Nasional

Ratu Kalinyamat Patriot Sejati dari Pesisir Utara Jawa

Oleh : luska - Kamis, 03/03/2022 20:07 WIB


Ratu Kalinyamat Patriot Sejati dari Pesisir Utara Jawa

(De Kranige Dame yang Terlupakan)

Oleh : Letkol Laut (KH/W) Elyah Musarovah

Negara Kesatuan Indonesia sudah sejak lama dikenal sebagai negara Bahari menurut Konvensi Hukum Laut Internasional atau “United Nation
Convention on the Law of the Sea” (UNCLOS) pada tanggal 10 Desember 1982 di Montego Bay, Jamaica,luas wilayah laut Indonesia mencapai
3.257.357 km², dengan batas wilayah laut/teritorial dari garis dasar kontinen sejauh 12 mil diukur dari garis terluar waktu air surut. Sejak abad
16 Masehi, sosok wanita yang dikenal oleh Portugis sebagai seorang pemberani, dari Jepara beliau adalah Ratu Kalinyamat seorang putri Raja
yang sangat gagah berani dan cantik dan telah berani melawan Portugis juga sebagai seorang penguasa Jepara.

Ratu Kalinyamat adalah seorang tokoh wanita yang sangat terkenal. Dia tidak hanya berparas cantik, tetapi juga berkepribadian "gagah berani" Portugis menyebutnya sebagai De Kranige Dame yang berarti Seorang Wanita Pemberani. Kebesaran Ratu Kalinyamat pernah dilukiskan oleh penulis Portugis Diego de Couto, sebagai Rainha de Japara, senhora
paderosa e rica yang berarti Ratu Jepara, seorang wanita kaya dan sangat berkuasa, dikarenakan selama 30 tahun kekuasaannya ia telah berhasil
membawa Jepara ke puncak kejayaannya (Diego de Couto, 1778-1788).

Ratu Kalinyamat adalah tokoh wanita Indonesia yang sangat penting peranannya pada abad ke-16, peranannya mulai menonjol ketika terjadi perebutan tahta dalam keluarga Kesultanan Demak. Ia menjadi tokoh sentral yang menentukan dalam pengambilan keputusan, di samping memiliki karakter yang kuat untuk memegang kepemimpinan, ia memang menduduki posisi strategis selaku putri Sultan Trenggana, Raja Demak ketiga. Sultan Trenggana adalah putra Raden Patah, pendiri Kesultanan
Demak. Selama 30 tahun berkuasa, Ratu Kalinyamat telah berhasil membawa Jepara kepada puncak kejayaan, dengan armada lautnya yang sangat tangguh, Ratu Kalinyamat pernah dua sampai tiga kali menyerang Portugis di Malaka. Walaupun telah melakukan taktik pengepungan selama tiga bulan terhadap Portugis, ternyata ekspedisi tersebut mengalami kegagalan, dan pada akhirnya kembali ke Jawa. Seorang pemimpin ekspedisi militer Ratu Kalinyamat ke Malaka.

Ratu Kalinyamat adalah bukti seorang patriot wanita sejati yang begitu mencintai negerinya dari penjajahan Portugis, hal itu ia tunjukan
dengan menolak dan mengusir Kapten Fransisco De Lopez yang diutus Portugis guna menawarkan kerja sama dengan Jepara, pada tahun 1550 M, Sultan Johor Alauddin Riayat Syah II meminta bantuan kepada Ratu Kalinyamat untuk mengusir Portugis dari Malaka. Setahun kemudian Sang
Ratu mengirim 4.000 tentara dan 40 kapal perang menuju Malaka.

Akhirnya aliansi Kesultanan Johor-Jepara berhasil mengumpulkan 200 kapal perang untuk merebut Malaka. Perangpun pecah. Pasukan Gabungan
Johor – Jepara berhasil merebut Malaka. Namun Portugis segera membalasnya sehingga sebagian besar pasukan gabungan dapat dipukul mundur, hanya pasukan Jepara yang tetap bertahan, namun kemudian mundur. Pertempuran itu mengakibatkan 2000 pasukan Jepara gugur.
Selain itu perbekalan beserta persenjataan Jepara jatuh ketangan Portugis. Pasukan Jepara kembali ke Jawa dengan mebawa kegagalan akan tetapi
dalam perjalanan pulang, datang badai sehingga 20 kapal Jepara terdampar dan menjadi jarahan Portugis. Namun Ratu Kalinyamat pantang menyerah. 

Pada tahun 1573, Sultan Aceh Ali Riayat Syah atau dari Aceh mengajaknya untuk kembali menyerang Portugis di Malaka, namun karena armada Jepara terlambat datang, serangan armada Aceh itu tidak berhasil.
Pada bulan Oktober 1574 Ratu Kalinyamat mengirimkan armada peran Jepara dalam jumlah besar, terdiri dari 300 buah kapal layar yang
diantaranya terdapat 80 kapal berukuran besar. Armada laut itu mengangkut 15.000 prajurit pilihan dilengkapi dengan persenjataan meriam dan mesiu serta perbekalan lengkap lainnya. Penyerangan besar besaran itu kembali gagal. Pasukan tempur Jepara tidak mampu menembus blokade Portugis. Apalagi setelah enam kapal dari Jawa yang membawa logistik makanan berhasil di rebut Portugis, blokade laut angkatan laut Jepara yang sudah bertahan 3 bulan akhirnya mulai melemah. Kondisi tersebut membuat pasukan Jawa mundur dengan meninggalkan korban yang tidak sedikit. Hampir duapertiga kekuatan Jepara rontok di Malaka. 

Kegagalan Pasukan Jawa menundukan Portugis karena kalah dari sisi tekhnologi. Armada laut portugis didukung oleh kapal-kapal perang yang lebih baik dari pembuatannya. Juga ukuranya yang lebih besar dari kapal-kapal perang Jepara.Tahun 1579 M Ratu Kalinyamat wafat. Penggantinya adalah Pangeran Aria atau disebut juga Pangeran Jepara.

Sayang, penggantinya ini tidak secakap Ratu Kalinyamat. Jepara perlahan￾lahan merosot. Tahun 1599 M, Jepara akhirnya ditundukan Mataram.
Ratu Kalinyamat adalah merupakan gambaran sosok wanita yang tidak dibatasi oleh tradisi aktivitas dan peranan Ratu Kalinyamat memberikan suatu bukti bahwa tidaklah benar jika wanita Jawa dari kalangan bangsawan tinggi sangat dibelenggu oleh kungkungan feodalisme,
sejarah Ratu Kalinyamat jelas membuktikan bahwa wanita kalangan bangsawan justru mempunyai peluang yang lebih besar untuk tampil guna memainkan peranan penting yang sangat dibutuhkan, baik dalam bidang politik maupun ekonomi, peluang untuk dapat melakukan peranan penting dalam bidang politik karena didukung oleh wewenang tradisionalnya, terutama karena keturunan begitupun dengan Sang Patriot Ratu
Kalinyamat telah melakukan aktivitas-aktivitas nyata bagi negaranya dan rela mengorbankan jiwa raganya demi kedaulatan negri tercinta.

Daftar Pustaka. 
1. Babad Demak II. 1981. Transliterasi Terjemahan Bebas. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. Graaf, H.J. 1986. Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke
Mataram. Terjemahan Grafitipers dan KITLV. Jakarta: Grafitipers. Kartodirdjo, Sartono (ed.). 1977.
2. Sejarah Nasional Indonesia Jilid III. Jakarta: Balai Pustaka. _______. 1987. Pengantar Sejarah
Indonesia Baru: 1500-1900 Dari Emporium Sampai Imperium. Jilid I. Jakarta: Gramedia. Meilink,
Roeloffsz. 1962. Asia Trade: Asian Trade and European Influence in the Indonesia Archipelago
between 1500 and about 1630. The Hague : Martinus Nijhoff.

TAGS : Wayang

Artikel Lainnya