program bersertifikat untuk Strategic Issues Management di Institute of Public Relation of Singapora pada 2007.

Kemudian, gelar Master of Arts in Corporate Communication Studies diperolehnya dari Post Graduate The London School of Public Relation Jakarta pada 2008.

Pengalamannya di bidang konsultan komunikasi dan fasilitator serta trainer tidak perlu diragukan lagi. Sejumlah kementerian, lembaga bak pusat maupun daerah serta perusahaan terkemuka pernah memakai jasanya.

Ahmed Kurnia bersama Pemimpin Redaksi Indonews.id, Asri Hadi

Karirnya sebagai dosen dimulai pada tahun 1995 ketika menjadi pengajar di Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) Depdagri. Ia juga pernah menjadi dosen di Institut Teknologi dan Komunikasi Pemasaran (ITKP) Jakarta, Dosen GIBT Institut Jakarta atau Charles Sturt University Australia.

ia juga pernah menjadi Direktur Institut MH Thamrin - Lembaga Anugerah Jurnalistis PWI Jaya dan dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi - LSPR hingga saat ini.

Karir jurnalistiknya dimulai ketika menjadi wartawan Tabloid Mutiara pada 1981. Selanjutnya, Ahmed menjadi Wartawan Majalah Berita mingguan Tempo. Staf CNN dalam peliputan KTT APEC pada 1994 di Jakarta dan di Bogor.

Ia juga tercatat pernah menjadi Redaktur di harian The Jakarta Post dan koran Media Indonesia. Ahmed Kurnia pernah menjadi Peminpin Redaksi Majalah Strategi; Pemimpin Redaksi Majalan Analisis Ekonomi PILAR.

Pada 2002, Ahmed Kurnia juga menjabat sebagai Executive Comittee on Bali Recovery Program.

Ia juga pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi Majalah BUMN Track dan saat ini menjabat sebagai Pemimpin Redaksi. Selain itu, juga menjadi pimpinan media Infopublik.id yang berada di bawah pengarahan Mekonminfo.*(Rikard Djegadut).

Loading...

Artikel Terkait