https://vinosdeabona.com/slot-gacor/ https://www.tpcd.org.tr/slot-deposit-pulsa/ https://healthcare.skho.moph.go.th/labor-care/uploads/slot-deposit-pulsa/ https://seoscaning.com/slot-deposit-dana/ http://www.info-secur.ru/old/slot-deposit-pulsa-tanpa-potongan/ http://academia.uniminuto.edu/becassp/notas/jasabola/

Nasional

Bicara Bio-Teknologi sebagai Solusi Pangan, LaNyalla Ingatkan Pentingnya Orientasi

Oleh : Marsi Edon - Kamis, 11/08/2022 20:30 WIB

Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti.(Foto:Dok.DPD RI)

INDONEWS.ID - Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti memandang orientasi pengembangan bioteknologi sangat penting, sebagai bagian inti mewujudkan ketahanan pangan. Karena membangun kedaulatan pangan, mutlak dilakukan melalui kedaulatan yang kita miliki.
 
“Artinya, tidak mungkin kita membangun kedaulatan pangan, dengan komponen utama pupuk kimia, yang salah satu unsurnya masih harus kita impor. Itu sama saja artinya kita membangun kedaulatan dalam kondisi kita tidak berdaulat,” tandasnya.
 
Hal itu disampaikan LaNyalla secara virtual dalam InAGRO EXPO & Business Forum 2022
yang diselenggarakan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Kamis (11/8/2022) di Surabaya.
 
Ditambahkan LaNyalla, konsepsi luhur yang terdapat di Pancasila, yang merupakan rumusan para pendiri bangsa, sebenarnya sudah cukup jelas. Yaitu kita menanam apa yang bisa tumbuh. Dan kita memakan apa yang ada di sini. Ini harus menjadi orientasi pembangunan kedaulatan pangan kita.
 
Oleh karena itu, LaNyalla berharap Indonesia segera mengaplikasikan program rekayasa genetika dengan pendekatan bioteknologi dengan target hasil yang bisa dikembangkan, tahan terhadap perubahan iklim, aman dikonsumsi, serta berdampak positif terhadap lingkungan.
 
“Dan yang terpenting semua komponen tumbuh kembang serta sarana produksi ada di dalam negeri, karena bahan bakunya juga ada di dalam negeri. Jangan mengulang kesalahan masa lalu, ketika mengejar tingkat produksi dengan menggunakan pupuk kimia dan pestisida sebagai jalan keluar,” tandasnya. 
 
Bagi LaNyalla, kebijakan tersebut justru membelenggu Indonesia. Karena selain merusak lingkungan, ada komponen utama yang harus kita impor untuk menjaga produksi pangan melalui pupuk kimia, yang sebagian komponennya, seperti phospat masih harus impor.

Lebih dari itu, dampak pestisida dan pupuk kimia yang larut ke tanah dan terbawa air  hingga ke laut, memperburuk kualitas tanah, terumbu karang serta pencemaran pesisir. Sehingga berdampak terhadap sektor perikanan Indonesia.
 
“Dampak multi dimensi ini dalam jangka panjang membuat bangsa ini tergantung kepada impor beberapa komoditas pangan. Inilah yang menguntungkan para pemburu rente dari impor. Sehingga kondisi ini berlarut hingga hari ini,” urainya. 
 
Dijelaskannya, pangan bisa menjadi pemicu perang dan ketegangan kawasan di masa mendatang. Apalagi krisis pangan dunia diperkirakan terjadi menjelang tahun 2050 mendatang. 
 
"Bahkan Badan Pangan Dunia (FAO) meramalkan akan terjadi peningkatan kebutuhan pangan sebanyak 60 persen di tahun tersebut, agar penduduk dunia tidak terpuruk dalam kemiskinan dan kelaparan. Sementara pada saat itu, Indonesia juga mengalami ledakan jumlah penduduk usia produktif, mencapai 70 persen populasi dari total penduduk di Indonesia," katanya.
 
Menurut Senator asal Jawa Timur itu, bioteknologi sudah ditempuh oleh banyak negara sebagai peta jalan untuk memperkuat ketahanan pangan.
 
"Kita ketahui bahwa isu ketahanan dan kedaulatan pangan merupakan isu penting selain energi hijau dan pemanasan global serta lingkungan. Dan secara teori, bioteknologi menjadi jawaban atas perubahan iklim global, krisis air, sekaligus pengurangan pestisida dan emisi karbon dunia. Itu jika orientasi bioteknologi dibaurkan dengan program lingkungan hidup dan energi hijau," tukas dia.
 
Selain itu, orientasi pola pangan Indonesia juga harus dikembalikan kepada keunggulan komparatif bangsa ini, sebagai bangsa kepulauan dan maritim.   

"Tidak seperti sekarang ini, kita sebagai bangsa maritim yang seharusnya lebih banyak mengkonsumsi ikan justru banyak konsumsi daging sapi. Akibatnya kita impor daging. Padahal kita tidak punya kedaulatan vaksin. Jadi begitu terjadi wabah penyakit hewan ternak, negara ini tergopoh-gopoh dan dengan alasan darurat, segera menunjuk langsung beberapa perusahaan untuk melakukan impor vaksin untuk hewan ternak," imbuh dia. 
 
Alumnus Universitas Brawijaya Malang itu menambahkan, penting bagi bangsa ini untuk menentukan orientasi pengembangan bioteknologi, karena Indonesia di masa depan harus menjadi harapan hidup penduduk dunia dari oksigen melalui kekayaan hutan dan menjadi lumbung pangan dunia melalui kesuburan dan keunggulan komparatif alamnya. 
 
Hadir dalam acara bertema “Synergy of National Economic Recovery Program through Strengthening Food Sovereignty and Developing Competitive Agricultural Product” itu Ketua Umum KADIN Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, perwakilan Task Force Perdagangan dan Investasi B20, Hari Hanawi, Wakil Menteri Perdagangan RI Jerry Sambuaga, Perwakilan PT Pupuk Indonesia, Surahmat Wiji Widodo, Ketua Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), HM. Yadi Sofyan Noor, dari Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Prof Elok Zubaidah dan para tamu undangan.*

Loading...
TAGS : LaNyalla

Artikel Terkait