Opini

Rontoknya Kepercayaan Konsumen Terhadap Ekonomi Awal Kuartal II

Oleh : indonews - Kamis, 12/08/2021 17:01 WIB

Gede Sandra, Ekonom Universitas Bung Karno. (Foto: Ist)

Oleh: Gede Sandra*)

INDONEWS.ID -- Rontoknya Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) pada Bulan Juli adalah bukti dari pertumbuhan q2-2021 7,07% hanya ada di statistik, padahal kenyataannya semu. Semu karena angka pertumbuhan 7,07% kemarin merupakan hasil dari efek basis rendah (low base effect). Membuat terjadinya distorsi antara angka statistik dan kenyataan.

Low base effect ini juga terjadi di banyak Negara. Sebut saja Jepang, China, AS, Singapura, Uni Eropa, dan belum lama ini di Filipina. Pertumbuhan ekonomi saat pelonggaran di masa Pandemi ini terlihat seperti melonjak, tapi kemudian kembali ke bawah rata-rata pertumbuhan  selama 20 tahun terakhir.

Contoh. Jepang melompat sangat tinggi ke 22,9 persen di kuartal-III 2020 dan 11,7 persen di kuartal IV-2020. Baru kemudian kembali ke zona resesi minus 3,9 persen di kuartal- I 2021. Perlu diketahui rata-rata pertumbuhan Jepang selama tahun 2001-2020 adalah 0,75 persen. Jadi setelah melompat 22 persen dan 11 persen di atas pertumbuhan rata-ratanya, pertumbuhan ekonomi Jepang kembali di bawah rata-rata bahkan masuk ke zona resesi.

Amerika Serikat juga mengalami lompatan pertumbuhan ekonomi ke 12,2 persen di kuartal-II tahun 2021, dalam periode yang sama dengan Indonesia. Perlu diketahui rata-rata pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat sepanjang tahun 2000-2020 adalah 1,77 persen. Jadi pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam ini melompat 10,5 persen di atas rata-rata saat mengalami efek basis rendah.

Singapura juga alami lompatan pertumbuhan ekonomi ke 14,3 persen pada kuartal II-2021 akibat efek yang sama. Perlu diketahui rata-rata pertumbuhan ekonomi Singapura sepanjang tahun 2000-2020 adalah 4,3 persen. Jadi pertumbuhan ekonomi Singapora melompat 10 persen di atas pertumbuhan rata-ratanya.

Baca juga : Ibu Pertiwi

Sementara negara-negara Uni Eropa juga mengalami lompatan pertumbuhan ekonomi ke 13,2 persen di kuartal ke-II 2021. Perlu diketahui rata-rata pertumbuhan ekonomi Uni Eropa tahun 2000- 2020 adalah 1,34 persen. Jadi lompatan pertumbuhan ekonomi Uni Eropa 11,9 persen di atas pertumbuhan rata-ratanya.

Pertumbuhan kuartal I-2021 China mengalami lompatan hingga 18,3 persen. Tapi setelah efek basis berakhir, di kuartal II-2021 pertumbuhan ekonomi China anjlok ke 7,9 persen. Perlu diketahui rata- rata pertumbuhan ekonomi China sepanjang tahun 2000-2020 adalah 8,67 persen. Jadi setelah melompat 9,7 persen di atas pertumbuhan rata-ratanya, pertumbuhan ekonomi China sekarang sudah menjadi di bawah rata-ratanya.

Tinggal tunggu Indonesia apakah akan mengikuti pola Jepang atau China. Jepang: melompat kemudian kembali resesi, atau China: melompat kemudian tumbuh di bawah rata-rata.

Kemarin kita lihat pertumbuhan melompat ke 7,07% di kuartal II-2021. Rata-rata pertumbuhan Indonesia selama 20 tahun terakhir adalah 4,88 persen. Sangat mungkin pertumbuhan ekonomi kita di kuartal III-2021 akan di bawah rata-rata tersebut. Banyak yang memprediksi akan di kisaran 3 persen. Artinya mengikuti pola China.

Tapi bukan tak mungkin, melihat IKK bulan Juli 2021 yang anjlok lebih dalam dari April 2020 (awal pandemi), Indonesia akan masuk kembali ke zona resesi seperti pola Jepang. Melompat, kemudian kembali resesi.

Wajar bila beberapa hari lalu Presiden Jokowi menyatakan secara terbuka kekhawatirannya akan pertumbuhan ekonomi di kuartal depan.

*) Gede Sandra adalah Ekonom dari Universitas Bung Karno, Jakarta.

Loading...

Artikel Terkait