Nasional

Resmikan Kantor Prodem, Rizal Ramli: Anasir Otoriter dan Koruptif Kembali Rebut Kuasa, Ayo Bung Rebut Kembali

Oleh : very - Minggu, 06/06/2021 21:59 WIB

Tokoh Pergerakan Rizal Ramli pada acara peresmian kantor baru Prodem pada hari ini, Minggu (6/6). Kantor tersebut berlokasi di Jalan Veteran I, Gambir, Jakarta Pusat, atau hanya sekitar 300 meter dari Istana Negara. (Foto: ist)

Jakarta, INDONEWS.ID -- Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDEM) meresmikan kantor baru pada hari ini, Minggu (6/6). Kantor tersebut berlokasi di Jalan Veteran I, Gambir, Jakarta Pusat, atau hanya sekitar 300 meter dari Istana Negara.

Acara peresmian rumah konsolidasi yang diikuti dengan acara Halal Bihalal itu mengangkat tema “Perwujudan Demokrasi Harus Hadir dalam Kehidupan dan Sampai ke Piring-piring Rakyat”.

Hadir pada peresmian itu tokoh pergerakan DR. Rizal Ramli. Hadir juga Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria.

Riza hadir sekitar pukul 13.55 WIB dan disambut langsung oleh Ketua Majelis Jaringan Aktivis ProDEM, Iwan Sumule dan para aktivis ProDEM lainnya.

Dalam acara peresmian ini, ekonom senior Rizal Ramli didaulat menjadi pembicara kunci. Dia mempersiapkan pidato berjudul "Demokrasi untuk Rakyat".

Pada awal pidatonya, Rizal Ramli mengucapkan selamat kepada Ketua Prodem, Iwan Sumule atas peresmian kantor baru tersebut. “Prodem memang hebat. Orang lagi pada tutup-tutup kantor, Prodem malah buka kantor. Tondo-tondo perubahan akan terjadi, apalagi jaraknya 300-an meter dari istana,” ujarnya.

Kemudian, mantan Menko Perekonomian tersebut menceritakan tentang kisah Prodem pada zaman Orde Baru. “Zaman Orba Prodem lawan, berjuang, berkorban untuk menghapuskan sistem otoriter & KKN. Menang. Berhasil. Kita berhasil mengubah sistem otoriter menjadi demokratis dan KKN dikurangi,” ujarnya.

Tapi kemenangan tersebut, kata mantan Menko Kemaritiman itu, hanya bersifat sementara. Hal itu lantaran anasir-anasir otoriter dan koruptif kembali merebut kekuasaan. Mereka membalikkan tonggak-tonggak kemenangan.

“Mereka kembali membangun ulang sistem otoriter, sehingga indeks demokrasi Indonesia anjlok 30 tingkat. Membangun kembali labyrinth KKN dan menambahkan sistem dinasti. KKN semakin meluas dan brutal. Bahkan KPK dilumpuhkan,” ujarnya.

Karena itu Tokoh Nasional itu melontarkan pertanyaan kepada para hadirin, khususnya kepada aktivis Prodem.

“Saya mau tanya sama Ketua dan kawan-kawan Prodem, apakah akan kita diamkan? Apakah  wajib kita lawan sistim otoriter dan KKN? Apakah rakyat bersama kita? Apakah waktunya sudah tiba? Dan apakah yakin rakyat akan menang? Jika ya, mari sama-sama kita menyanyikan lagu ‘Halo-Halo Bandung, Mari Bung Kita rebut kembali !!!,” ujarnya.

 

Tinggal Pilih: Punya Arti atau Tiada Arti

Rizal Ramli menyebutkan bahwa situasi saat ini semakin sulit. Hal itu terjadi karena adanya adu-domba oleh pemimpin yang tidak memiliki satu dalam niat, kata dan tindakan. “Apakah kita tega membiarkan bangsa kita terperosok semakin dalam?,” tanya Rizal Ramli.

Karena itu, Bang RR – sapaan Rizal Ramli – meminta Presiden Jokowi agar dengan sukarela mengundurkan diri. Selanjutnya, Presiden Jokowi diminta untuk menyerahkan kekuasaan kepada pemimpin tangguh, yang memiliki integritas dan kompetensi untuk mengeluarkan Indonesia dari krisis, sehingga Indonesia bisa bangkit dan maju.

Rizal Ramli mengatakan bahwa demokrasi kriminal hari-hari ini telah merusak sendi-sendi demokrasi, tidak setia kepada rakyat dan tujuan kemerdekaan.

“Karena itu, kita akan ubah jadi demokrasi bersih dan amanah -- baru demokrasi bekerja untuk keadilan dan kemakmuran rakyat, bukan untuk bandar dan oligarki,” ujarnya.

Dia mengatakan, tahun 2021 ini, Presiden Jokowi sudah ditinggalkan oleh rakyat dan partai-partai pendukungnya. Padahal masih 3 tahun lagi menuju pergantian pucuk pemerintahan, tahun 2024.

“Pasca Presiden, Jokowi akan power-less, almost nobody. Jika Jokowi ingin tetap punya pengaruh pasca-presiden, maka Jokowi sebaiknya mendukung penghapusan threshold  menjadi 0%. Hanya dengan cara itu, Jokowi punya arti setelah berganti jadi Presiden. (Sekarang Presiden Jokowi) Tinggal pilih: punya arti atau tiada arti,” pungkasnya. (Very)

Loading...

Artikel Terkait