Nasional

Rizal Ramli Ungkap Ciri `Dendam yang Positif`

Oleh : very - Jum'at, 25/11/2022 09:29 WIB

Ekonom senior, Dr Rizal Ramli dalam dialog FNN Hersubeno Arif. (Foto: Hasil tangkapan media)

 

Jakarta, INDONEWS.ID – Tokoh nasional, Rizal Ramli mengungkapkan kekesalannya ketika para buzzeRp menyerang dirinya terkait cuitan “Nabok Nylilih Tangan” yang diunggahnya beberapa waktu lalu.

Ekonom senior itu mengatakan, setelah memposting cuitan tersebut, dirinya hampir tidak bisa membuka twitter karena terlalu penuh dengan aneka komentar baik yang memuji maupun yang mengeritik dirinya. Namun, katanya, ada yang menarik dari komentar para buzzeRp tersebut.

“Kalau saya mencuit itu biasa-biasa saja komentar. Kalau itu terkait dengan bos maka serbuannya banyak. Bisa mencapai 6 ribu komentar. Buzzer maki-maki sehingga saya tidak bisa membuka twitter,” ujarnya dalam Podcast FNN (Forum News Network), Hersubeno Point yang dipantau di Jakarta, Jumat (25/11).

Mantan Menko Ekuin di era Presiden Gusdur ini mengatakan ada beberapa ciri komentar dari para buzzeRp tersebut. Pertama, mereka itu miskin fakta. Kedua, miskin logika, dan ketiga, miskin kosa-kata.

“Apa tanda buzzeRp, pertama miskin fakta, kedua miskin data dan ketiga, miskin kosa-kata karena dia memakai kosa-kata yang biasa digunakan adalah kosa-kata bos-nya seperti Rizal Ramli itu iri hati, tidak ada prestasinya, atau Rizal Ramli dendam,” katanya.

Mantan Menko Kemaritiman ini mengatakan, padahal dirinya tidak pernah dendam terhadap pihak siapapun. Karena semua kritikannya adalah kritikan terhadap sistem dan bukan kritik terhadap pribadi tertentu. “Nothing itu personal,” katanya.

Mantan Kepala Bulog itu mengatakan, “dendam” itu dapat diubah menjadi hal yang positif. Misalnya, Bang RR – sapaan Rizal Ramli- mencontohkan dirinya yang sudah menjadi anak yatim piatu sejak usia 6 tahun. Sejak kecil, Bang RR mengaku bahwa hidupnya sangat susah. Karena itu, dia tidak suka kemiskinan dan selalu ingin mengubah rakyat Indonesia tidak miskin. Dia dendam terhadap kemiskinanan karena itu ia memperjuangkan agar rakyat kita tidak miskin dan bisa hidup sejahtera. 

Karena itu, mantan Penasihat Ekonomi Fraksi ABRI di MPR/DPR RI itu sejak mahasiswa memperjuangkan kehidupan rakyat miskin. Sejak Orde Baru misalnya, Rizal Ramli memperjuangkan “Wajib Belajar 6 Tahun”.

Kemudian di era Reformasi, dia dan kawan-kawan organisasi buruh seperti KSPI memperjungkan BPJS dan bersama perangkat desa memperjuangkan UU Desa sehingga desa mendapat alokasi dana sebesar 1 miliar lebih.

“Inilah yang disebut dengan dendam l positif, yaitu mengubah dendam menjadi sesuatu yang bersifat positif, yang bermanfaat untuk kesejahteraan rakyat. Jadi bukan hanya sekadar dendam terhadap orang per orang. Bukan personal," katanya.

Sebelumnya, Bang RR mengeritik teknik menggunakan tangan orang lain yang oleh aktivis pergerakan Rizal Ramli disebut dengan “Nabok nyilih tangan”.

“Nabok nyilih tangan adalah teknik meminjam tangan orang lain untuk gebukin musuh,” ujarnya dalam akun media sosialnya, pada Minggu (20/11).

Para tokoh tersebut, katanya, berpura-pura tidak bereaksi. Namun mereka menusuk dari belakang.

“Pura-pura bijak tidak bereaksi, tapi kerahkan InfluenceRp dan BuzzeRp berbayar (pakai anggaran atau bandar) untuk gebukin tokoh-tokoh yang berbeda pendapat. Walaupun signal sempat keceplos ‘Tak Gebuk, Tak Gebuk’,” ujar ekonom senior tersebut.

Nabok nyilih tangan ini juga diungkapkan oleh politikus senior, Panda Nababan dalam sebuah acara di kanal YouTube Karni Ilyas, yang tayang beberapa waktu lalu. Wartawan senior tersebut membeberkan “true story” para tokoh nasional dalam pentas perpolitikan nasional.

Salah satu hal yang menarik disimak yaitu bagaimana kemampuan para tokoh tersebut untuk “membalas lawan politiknya”, mulai dari cara yang halus hingga cara yang “kasar”.

“Dalam track record hidup mereka (para tokoh tersebut, red.) punya bakat untuk membalas, dan itu ngeri,” ujar politisi senior itu memulai pembicaraan.

Bang Panda – sapaan Panda Nababan – memulai contoh dari tokoh  Surya Paloh. Panda mengatakan bahwa dirinya telah puluhan tahun bersama Surya Paloh.

“Pada tahun 1998 ketika Panglima Safrie mau memeriksa dirinya (Surya Paloh, Red.) dia ingat seumur hidupnya. Pembalasannya yaitu tidak ada berita terkait Safrie di Media Indonesia maupun Metrotv. Dan ini adalah ‘true story’,” ujarnya.

Demikian juga sikap Surya Paloh kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang memerintahkan Jaksa Agung untuk memeriksa pemilik Media Group tersebut. Namun, setelah muncul reaksi dari Surya Paloh, akhirnya SBY menugaskan Sudi Silalahi untuk memanggil Jampdsus untuk menghentikan rencana tersebut.

Lain lagi dengan Presiden Jokowi. Menurut Panda, ada kesamaan sikap Jokowi dalam “membalas para lawan politiknya”.

Panda mengatakan, dalam acara ulang tahun (HUT) TNI ke-72 di Cilegon, Banten, Presiden Jokowi juga mengikuti acara tersebut. Sayangnya, Presiden Jokowi tiba di lokasi setelah acara selesai. “Presiden Jokowi tidak bisa mengikuti acara HUT TNI tahun 2017 tersebut. Pak Jokowi harus jalan kaki, kemudian harus naik ojek, dan jalan kaki lagi menuju tempat acara. Demikian pula istrinya, harus jalan kaki, naik ojek dan jalan kaki hingga tiba di tempat acara. Dan mereka tidak setelah acara selesai,” ujarnya.

Panglima TNI (waktu itu, red) Gatot Nurmantyo yang menyambut Presiden Jokowi bersama Tito Karnavian, mengatakan “Pak Presiden, rakyat sangat mencintai TNI, buktinya mereka membludak dalam perayaan ini hingga memenuhi jalan,” ujar Panda menirukan pernyataan Gatot Nurmantyo.

Diam-diam kemudian, Presiden Jokowi menugaskan Pratikno untuk menelepon Kapolda Banten, yang masih dijabat oleh Listyo Sigit Prabowo untuk menanyakan peristiwa tersebut. Dan, Listyo menjawab “Mohon maaf Pak, kami tidak dilibatkan,” ujaranya.

Kemudian, ditelepon juga Kakorlantas, dan juga mendapatkan jawaban yang sama bahwa pihaknya tidak dilibatkan.

Tibalah saatnya pembalasan Presiden Jokowi. Satu bulan kemudian, di acara pernikahan puteri presiden, Kahiyang Ayu. Di samping Panda, duduk ekonom senior Rizal Ramli.

Bang RR – sapaan Rizal Ramli – mengatakan pada Panda, “Panda, Soeharto kan sadis. Namun yang satu ini lebih sadis lagi".

Kemudian saya bilang, “Kau ngomong apa lagi Rizal”.

“Coba abang lihat, di mana Pak Gatot Nurmantyo, Panglima TNI,” tanya Rizal Ramli.

Ternyata, Panglima TNI itu duduk di antara para undangan dengan para anggota DPR, dan Staf Kedutaan. Sementara para koleganya seperti Tito Karnavian, Ryamizard Ryacudu, Luhut B Pandjaitan, dan Pratikno mengenakan pita mawar merah karena mereka panitia.

Tiba giliran mau salaman, karpet merah tidak bisa dilewati oleh Gatot Nurmantyo. Dia akhirnya berbaur bersama para undangan untuk memberi salam kepada anak presiden.

Giliran waktu pulang, mobil Gatot tidak bisa masuk, karena itu dia akhirnya naik bus. Istri Gatot juga duduk di kursi plastik. Saya kemudian pada Pak Airlangga Hartarto, “Pak itu istrinya panglima duduk di kursi plastik, lho”.

Lima bulan kemudian, Gatot Nurmantyo dicopot dari jabatan sebagai Panglima TNI. Dan jagonya Jokowi, dia memasang Pak Moeldoko (Kepala Staf Kepresidenan) dan diberi peran pada acara pernikahan tersebut.

“Itu adalah true style dari pada Jokowi,” kata Panda.

 

 

Cerita tentang Andong

Belum lagi cerita tentang Prabowo Subianto pada tahun 2014. Waktu itu, Prabowo adalah Calon Presiden, yang adalah pesaing Jokowi.

“Dalam sebuah acara makan di sebuah restoran di Hotel Grand Hyatt yang dihadiri oleh Prabowo, Luhut, Hasyim, Hotma Pandjaitan, Prabowo ngomong ke Luhut, dia bialng, Bang kenapa abang bantu tukang Andong itu. Tidak mungkin dia menang. Bagaimana bisa jadi presiden tukang andong. Waktu itu memang pemenang Pilpres belum diumumkan. Luhut bilang, ‘sembarang saja kau. Dia lebih jago dari kau’”.

Berselang lama kemudian – setelah Presiden Jokowi dilantik - Panda Nababan bertanya, kepada Jokwi. “Mas sudah dengar cerita Prabowo dengan Bang Luhut?”. Jokowi bilang, “oh sudah. Andongnya sudah saya suruh kirim”, jawab Jokowi.

“Andong yang mana?” tanya Panda.

“Itu andong yang waktu kirab itu,” jawab Jokowi.

Jawaban itu di luar pikiran Panda.

Padahal, Presiden SBY – waktu itu – sudah mempersiapkan acara pisah-sambut Presiden di Istana usai dari pelantikan Presiden Jokowi di Gedung DPR/MPR.

“Apa yang terjadi usai pelantikan tersebut? Jokowi berhenti di Bundaran HI, dan dia naik andong, keliling monas selama 3 jam. Tidak ada urusan untuk memikirkan acara di Istana. Ini hanya mau menunjukkan bahwa jika Prabowo kalau menonton televisi maka dia melihat tukang andong,” ujar Panda.

Kemudian cerita Panda tersebut memantik pertanyaan dari salah satu narasumber, Ray Rangkuti. Dia menanyakan “lantas mengapa Prabowo bisa masuk ke dalam kabinet Jokowi?”

Menurut Panda, masuknya Prabowo ke dalam kabinet karena terdorong oleh Covid-19 yang juga menyerang Indonesia waktu itu. “Jadi, kasus tersebut merupakan ‘blessing in disquise’. Kita bisa bayangkan apa yang terjadi jika pandemi tersebut dihadapi dengan situasi yang kacau balau karena masih ada perseteruan antara kadrun dan cebong. Jika yang terjadi demikian maka betapa rapuhnya bangsa kita ini. Saya ikutlah dalam proses di bangsa ini,” ujar Panda.

Peristiwa politik tersebut membuat saya berpikir bahwa “dia (Presiden Jokowi, red) bisa menaklukkkan para musuh politiknya tanpa ada tukang pukul. Jadi, kalau Soeharto dia memiliki Benny Moerdani, Soedomo, dan Yoga Sugama (sebagai tukang pukul), maka Jokowi tidak punya. Dia dapat menaklukkan lawan-lawan politiknya”.

Saat ini, hampir semua menteri yang hendak mencalonkan diri menjadi Capres, mengatakan “tergantung presiden”.

Panda mengatakan, pada tahun 2014 lalu Hary Tanoe membantu dalam pencalonan Presiden Jokowi namun mengaku tidak mendapatkan cuan. Akhirnya Presiden Jokowi mengangkat puteri Hary Tanoe, Angela Tanoesoedibjo menjadi Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Presiden Jokowi akhirnya bisa ngomong lepas pada acara HUT Partai Gerindra. Termasuk juga bisa ngomong lepas pada acara di Partai Golkar, karena partai tersebut mendapat dua jabatan Menteri Koordinator, yaitu Menko Perekonomian dan Menko Kemaritiman dan Investasi. ***

Artikel Terkait