https://vinosdeabona.com/slot-gacor/ https://www.tpcd.org.tr/slot-deposit-pulsa/ https://healthcare.skho.moph.go.th/labor-care/uploads/slot-deposit-pulsa/ https://seoscaning.com/slot-deposit-dana/ http://www.info-secur.ru/old/slot-deposit-pulsa-tanpa-potongan/ http://academia.uniminuto.edu/becassp/notas/jasabola/

Opini

Saatnyan Sistem Transportasi KA di Indonesia Menggunakan Lokomotif Listrik

Oleh : Marsi Edon - Minggu, 18/09/2022 14:02 WIB

Ilustrasi Sistem Transportasi KA.(Foto:Istimewa)

Oleh: Atmonobudi Soebagio

INDONEWS.ID - Sejarah perkeretaapian di Indonesia dimulai sejak pencangkulan pertama tanah bagi jalur KA Semarang – Solo/Yogya di desa Kemijen oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Mr. L.A.J. Baron Sloet van de Beele tanggal 17 Juni 1864. Kereta Rel Listrik (KRL) yang saat ini dioperasikan oleh KAI Commuter, anak perusahaan PT. KAI, telah beroperasi di wilayah Jakarta sejak tahun 1925 dan kini melayani rute komuter Jabodetabek dan Solo - Yogyakarta.

Panjang total rel KA di Jawa adalah 8357 km, namun yang beroperasi hanya 5107 km. Sistem KA yang melayani jalur rel tersebut mengangkut penumpang sebanyak 86.329.383 orang (data 2021, Sem.1). Sedangkan jumlah barang yang dikirim lewat jasa tersebut adalah sebesar 3.753 ribu ton. Dari besarnya data tersebut, tampak jelas bahwa sistem transportasi darat yang dilayani oleh kereta api sangat vital dan strategis dalam mendukung kegiatan perekonomian Indonesia, khususnya di Jawa.

Minyak bumi Indonesia semakin berkurang cadangannya dan membuat Indonesia tidak lagi berstatus net oil importer, karena jumlah yang diimpor lebih besar daripada yang diekspor. Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa jumlah impor minyak dan gas (migas) pada Februari 2022 mengalami peningkatan sebesar 30,19% menjadi US$2,90 miliar dari sebelumnya yang masih sebesar US$ 2,23 miliar pada Januari 2022, dalam month to month (mtm). Kelangkaan BBM dalam negeri tersebut tidak hanya berpengaruh pada transportasi yang menggunakan kendaraan pribadi, melainkan juga pada kelancaran transportasi umum; baik di darat, laut dan udara.

Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan subsidi BBM bagi masyarakat kurang mampu, meskipun belum menjangkau seluruhnya. Subsidi tersebut tidak mungkin diberikan secara jangka panjang karena akan semakin membebani perekonomian nasional.

Dalam konteks perkeretaapian, sejauh ini lokomotif penggerak rangkaian gerbong penumpang maupun barang di Indonesia masih mengandalkan lokomotif bermesin diesel. Sekiranya sistem transportasi KA yang mengandalkan lokomotif diesel masih tetap dipertahankan, maka kebutuhan BBM solarpun akan bertambah besar dan semakin membebani APBN.

Energi listrik adalah energi yang bersih dan dapat dikirimkan dengan dukungan sistem transmisi daya listrik ke tempat lain yang berjarak ribuan kilometer. Di samping itu, energi listrik dapat dibangkitkan oleh generator atau penghasil listrik yang menggunakan berbagai sumber daya alam berbasis energi terbarukan dan ramah lingkungan, seperti: energi foton (matahari), angin, geothermal, bahkan energi dari laut yang berupa energi gelombang maupun arus laut.

Gas hidrogen, yang juga merupakan bahan bakar ramah lingkungan juga dapat dihasilkan dari proses elektrolisa skala industri dengan memanfaatkan air yang berasal dari laut kita yang luasnya 62% luas seluruh wilayah Indonesia. Kini kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar gas hidrogen semakin popular di negara-negara maju karena lebih ramah lingkungan. Demikian juga dengan kendaraan bermotor listrik.

Penggunaan lokomotif KA berbasis mesin diesel tidak lagi dapat dipertahankan dalam situasi kelangkaan BBM yang terjadi saat ini, dan diperkirakan akan berlangsung lama. Sebaliknya, penggunaan lokomotif berbasis motor listrik akan jauh lebih ekonomis karena menggunakan energi listrik yang bisa diperoleh lewat jaringan listrik berbasis energi baru dan terbarukan seperti disebutkan tadi. Untuk itu, yang perlu segera dibangun adalah infrastruktur saluran kawat listrik di sepanjang jalur kereta api.

Sekiranya tersedia lahan terbuka maupun atap di stasiun-stasiun KA cukup luas, maka dapat dimanfaatkan sebagai tempat meletakkan PLTS Atap (rooftop PV cells). Adanya PLTS tersebut maka akan mengurangi ketergantungan PT. KAI pada suplai listrik dari PLN. Semoga usulan ini dapat dipertimbangkan oleh Pemerintah, khususnya lewat kerjasama antara Kementerian Perhubungan RI dan Kementerian ESDM RI.*

Loading...
TAGS : Kereta Api

Artikel Terkait